Seorang suami tugasnya adalah mencari nafkah dan memenuhi semua kebutuhan anak dan istrinya.
Seorang
suami harus bisa menjadi sosok yang tidak mudah mengeluh dan cengeng. Seorang
suami harus siap bekerja keras agar dapat memenuhi kebutuhan keluarga yang
selalu datang setiap harinya. Rezeki
sudah diatur Tuhan
benar adanya, namun jika tidak berusaha dan dalam rumah tangga sering terjadi
pertengkaran rezeki itu akan menjauh dan tidak akan menghampirimu.
Untukmu
yang akan menjadi seorang suami, mendekatlah. Aku ingin memberitahukan sesuatu
kepadamu. Aku akan memberikan sebuah gambaran atau bayangan, bagaimana rasanya
menjadi seorang suami itu.
Hei..
Minum saja beer itu, jangan melulu minta kopi.
Kamu
harus tahu hidup itu tidak hanya pahit. Tapi, pusing juga. Karena setelah
menjadi seorang suami atau kepala rumah tangga kamu akan merasakan bagaimana
rasanya pusing itu.
Aku
ingin menceritakan sedikit pengalamanku. Dan harapku kamu tak melakukan hal
yang salah sepertiku.
Aku menikah di usia 20
tahun dan masih berstatus mahasiswa. Mengapa muda? Karena aku melakukan hal
yang seharusnya belum waktunya untuk dilakukan. Kalian pasti paham itu.
Dulu
di awal pernikaham sangat terasa berat untuk aku jalani. Apalagi aku menikah
saat usiaku masih sangat muda dan tidak bertanggungjawab. Sikap dan pikiranku belum siap
untuk hal ini. Aku belum punya tabungan,
aku belum paham apa yang harus dlakukan sebagai seorang suami dan tidak tahu
apa-apa tentang tanggung jawab seorang suami.
Siiaaal...
rasanya sangat sulit aku temukan tujuan hidup ini. Aku masih belum percaya
dengan semua keadaan ini. Akhirnya semua kegalauan itu aku lampiaskan ke
minuman keras. Aku minum, aku keluyuran dan selalu pulang tengah malam.
Ya
begitulah.. Hari-hari kuhabiskan untuk hal yang tak berguna. Sesampai di rumah
aku hampir selalu bertengkar karena istriku
melarangku untuk mabuk dan keluar malam. Aku
selalu membuat istriku menangis dan selalu berkata soal perceraian.
Lambat
laun aku mulai sadar.
Jika terus melakukan hal
yang tidak berguna dan selalu bertengkar,
setelahnya hidupku terasa semakin
kacau. Aku merasa keharmonisan
dan rezeki terasa jauh dari hidupku.
Aku
mencoba untuk membenahi diri. Setelah itu aku berfikir untuk mencari sebuah
pekerjaan agar dapat memenuhi kebutuhan keluarga kecilku. Karena di dalam diri
ini sudah mulai tumbuh rasa malu untuk meminta lagi kepada orang tua.
Kemudian
aku mendapat pekerjaan di sebuah Rumah Makan. Aku bekerja pada pagi dan malam
hari. Merasa hasil dari bekerja di Rumah
Makan tak seberapa, aku memutuskan untuk membungkus cemilan dan
dititipkan di warung-warung.
Aku
juga menjual donat. Semua pekerjaan aku kerjakan. Hampir 1 hari full badanku
tak dapat istirahat. Pagi bekerja, siang membungkus cemilan dan menghantar
donat, sore kuliah dan malamnya bekerja lagi.
Kamu
pikir aku pria hebat? Wo ya jelas tidak.. Aku ini pria cengeng.
Pria yang selalu mengeluh dengan keadaan itu. Penat dan lelah usai bekerja membuat
emosiku sulit
untuk kukontrol. Aku sering membentak dan memarahi istriku yang hanya melakukan
kesalahan kecil. Aku adalah pria yang cengeng tapi brengsek bukan?
Setelah
beberapa bulan bekerja, aku merasa tak mendapatkan hasil yang cukup. Orang Bali bilang “megae sing
mesari” yang artinya kerja tapi hasilnya tidak keliatan.
Aku
bingung kenapa bisa begini. Sembari memikirkan hal itu, aku melihat-lihat
instagram. Di sana
aku membaca sebuah quotes
yang berisi kata seperti ini “Kalau Kamu
Merasa Bisnismu Belum Sukses, Usahamu Belum Lancar, Doamu Belum Juga
Terkabulkan. Coba Koreksi Bagaimana Kamu Memperlakukan Istrimu. Sudahkah kamu
Membahagiakannya ?”.
Itu
membuatku berfikir sejenak. Setelah aku pikir-pikir kata-kata itu ada benarnya.
Kemudian aku perbaiki caraku memperlakukan istriku. Aku selalu membawakan makanan kesukaannya selesai bekerja, membantunya mencuci dan membereskan rumah saat aku libur. Walaupun tak banyak yang bisa aku berikan, setidaknya dia selalu tersenyum saat aku pulang bekerja. Aku sangat merasakan hangatnya keharmonisan itu. Itu membuatku untuk lebih semangat bekerja. Apalagi dia sedang mengandung buah hatiku, aku berjanji tak akan membuatnya menangis lagi.
BACA JUGA
Beberapa minggu kemudian, hari-hariku semakin membaik. Aku merasakan rezeki itu datang menghampiri keluarga kecil kami. Langganan warung yang kutitipi cemilan semakin banyak, dan memesan 2x lipat cemilan yang aku jual. Lalu donat yang kujual lumayan banyak yang membeli.
Aku
tak mempercayai hal ini. Bagaimana mungkin efeknya sangat cepat aku rasakan. Aku
sangat yakin, rezeki dan kemudahan ini datang karena perlakuan baikku terhadap
istriku.
Untuk
kamu yang bakal menjadi calon suami ataupun sudah. Aku sangat menyarankan untuk
kamu perlakukan istrimu dengan baik. Tanpa kita sadari wanita yang kamu jadikan
seorang istri itu mengorbankan banyak hal. Dia meninggalkan rumah dan orang
tuanya, menahan sakit saat mengandung dan melahirkan, merawat anak dan kita
(suami) dan banyak lagi. Maka dari itu, sayangilah istrimu. [T]