Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi
APA yang tebersit ketika kita membayangkan kata grafis dalam kacamata kesenian hari ini? Bagaimana posisinya, atau bahkan eksistensinya, di era ketika hampir segala hal sah untuk...
Tak banyak yang mau berdiskusi soal ateisme. Sebab, di negeri yang agamis ini, ateisme jelas menakutkan, ibarat hantu. Maka, menjadi ateis sama saja memuja hantu. Walau demikian, debat soal ateisme mestinya tetap merupakan hal baik sebagai ruang tempat menguji & mempertajam gagasan, terutam di bidang filsafat. Keraguan kita akan hal ini, adalah bukti adanya jurang dalam yang memisahkan agama dengan sains. Maka filsafatlah yang dapat menjadi jembatan penghubungnya.
Ada realitas-realitas yang menarik terkait hal ini. Kita takkan menyangka, China yang punya tradisi yang dalam dari sisi spiritualisme, saat ini merupakan negara Asia yang warganya paling ateis. Sementara, Swedia merupakan negara Skandinavia yang paling banyak warganya tak percaya Tuhan. Namun faktanya, kedua negara tersebut saat ini boleh dikatakan tergolong paling maju dan makmur. Bagaimana bisa “pemuja hantu” menjadi maju dan makmur? Apakah mereka masih diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk kembali sadar, sebelum akhirnya menerima azab? Entah!
China, dapatlah kita maklumi keadaan tersebut terjadi karena penerapan ideologi komunis oleh penguasa. Sesungguhnya komunisme, hantu lain di negeri ini, tak identik dengan ateisme. Namun keduanya memang koheren dalam keseharian hidup bangsa China dan bangsa-bangsa lain penganut komunisme. Menyebabkan asosiasi yang kuat di antaranya menjadi mudah untuk dipahami.
Paradoks yang terjadi adalah betapa China yang ateis, saat ini sedang tumbuh menjadi kekuatan ekonomi yang mengguncang dunia dan membuat Amerika Serikat gelisah dan selalu mengalami mimpi buruk. Di bidang medis, yang mestinya selalu mendekatkan diri dengan Tuhan, karena Ia penentu kehidupan, China pun teratas di Asia bahkan di dunia. Sebutlah betapa majunya teknologi transplantasi organ, alat-alat intervensi bedah juga penelitian-penelitian sel punca (sel induk).
BACA JUGA:
Swedia, yang ateis, bahkan tetap menjadi idola destinasi kaum imigran dari negeri-negeri Timur Tengah yang agamis. Ini sebuah paradoks yang lain. Negeri di Laut Baltik ini adalah salah satu dengan wilayah terluas di Eropa namun dengan kepadatan penduduk yang sangat rendah, sekitar 21 penduduk per kilometer persegi. Wajar lalu ia menjadi negeri target pencari suaka dari seluruh dunia. Merupakan negara sekuler yang tak mengurusi pilihan warganya untuk percaya atau tidak akan adanya Tuhan, juga untuk beragama maupun tidak.
Saya lalu teringat dengan seorang kawan, yang ateis. Namanya Mark, seorang mahasiswa asal Jerman. Kami berkenalan di suatu tempat di pedalaman Kalimantan Utara sekitar tahun 2003. Saya melaksanakan tugas sebagai dokter di puskesmas daerah terpencil, ia sedang melakukan riset di bidang biologi meneliti burung hutan tropis. Saya begitu kaget saat ia mengatakan dirinya tak beragama. Namun saya yakin ia percaya dengan Tuhan.
Iseng-iseng saya coba bertanya, apakah ia percaya Tuhan? Jawabannya membuat saya lebih kaget lagi. Karena ia pun tak percaya Tuhan. Bagi saya, seperti juga anda, yang sejak kecil mendapat pelajaran agama dan percaya dengan Tuhan, terperangah cukup lama mendengar jawaban-jawabannya itu dalam sikap yang sangat tenang. Selintas dalam benakku meyakini, orang di depan saya ini tentulah salah satu calon penghuni neraka. Justru ia sangat menyayangkan pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan, karena dianggap tak etis lantaran menyangkut urusan sangat pribadi.
Lalu terbayang oleh saya, bagaimana tradisi beragama dan ber-Tuhan begitu hiruk pikuk, vulgar bahkan berujung pada sengketa di negeri kita. Atau di negeri-negeri Timur Tengah, yang begitu religius namun tak kunjung usai didera peperangan. Dari sini saya mulai lebih empati pada pilihannya. Maka inilah manfaatnya sebuah debat atau berdiskusi. Saat kita tak setuju dengan gagasan orang lain, setidaknya kita dapat menghargai hak mereka untuk berbeda.
Dalam tradisi masyarakat Hindu di Bali, disebutkan ada empat jalan ibadah (marga yoga). Yaitu pertama bakti atau menyembah Tuhan dalam ritual yang sudah mentradisi (bakti marga), kedua melakukan sebuah tapa/meditasi (raja marga), ketiga belajar ilmu pengetahuan dan keagamaan yang setinggi-tingginya (jnana marga) dan keempat beribadah dengan bekerja sesuai tugas dengan sebaik-baiknya (karma marga). Saat saya mendapati Mark yang begitu tekun melakukan riset, bahkan di dalam hutan yang baru saja ia jamah, sendirian, maka saya membayangkan sebuah karma marga. Sehingga, mungkin ia merasa tak perlu lagi berkoar-koar menyebut nama-Nya.
Realitas-realitas di China atau Swedia saat ini, menunjukkan ateisme tidaklah koheren dengan prilaku dosa. Jadi memang, hal yang paling sulit dilakukan adalah saat kita ingin mengendalikan & mengatur pikiran orang lain. Ia membuat seseorang atau pemerintah berlagak seakan-akan ialah Tuhan itu. Jika kesalah prilaku mudah diukur dengan hukum yang berlaku, lalu bagaiman kita mengukur pikiran orang lain yang menurut kita salah? Maka pikiran, ialah kemewahan terakhir manusia yang tetap dan akan selalu merdeka. [T]
BACA KOLOM DOKTER YANG LAIN:
APA yang tebersit ketika kita membayangkan kata grafis dalam kacamata kesenian hari ini? Bagaimana posisinya, atau bahkan eksistensinya, di era ketika hampir segala hal sah untuk...
KOMUNIKASI lingkungan lahir dari sinergi dua disiplin ilmu utama, yakni ilmu komunikasi dan ilmu lingkungan. Perjumpaan ini bukanlah pertemuan yang kebetulan, melainkan sebuah keb...
Ada yang membanggakan pada Wimbakara (Lomba) Gending Rare peserta SD di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu 8 Pebruari 2026. Seluruh peserta tampil dengan kualit...
BALI-Indonesia dan Korea Selatan segera menjalin kerjasama dalam bidang seni dan pendidikan. Ini terjadi setelah akademisi dan maestro seni Prof. I Wayan Dibia dari Bali ber...
Bayangkan sebuah suara yang lahir dari tubuh yang tak lagi bisa bergerak, namun justru bergerak paling jauh, menembus dinding waktu, menyeberangi generasi, dan menyentuh ruang pal...
LUDWIG Wittgenstein said that language is not a monolithic thing, but rather a concept structured based on social consensus. Wittgenstein called this concept language games. For m...
SUATU pagi, secangkir kopi sering kita pahami hanya sebagai rutinitas. Ia hadir sebagai pengusir kantuk, teman bekerja, atau jeda singkat sebelum hari benar-benar dimulai. Kita ja...
MALAM hari kemarin, saat sedang menulis berita untuk media online di Jembrana, Bali, saya melihat notifikasi di ponsel saya. “I Wayan Westa mengomentari postingan Anda”. Jika buka...
SEKAR masih menangis ketakutan dengan badan kuyup. Badai telah reda. Tapi Kakek dan orang-orang desa tak kunjung kelihatan. Di ujung sore, seekor Cucak Ijo hinggap di ranting poho...
SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari. Di balik jendela istana,...