Cita-cita Toya Bungkah, Cita-cita Kebudayaan Bangsa Indonesia

Riki Dhamparan Putra
by Riki Dhamparan Putra — April 08, 2019 in Esai

Tatkala.co

Tahun 1938, Sutan Takdir Alisyahbana (STA) mengunjungi Kintamani untuk pertamakalinya ditemani sastrawan Panji Tisna. Rupanya mereka mengunjungi Toya Bungkah (kadang ditulis Toyabungkah), yang ketika itu masih perladangan dengan topografi tanah yang landai di kaki gugusan perbukitan Kintamani. Posisinya berhadapan-hadapan dengan desa Trunyan yang mempunyai tradisi “merawat mayat” berusia 10 abad di seberang Danau Batur.

Di bawah suhu pegunungan yang sejuk, Toya Bungkah yang mempunyai banyak sumber air panas alami, tampak istimewa karena seakan – akan menjadi simbol perpaduan dua kutub energi: panas dan dingin. Sementara keberadaan budaya Bali Aga (budaya pegunungan atau budaya Bali mula) di seberang danaunya yang tenang, menghadirkan suatu panorama waktu yang ideal bagi seorang perenung. Tradisi-tradisi Bali Aga yang masih tetap bertahan di Trunyan itu, yang siginifikan berbeda dengan tradisi besar di bagian selatan, seakan menampilkan sisi waktu yang lain di pulau Bali, yakni “waktu statis”, sebagai padanan dari waktu Bali yang dinamis.

Bagi seorang sastrawan, filsuf dan futurolog seperti STA, lanskap yang seperti itu pastilah sangat menarik. Terbukti, tiga puluh dua tahun kemudian, ia kembali mengunjungi Toya Bungkah, membeli sehamparan tanah di lerengnya dan kemudian mendirikan Balai Seni Toya Bungkah pada tahun 1973.

Tidak banyak sastrawan maupun pengamat seni yang tertarik pada topik STA berkaitan dengan gagasannya mendirikan Balai Seni Toya Bungkah itu. Lain dengan Siti Zainon Ismail, penyair Malaysia yang melihat Toya Bungkah sebagai titik balik dalam perjalanan pemikiran Sutan Takdir Alisyahbana. Secara khusus, ia menulis sajak berjudul  “Nafas Toyabungkah – di Taman Pak Takdir” sebagai bentuk interpretasinya atas sosok STA yang kontroversial itu.

...

kau lihat batu-batu cadas itu

yang dibentuk oleh api dan air

atau pohon kembali

mengenal akar,

setia nelayan

memintal lumut di hujung kail

mujahir danau

tiba-tiba muncul setelah kebakaran

Ditulis pada 1985, sajak ini mencoba merekam sisi dialektika dari dunia batin STA melalui pemandangan sehari-hari di Toya Bungkah. Yakni pemandangan hidup yang bersumber dari ketenangan masa lampau, warisan masyarakat pra Indonesia, yang selama ini dikecam STA kurang “mendayagunakan otak lantaran terbiasa menjadi sleursmans, manusia yang hamba kebiasaan”. [1]  

Apakah dengan demikian, Toya Bungkah dapat dikatakan sebuah titik balik dari pemikiran STA tentang kemajuan? Bila mengikut kerangka interpretasi Siti Zainon tentu jawabnya adalah iya. Tetapi perlu diingat, STA sendiri menolak disebut telah mengubah pendirian awalnya mengenai cita-cita kemajuan kebudayaan Indonesia.  Dalam sebuah  esai yang ditulisnya pada 1982, ia menekankan kembali pentingnya muncul suatu avangart baru di dalam kebudayaan. Dan itu mestilah diikuti kaum seniman, lebih-lebih kaum sasterawan dalam rekonstruksi kehidupan pribadi, masyarakat dan kebudayaan yang baru... yang bahu membahu bekerja dengan ahli-ahli ekonomi, politik, agama, dan pemimpin-pemimpin masyarakat[2]

Ia menolak spesialisasi di lapangan kebudayaan. Karena kerisis yang melanda manusia kontemporer menurutnya memerlukan peninjauan menyeluruh serta global pula sifatnya, tidak dapat dijawab oleh spesialisma. Dalam visi seperti ini pula Balai Seni Toya Bungkah digagas, yang makin ditegaskannya dengan mendirikan International Association of Art and the Future pada 1978 bersama masyarakat intelek dan seni internasional.

Dapat dikatakan Balai Seni Toya Bungkah merupakan titik kulminasi dalam perjalanan pemikiran dan perenungan STA selaku seorang visioner kebangsaan dan kebudayaan. Di samping tujuan untuk menciptakan avangart budaya,  ia sekaligus merepresentasikan STA selaku manusia nusantara yang tidak dapat disedot sepenuhnya oleh modernisme dan westernisasi, tetapi ingin menjadi bagian aktif dan progresif dalam tataran global.  Di sisi lain, gagasan pendirian  Balai Seni Toya Bungkah, bukan pula merupakan suatu perangkap tradisional yang hendak menjerat kita dalam romantika masa lalu belaka. Yang dulu, yang sekarang, yang nanti justru berpadu di situ. STA mewujudkannya melalui cita-cita seni yang bercorak eksperimental, dengan mengelaborasi lalu mengkolaborasikan sisi-sisi paling original, mutual dan penuh visi dari sebuah pencapaian seni. Baik yang tradisi maupun yang kontemporer.

Barangkali karena itu pula ia memilih puisi untuk dieksperimentasi dengan tarian saat mengundang Ni Ketut Reneng (yang maestro tari tradisi) mencipta dan melatih di Toya Bungkah. Sebab bagaimanapun kekuatan puisi yang mampu mensublimasi ragam peristiwa dari ragam lapangan kehidupan dalam satu memontum estetika yang unik, juga terdapat dalam seni tari dan seni masa lampau kita. Dalam hal ini, Ni Reneng tentu sosok yang sangat tepat karena taksu masa lampau yang hidup di dalam dirinya.

Terlepas dari tidak ada pernyataan eksplisit mengenai pengaruh Ni Reneng dalam kehidupan pemikiran STA, kita tetap dapat menjangka, bahwa melalui Ni Reneng, STA telah melihat sepirit seni Bali yang memenuhi kriterianya perihal “seni yang bertanggungjawab kepada masyarakat dan keindahan itu sendiri”.

Tak pelak, sajak Siti Zainon Ismail juga menyiratkan hal itu, sebagaimana tampak dalam bait di bawah ini:

ketika seniman tua itu mengumpul batu-batu

mengatur kemboja di halaman

keinginan yang hangat, apakah kita

yang muda hanya terpukau

kagum lalu melupakan?

Malam itu

kusimpul senyum Nyi Gadung

kenangan masa lalunya

ada ilmu yang harus kusimpulkan

benarkan cahaya itu merimbas

hingga darahku

memercik ke danaumu!

Kritikus Dami N.Toda mengira bahwa sosok yang dimaksud bait tersebut adalah STA di masa tuanya (Dewan Sastera, Oktober 2002). Tetapi saya lebih suka melihat figur itu sebagai sosok simbolik yang mewakil “taksu masa lalu”, kepada siapa si aku menemukan keinginan yang hangat itu, dan perlu menyimpul ilmu demi membenarkan cahaya yang merimbas itu. Tak terkecuali bagi seorang STA tentunya.

Toya Bungkah yang terpencil di hulu Kintamani itu, kini memang terabaikan seperti cita dan cinta yang belum kesampaian. Sebagian lahannya mungkin sudah dialihguna, papan mereknya tertutup semak, dan panggung, properti serta buku-buku di perpustakaan sudah dimakan rayap. Namun gagasan pendiriannya layak direfleksi, sebuah monumen visi yang penting dalam usaha menemukan karakter kemajuan kebudayaan Indonesia.


[1] STA, Semboyan Yang Tegas

Kritik terhadap beberapa prae-advies Kongres Permusyarawarat Perguran  Indonesia. Lampiran pada buku Sang Pujangga. Terbitan Pustaka Pelajar. 2005

[2] Ilmu Dan Budaya 4/TH.IV/Juli 1982

Avatar

Riki Dhamparan Putra

Related Posts
Dongeng

Takut Galungan

BY Dede Putra Wiguna Juni 27, 2026

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...

Read More