Bersepeda bukan sekadar olah raga kardio untuk
melatih jantung. Dia adalah jenis olah raga yang kompleks. Dengan bersepeda
kita bisa mencintai alam. Bisa untuk rekreasi. Itulah kenapa even bersepeda
bisa dikaitkan dengan promosi pariwisata.
Saya termasuk beruntung menekuni hobi ini. Dulu,
sekitar enam tahun lalu, saat sepeda lagi booming, saya dipaksa membeli sepeda
gunung oleh teman-teman di kampung. Setelah setahun menggeluti hobi ini, kemudian
hanya saya, Made Puja dan Dek Abet yang bertahan. Sedangkan tujuh teman saya
yang lain, entah pada ke mana.
Seiring menyurutnya booming sepeda itu, surut juga
semangat teman-teman yang lain. Ada teman yang menjual sepedanya, beberapa lagi
menyimpan sepeda mereka di gudang masing-masing, sampai menjadi sarang laba-laba
dan berkarat. Saya adalah korban dari hobi yang hangat-hangat tahi ayam itu.
Tapi, tahi ayam saya tampaknya masih hangat sampai sekarang, dan saya masih
eksis dan aktif bersepeda.
Akhir-akhir ini hobi bersepeda kembali merangkak
jadi tren. Even-even fun bike
diadakan di beberapa tempat. Tiap hari minggu sering ada acara fun bike. Bahkan bisa ada dua acara fun bike dalam sehari di dua kota
berbeda, yang membuat para komunitas bersepeda bingung memilih. Angka penjualan
sepeda ikut terkerek.
Banyak organisasi dan institusi yang tiba-tiba
mengadakan fun bike, sambil
menyelipkan tema lain yang positif. Seperti kementerian ESDM yang melakukan
kampanye hemat listrik melalui acara fun
bike. Pesan-pesan hemat listrik begitu efektif disebarkan lewat acara ini.
Begitulah, bersepeda memang betul-betul kompleks.
Tersebutlah Yayasan Atlit Nusantara, yang konsisten
mengadakan even bersepeda. Yayasan ini tidak terpengaruh oleh pasang surutnya
hobi bersepeda. Walau booming sepeda surut, yayasan ini tetap ada dan aktif
mengadakan even.
Yayasan yang diketuai Pak Wayan Kertayasa. Pak Wayan Wisnaya, Gede Cakra dan Kadek Dwipayana, para penghobi sepeda yang militan, juga ikut terlibat mengelola yayasan ini. Beberapa jenis even diadakan yayasan ini tiap tahun. Kalendernya penuh dengan acara bersepeda. Berbeda dengan acara-acara fun bike yang ringan, even-even bersepeda yang diadakan Yayasan Atlit Nusantara berskala lebih luas dan lebih serius.
Seorang pemula, yang masih hijau dalam dunia
bersepeda, memang tidak disarankan ikut di acara ini. Seperti acara Bali Mountain Bike Marathon, yang
diadakan kontinyu tiap tahun. Bersepeda cross
country di seputaran Gunung Batur, di kaldera-nya Gunung Batur yang indah.
Ini even yang berat. Medan cross country
sepanjang 80 kilometer, naik dan turun. Sungguh menantang. Menguras ribuan
kalori.
Even bergengsi ini diikuti para pembalap nasional
dan internasional, untuk kategori Men Elite. Ada juga kategori master untuk
peserta yang sudah berumur. Saya hanya bisa membaca ulasan lomba itu lewat
internet. Itu betul-betul even yang sulit dan membuat nyali ciut. Jangankan
meraih podium, mencapai finis dan memperoleh finisher medal saja susah. Konon, ada cerita, seorang peserta baru
tiba saat panitia bersiap-siap mau pulang.
Yayasan ini juga tiap tahun menyelenggarakan roadbike tour, Bali Audax. Keliling Bali
sepanjang 400 kilometer menggunakan sepeda balap. Para peserta dilepas di sebuah
hotel di Nusa Dua, menyusuri jalanan pesisir pantai di Kabupaten Tabanan sampai
Jembrana, kemudian finis etape pertama di pantai Lovina. Menginap di sebuah
hotel di pantai Lovina.
Besoknya melanjutkan perjalanan etape ke dua lewat
Bali Timur sampai ke Nusa Dua kembali. Pesertanya kebanyakan wisatawan
mancanegara, bule-bule yang tentunya sudah terlatih bersepeda jarak jauh. Kalau
ada bule yang masih pemula nekat ikut even ini, siap-siaplah diangkut dengan
mobil. Even ini juga kadang diadakan di luar Bali, yang bernama Komodo Audax.
Even terbaru dari Yayasan Atlit Nusantara adalah Gietman Roadbike Tour. Menurut Pak Wayan
Kertayasa, gietman berasal dari bahasa Bali giet
dan dari bahasa Inggris man. Giet (megiet), mungkin semua orang Bali
mengerti arti kata ini. Contohnya ekspresi ketika seseorang mengangkat beban
berat, atau seorang ibu dalam proses melahirkan buah hatinya.
Jalur di Desa Kemetug, Selemadeg, Tabanan, salah satu jalur Gietman Mountain Bike 2019 (Foto: Gietman Foundation)
Gietman
Roadbike Tour adalah tur sepeda sepanjang 100
kilometer, selalu start dari toko sepeda Rodalink yang merupakan pihak sponsor.
Saat diperkenalkan gietman ini, para peserta sering sengaja menunjukkan
ekspresi megiet dengan raut wajah
lucu-lucu di depan kamera. Saya juga ikut melakukannya. Ketika melihat kamera
dari jauh, saya pacu sepeda sekencang-kencangnya sambil megiet, tapi keburu ketawa…hehehe.
Dari awal sampai sekarang, saya selalu ikut di even
ini. Biasanya setahun diadakan dua kali, Gietman seri 1 dan Gietman seri 2.
Tempatnya berpindah-pindah. Kadang ke Bangli, kadang ke Jatiluwih, dan terakhir
ini rute-nya Denpasar – Tukad Bangkung. Ini even tur dan juga lomba.
Dari Toko Rodalink Denpasar kita tur bersama-sama,
kemudian di titik yang telah ditentukan ada lomba kecepatan sepanjang 4
kilometer. Ada aplikasi Strava untuk menghitung kecepatan para peserta, dan
setiap peserta harus mengaktifkan strava-nya masing-masing. Aplikasi ini
terhubung dengan GPS. Siapa yang mencatatkan waktu paling sedikit mencapai
garis finis, dialah sang juara.
Saya hanya sebagai penggembira, tidak pernah berambisi
mencapai podium. Maklum sudah tua, usia 42. Biarlah mereka yang muda-muda dan
terlatih yang meraih itu. Yang penting saya bisa ikut gembira bersepeda,
menikmati pemandangan sambil mencari kawan. Badan sehat, stress pun reda.
Even Bali
Mountain Bike Marathon kemudian bermetamorfosis menjadi Gietman Mountain Bike, dengan jarak yang
dipangkas. Berbeda dengan Gietman
Roadbike Tour dengan medan jalan raya yang mulus, Gietman Mountain Bike menggunakan
sepeda gunung di medan off-road. Rute-nya
mendekatkan diri dengan alam. Wisata sepeda yang digabungkan dengan lomba.
Rencananya Gietman
Mountain Bike 2019 akan diadakan di
Tabanan. Di Kecamatan Selemadeg Timur. Di daerah ini banyak medan
tegalan. Banyak lembah dengan pemandangan sawah yang indah. Jalan naik turun. Sebagai
tuan rumah, saya pasti ikut. Tapi tentunya sebagai penggembira saja, untuk
meramaikan, bukan berambisi meraih juara. Setidaknya bisa memperoleh finisher medal untuk menambah koleksi.
Jalur di Desa Manik Yang, Tabanan (Foto: Gietman Foundation)
Even ini sangat bermanfaat untuk Tabanan ke depan.
Memperkenalkan Tabanan ke dunia luar. Apalagi banyak bule yang ikut. Ini bisa
menjadi paket wisata bersepeda nantinya, sehingga ada banyak pilihan paket
wisata bagi pelancong yang datang ke Bali. Wisatawan semakin banyak yang
datang, menghabiskan dollar mereka di sini, dan menjadi sumber pemasukan devisa
bagi negara untuk menggeliatkan perekonomian.
Terbayang asyik dan serunya even Gietman Mountain Bike 2019 yang untuk
pertama kali diadakan di Tabanan nanti. Beramai-ramai membelah persawahan di
lingkungan Selemadeg, sambil memancarkan aura hidup sehat, agar hobi bersepeda
tetap booming. Peserta diperkirakan mencapai 200 orang.
Tanpa pikir panjang saya mendaftar, membayar lewat
transfer rekening. Moga-moga tidak ada halangan, sehingga di hari H saya
betul-betul bisa hadir. Dan pasti, di akhir acara saya akan menulis tentang
acara ini sesuai sudut pandang saya.
Yuk,
teman-teman, ayo kita ikuti Gietman
Mountain Bike 2019 yang akan diadakan di Tabanan, tanggal 21 April 2019
ini. Jangan sampai ketinggalan. Percayalah, Tabanan sebagai lumbung padi,
menyimpan pemandangan persawahan yang indah. Sambil bersepeda kita mendekatkan
diri dengan alam. Kita butuh menghirup oksigen bersih. Mengakrabi sawah. Yok ayo!
[T]
DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang calon wirausaha ditanya mengenai apa y...
SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali seperti sediakala?"
Pertanyaan...
PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya di Jembrana-Bali, yang telah berpulang pada 21 Januari 20...
KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi ini: hutan-hutan terbaik yang be...
"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota Singaraja," ujar Bupati Buleleng, dr. I...
JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan akan datang orang-orang yang dan...
HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai marmer rumah mewah di kawasan elit. Suara temba...
MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA
mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata
jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta kebijakan berbe...
TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar. Di tengah gemuruh tabuh dan warna-warni busa...
RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat dikenali secara utuh dalam epik Ramaya...