Setelah mengisi
acara bedah buku pliTik karya Bang
Nanoq da Kansas di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Minggu kemarin, seorang
kawan tiba-tiba mengajak saya untuk mendaki Gunung Batur.
Walaupun sangat
mendadak, dan tentu saja saya belum mempersiapkan
apa-apa, namun saya tetap menerima ajakan yang sangat menggiurkan itu.
Pasalnya, saya
sangat menyukai naik gunung, dan merasakan sensasi-sensasi yang belum pernah
saya rasakan sebelumnya.
Bagi saya,
mendaki gunung—atau hanya sekadar kemah di hutan—sangat menyenangkan daripada
hidup terbelenggu dalam penjara kota—yang tentu saja sudah penuh dengan
tempat-tempat yang sangat bising.
Seperti kata Soe
Hok Gie, “Orang-orang seperti kita, tidak pantas mati di tempat tidur”. Dan
benar, pemuda idealis itu tidur dalam keabadian di Gunung Semeru. Dan
Christopher McCandless, misalnya, seorang petualang muda asal Amerika Serikat,
yang ditemukan meninggal di Alaska setelah melakukan perjalanan panjang.
Kawanku, mendaki
gunung—sekali lagi—sangat menyenangkan. Saat perjalanan mendaki menembus
kegelapan malam di jalan setapak yang terjal, berpasir, berdebu, menanjak,
seolah tak berujung telah terlewati, kau akan merasakan sensasi yang lebih
hebat lagi. Dan saat sampai di puncak tertinggi, memotret atau berfoto dengan
latar belakang sunrise yang indah,
yang tak akan bisa kau lihat di tempat lain, menyatu dengan alam, seperti tak
berjarak, di sebuah area yang berdinding kehampaan, merasa kecil, melebur,
menggigil di dalam semak di sebuah cekungan lembah, di bawah naungan
pohon-pohon cemara dan bintang-gemintang, di antara batu-batu yang basah, dan
jauh dari keramaian tentu saja, kau akan merakan sebuah perasaan yang belum
ternamakan sebelumnya—atau mungkin itulah yang disebut: ketenangan.
Meskipun kakimu
juga akan terasa lumpuh, kulitmu seakan mati rasa hingga panas api di ujung
jari tak bisa membakarmu, napasmu sesak, ego memuncak, tapi itu adalah
kenikmatan lain yang ditawarkan alam kepadamu, agar kau merasakan bahwa
sejatinya, jika ingin meraih sesuatu yang menurutmu indah, tentu rasa-rasa yang
tidak menyenangkan itu akan hadir sebagai bumbu-bumbu penyedap. Dan anggaplah
itu sebagai proses belajar untuk menaklukkan dan berdamai dengan diri sendiri.
Setelah kau bisa
berdamai dengan alam, dengan dirimu sendiri, berbaringlah sejenak di atas debu,
di bawah langit yang terlihat begitu rendah dengan hiasan bintang di atas
wajahmu, kau baru akan merasakan perasaan takjub pada bumi. Kau akan selalu
mengingat sensasi itu setelah kau kembali ke kos atau rumahmu yang nyaman. Dan
akan menjadi cerita menarik suatu saat nanti.
***
Ketika sebagian
rakyat Indonesia heboh dengan Debat Capres ke-4 yang baru saja di gelar pada
Sabtu kemarin di Hotel Shangri La, Jakarta Pusat, lalu seperti biasa muncul
ribut-ribut—yang memenuhi timeline
media sosial—tentang perilaku kedua capres, pendapat, dan lain-lain, saya
bersama tiga kawan saya tengah berkendara menuju Gunung Batur. Meninggalkan
kota pada akhir pekan, mulai mendaki pada pagi buta, dan seperti yang sudah
saya katakan di awal, tanpa persiapan apapun.
Tujuan saya
pribadi, memang untuk menghindar sejenak dari hiruk-pikuk kota dan perdebatan
orang-orang. Mencoba untuk membuang diri, menepi, meminggirkan diri bersama
sepi, mengasingkan diri bersama sunyi. Seperti Pandawa, yang menyepi untuk
mengalahkan musuh dalam diri. Atau mengembara seperti Musa menemui Khidlir sang
penjaga rahasia. Seperti Yunus yang ditelan samudera, dan Muhammad yang gigil
memeluk firmanNya.
“Menyepi itu
penting, supaya kamu benar-benar bisa mendengar apa isi dari keramaian.” Begitu
kata Cak Nun. Di hutan, atau di gunung, di atas sana ada kesunyian yang hampir
sempurna. Tak ada deru mesin yang bising, urusan kerja, birokrasi yang boborok,
konflik interna-eksternal agama, baliho-baliho caleg, dan masalah-masalah yang seperti
hendak membunuhmu saat ini juga.
Di atas gunung
menjadi salah satu tempat yang, saya pikir tepat untuk berkontemplasi dan
memahami berbagai hal dalam kehidupan. Kau juga akan merasakan sedang bersama
diri sendiri.
Dan tak
terkecuali untuk merenungi nasibmu yang jomlo, atau mencari jawaban atas
harapan-harapan palsu dari gebetanmu.
Namun, di dunia
yang semakin ramai ini, tak banyak orang yang menyukai dunia yang sunyi, sepi,
dan menyendiri. Semua orang suka hingar bingar, memuji bising, dan menikmati pesta.
Sunyi,
sepertinya semakin disingkirkan. Ia dijauhi mereka yang ingin agar hidup
sepenuhnya dibangun oleh kata tegas, diarahkan logos, dengan kesadaran penuh, hingga dapat dirumuskan wacana,
disusun rapi dan diperkuat mufakat. Padahal, tidak semua permasalahan harus
diselesaikan dengan cara akademis, hukum, dll, terkadang sebuah permasalahan
juga bisa diselesaikan dengan cara-cara estetika, keindahan.
Sunyi—dalam
bahasa Sapardi Djoko Damono, dalam sajaknya, Pada Suatu Malam, menuliskan bahwa sunyi adalah minuman keras—kini
telah tiada. Hanya seperti lentera kecil yang berada di batas nyala. Redup.
Semakin redup. Tidak salah jika jiwa manusia sekarang banyak yang jernih. Sebab
mereka telah meramaikan jiwa dan raganya dengan urusan-urusan yang profan dan
menyingkirkan yang sakral.
Padalah sunyi
adalah dunia para sufi. Bertapa untuk menjauh dari bising. Untuk lebih dekat
dengan diri sendiri, jiwa yang merasuk begitu dalam hingga kabur antara batas
“aku” dan “bukan aku”. Hingga jiwa terlepas dari beban duniawi. Jernih. Hanya
ada ketenangan bersama diri sendiri.
Kawanku, kita
tidak akan bertahan lama, bukan? Jika kau sudah merasa jenuh dengan semua ini
dan merasa terpenjara oleh belantara kota, tinggalkan kotamu. Pegilah dengan
teman-temanmu. Tempuhlah perjalanan menembus hutan, dan tertawalah tanpa
henti—menertawakan dunia dan diri sendiri. [T]