Catatan Kecil dari Percakapan Prof Hooykaas dengan Pedanda Siwa Sang Gde Made Sidemen, Griya Dlod Peken, Intaran, Sanur, Bali.
1. Prof Hooykaas berkunjung ke Griya Gunung Sari, Pliatan,
Ubud, di tahun 1959. Pedanda Istri di sana memberikan buku bergambar yang
digambar oleh Ida Bagus Made Poleng dari Tebes Aya, Ubud. Gambar yang diberikan
tidak berisi keterangan, namun kumpulan gambar itu adalah mudra Pedanda Buddha,
yang kemudian dikonsultasikan ke Pedanda Sang Gde Jlantik. Prof Hooykaas
mengakui ia mendapatkan penjelasan mantra bagi beberapa gambar mudra tersebut.
2. Pada tahun 1967 kembali Hooykaas ke Bali. Ia mendapat
pinjaman gambar mudra dari griya yang lain, yaitu dari Griya Dalem Setra,
Batuan (Gianyar). Hooykaas menyebutkan: "Kualitas gambarnya tidak sebaik
gambar dari Griya Gunung Sari". Setahu saya kemungkinan yang dimaksud
sebagai Ida Bagus Made Poleng dari Tebes Aya, Ubud, adalah seniman besar. Tentu
saja, siapa yang bisa menandingi karya Ida Bagus Made Poleng, sang seniman
besar itu? Menariknya, Hooykaas pernah terbakar rumahnya di Belanda, dan semua
salinan dari mudra dari Griya Gunung Sari (Pliatan, Ubud) dan Griya Setra Dalem
(Batuan), keseluruhnya terbakar. Hooykaas harus kembali melihat aslinya dari
kedua griya tersebut, dan yang selanjutnya ia pakai dan lebih menarik baginya
adalah yang dari Griya Gunung Sari. Hooykaas harus melakukan kajian dan
cross-checking terhadap dua sumber tersebut, tentunya, dengan dibantu
pendamping riset kepercayaannya Ratu Ktut, panggilan akrab Hooykass terhadap I
Gusti Ngurah Ktut Sangka, dari Jero Gede Kerambitan (sekarang Puri Gede
Kerambitan).
3. Prof Hooykaas mencatat pada tahun 1967 ia dan Ratu Ketut,
mendapat batuan dari Padanda Griya Kawan, Boda Kling, yang memperagakan semua
gerak mudra Buddha yang menjadi warisan tradisi di griya Buddha.
4. Mudra Buddha lain, yang disebut sebagai koleksi ke 3,
didapat dari foto-foto peragaan gerak tangan (Pedanda) Sang Gede Nyoman
Jelantik. Jumlahnya disebut seratus gerak tubuh. Koleksi ini ditambah lagi
dengan sejumlah foto yang sama foto dari mudra yang dibuat oleh pedanda istri
dari Griya Jadi (Tabanan).
5. Mudra yang diteliti oleh Ratu Ketut dan Hooykaas itu
menemukan beberapa perbedaan dari empat griya yang dijadikan rujukan studi
mereka terhadap mudra Buddha.
6. Perjalanan Hooykaas mempelajari kependetaan di Bali, baik
Siwa dan Buddha, mengantarnya berjumpa dengan (Pedanda Siwa) bernama Sang Gde
Made Sidemen, Griya Dlod Peken, Intaran, Sanur, Bali. Percakapan yang menarik
adalah ketika Hooykaas mendapatkan penjelasan dari beliau bahwa praktek mudra
yang kemudian teknik memakai 'paragi' atau 'salimpet' (selendang) dalam ritus
pedanda Buddha adalah merujuk pada JARAYU-TANTRA.
7. Penjelasan ini didasari dengan adanya perbedaan sakramen 'pamand(i)hyangan' atau pembuatan air suci menurut tradisi Buddha dan Siwa. Praktek Surya Sewana Siwa berbeda dengan Buddha terlihat dalam proses 'pamand(i)hyangan', dengan satu 'ngecip tirta' sebagai 'Siwa' dan satu lagi dengan 'paragi'. Menjadi pertanyaan buat Hooykaas kenapa seperti itu? Disanalah beliau (Sang Gde Made Sidemen, Pedanda Siwa) memberikan informasi bahwa itu merujuk pada praktek JARAYU-TANTRA.
8. Ketika itu beliau (Sang Gde Made Sidemen, Pedanda Siwa)
disebutkan telah mencapai usia 93 tahun. Mengkoleksi sekitar 200 lontar
penting. Dan Hooykaas menyatakan gagal menemukan referensi terkait apa itu yang
dimaksud sebagai JARAYU-TANTRA.
9. Praktek mudra, sakramen 'pamand(i)hyangan', dan 'paragi'; menurut Hooykaas ini bisa diperbandingkan dengan 'tali pusar'. 'Paragi' yang dipakai untuk sakramen pemberkatan air ketika 'pamand(i)hyangan' itu seperti tali pusar yang memberkan asupan makanan pada fetus. Hooykaas menanyakan ke empat griya Buddha di atas. Dan tak seorang berani membenarkan, juga tak berani menyalahkan. Semuanya tidak memberi penjelasan tuntas, karena tiadanya penjelasan atas praktek tersebut. Hanya, menurut Hooykaas, beliau (Sang Gde Made Sidemen, Pedanda Siwa, dari Griya Dlod Peken, Intaran, Sanur) yang menyebutkan itu merujuk pada JARAYU-TANTRA.
10. Hooykaas mengaku gagal menemukan referensi terkait
JARAYU-TANTRA. Apakah masih ada lontar atau sesorang di Bali yang masih
mewarisi penjelasan praktek tersebut? Secara tradisi praktek ini masih
dijalankan. Masih diturunkan dalam padiksan, dari guru kepada sisya yang
diinisiasi sebagai pendeta Buddha, di Bali. Praktek ini ibarat metode, tapi
kehilangan penjelasan teorinya.
11. Apa itu Jarayu? Saya menelusuri kata ini, dan disebutkan
dalam beberapa literatur.
12. Jarāyu (जरायु)
ditemukan sekali di Atharvaveda dalam arti 'kulit ular'. Biasanya ini
menunjukkan penutup luar (chorion) dari embrio, sebagai lawan dari ulva,
penutup dalam (amnion).
13. Istilah Jarayu punya sinonim yaitu: Apara (placenta)
atau di Bali dikenal sebagai 'ari-ari'. Apara/Jarayu menunjukkan tiga makna:
'peritoneum', membran dan membran janin. Istilah ini menunjukkan membran janin,
disebutkan sama karena plasenta dan membran janin keduanya dikeluarkan
bersama-sama.
14. Saya terpancing berpikir: Jika Jarayu punya sinonim
'Apara', apakah ini merujuk kemudian pada tradisi Trika dalam Tantra? Parā,
Aparā and Parāpara? Ini mungkin terlalu jauh karena ini bagian dari praktek
Trika dalam Tantra. Sekalipun cukup menarik untuk memikirkan atau mengkaitkan
praktek 'paragi' pendeta Buddha dengan konsep pernapasan mendalam 'Prana' dan 'Apana'
dalam tradisi Trika.
15. Dalam text Samhita istilah 'jarayu' bukan hanya merujuk
pada plasenta atau ari-ari, tapi termasuk di dalamnya darah dan apa yang
menyertai bayi ketika lahir. Apakah yang dimaksud JARAYU-TANTRA itu ajaran
Tantra berbasis CATUR-SANAK? Dengan kata lain: KANDA PAT?
16. Kelahiran bayi, menurut ajaran Kanda Pat, terutama Kanda
Pat Rare, disertai oleh empat saudara kosmiknya, yang disebut dengan 'Catur
Sanak'. Keempatnya berwujud 'sekala' (kasat mata) namun sekaligus punya energi
atau kekuatan serta perwujudan 'niskala' (tidak kasat mata). Kanda Pat Rare
menyebutkan bahwa saudara kosmik sang bayi adalah: 1. YEH NYOM (air ketuban),
yang menjadi 'media' cairan semenjak kehamilan 3 bulan semakin membanyak
jumlahnya sampai detik-detik kelahirannya, sang fetus bayi dalam kandungan
seperti berenang dalam cairan ketubab (YEH NYOM) dan menjadi pelindung jika
terjadi guncangan sekaligus asupan energi yang disebut sebagai prana-jiwa sang
bayi. Kelahiran bayi dimulai dengan pecahnya air ketuban dan inilah yang
membukakan jalan bagi sang bayi menuju alam luar, dunia ini. 2. GETIH (darah)
dalam kandungan bayi memberi ruang pertumbuhan bayi dalam kandungannya. Dunia
kedokteran menyebut ini sebagai ruangan intervillair dan ini ada pada plasenta
yang berperan penting memberi asupan makanan dan darah pada sang bayi dalam
kandungan. 3. LAMAS (lemak pada kulit/vernix caseosa) merupakan lemak pada
kulit bayi yang terus menyelimuti dan melindungi diperkirakan mulai berkembang
sekitar bulan kelima sejak terjadinya pembuahan. Jaringan lemak pada kulit ini
janin ini mendukung pertumbuhan tubuh janin termasuk pertumbuhan tulang dan
organ lainya. 4. ARI-ARI (plasenta) disebutkan sebagai pusat terbentuknya
hormon-hormon, pengatur suhu, dan pelindung guncangan, serta jembatan
penghubung bayi dengan ibu. ARI-ARI adalah saluran untuk sari-sari makanan,
oksigen dari ibu ke bayinya, serta berbagai peran penghubung lainnya antar bayi
dengan ibunya. ARI-ARI sebagai penghubung tapi sekaligus pelindung agar tidak
tertular penyakit ibunya, kecuali ada berbagai penyakit yang memang ganas mampu
menembus Ari-ari dan menularkannya semenjak dalam kelahiran.
17. JARAYU, jika merujuk pada teks Samhita, tidak lain
adalah gabungan dari YEH NYOM – GETIH – LAMAS – ARI-ARI atau apa yang dikenal
dalam KANDA PAT RARE sebagai CATUR SANAK.
18. Sekalipun Prof. Hooykaas mengaku GAGAL menelusuri
JARAYU-TANTRA, menariknya ia menyebutkan bahwa Pedanda Made (Sang Gde Made
Sidemen) memberinya pinjaman salinan PURVAKA. Saya pikir itulah penjelasan dari
JARAYU-TANTRA yang dimaksud. Kenapa?
19. Kitab PŪRVAKA, atau nama lainnya PŪRVAKA BHŪMI BAUDHHA,
atau secara populer disebut sebagai "Weda Buddha" atau "Buddha
Weda", dari bagian pembukanya pentingnya peran "jarayu' dalam hal ini
sebagai 'pusar' – silahkan dibaca paragraf pertama dari kita tersebut.
Banaspati yang disebut dalam KANDA PAT RARE sebagai wujud 'niskala' dari
ARI-ARI disebut pertama-tama dalam kitab ini.
20. PŪRVAKA BHŪMI
BAUDHHA, dari Griya Tegeh, Boda Kling, sebuah 'niyasa'-nya menyebutkan:
"... Hyang Agni ring nābhi-sthāna, dumilah gumĕsĕng pāpa-klĕsanta
...". Istilah 'nābhi-sthāna' sebagai poros dalam 'paragi' dan dalam
praktek Tantra di Bali masih menjadi tradisi yang hidup, sekalipun tidak banyak
yang sepenuhnya bisa memahaminya karena terbatas 'guru-sisya' atau 'garis silsilah
perguruan'.
21. Pada prakteknya, dalam kehidupan di
"perguruan", masih ada praktek "menghisap api pusar orang yang
mati". Jika dalam praktek satu "perguruan" ada menghisap jempol
kaki "guru yang berpulang", dalam satu "perguruan" satunya
"menghisap api pusar".
22. Apa yang diakui Prof. Hooykaas sebagai kegagalannya meneliti ke arah JARAYU-TANTRA, sangat menarik untuk kita timbang dalam-dalam. Sebagai pewaris, agar kita tidak abai. Catatan saya ini hanya meletikkan titik kilas, semoga tidak lempas. [T]
*Catatan Harian Sugi Lanus, 12 April 2019.