Saya menemukan tulisan Okky Madasari tatkala mulai
serius membaca saat duduk di sekolah menengah atas. Novel pertamanya Entrok buat saya adalah debut yang bikin
cemburu. Ia mengangkat permasalahan perempuan, opresi Orde Baru, lokalitas,
Islam, dan mimpi anak kampung untuk mengejar sesuatu. Buku itu membicarakan
kompleksitas persoalan kehidupan dengan begitu apik.
Terlepas dari capaian literer, yang mesti dibedah
lewat penelitian lebih serius, perempuan kelahiran Magetan ini telah
menunjukkan konsistensi berkarya sepanjang sepuluh tahun ini dengan
penjelajahan tema yang ditawarkannya.
Ia mengupas korupsi dalam 86, menyoroti kaum Ahmadiyah yang tertindas lewat Maryam, menampilkan mereka yang liyan
dan termarginalkan karena masyarakat dan ormas yang bermuka banyak di Pasung Jiwa.
Lalu, persoalan keterbelahan individu di dunia
digital pun diketengahkan melalui Kerumunan
Terakhir. Di dalam buku cerita pendek Yang
Bertahan dan Binasa Perlahan, kita bakal melihat betapa politisnya kisah
yang disuguhkan Okky.
Kejutan lain, ia merilis novel anak! Sudah ada dua
serial Mata yang terbit, yakni Mata di
Tanah Melus dan Mata dan Rahasia
Pulau Gapi. Setidaknya bakal ada dua karya lagi yang menyusul untuk
melengkapi serial ini sehingga mewujud menjadi Tetralogi Mata.
Beberapa waktu lalu, saya berbincang dengan Okky,
mengulik seputar bacaan, mulai dari pustaka yang dilahapnya saat kanak-kanak, kecintaannya
pada Foucault hingga keinginannya punya Kindle.
Kalau membaca, apakah ada waktu khusus? Barangkali ketika
pagi atau malam hari?
Tidak ada
waktu khusus. Kalau lagi musim baca, aku bisa membaca seharian. Namun, saat musim
menulis, aku tidak membaca apa pun, kecuali buku untuk riset. Sekitar beberapa
waktu lalu, aku baru selesai merampungkan naskah [“Mata dan Manusia Laut”, buku
ketiga seri Mata], dan sekarang aku mulai memasuki musim baca.
Buku terakhir
yang dibaca yang gemanya terasa hingga hari ini?
Buku yang
terakhir kali kubaca dan sangat berkesan itu Sapiens. Dari sana bahkan terbit beberapa tulisan. Seperti saat aku
menulis artikel peringatan hari Sumpah Pemuda di detik.com, itu terinspirasi Yuval Noah Harari. Dia kan bilang,
semua realita yang terjadi di dunia kita itu terbentuk dari dongeng. Indonesia
itu kan ada karena kita percaya pada kebesaran Sriwijaya, Majapahit, dan lainnya.
Sapiens cukup memengaruhiku.
Aku kan ‘Foucauldian’ sekali. Ada kedekatan antara Sapiens dengan Foucault. Yuval ini sejawaran yang ingin membangun
sejarah dari sisi ide. Ia ingin mengungkapkan bagaimana sejarah manusia itu
sesungguhnya terbentuk dari ide, dari adu gagasan, dan dari cerita yang
dipercaya orang.
Di luar
itu, aku kan sering ketemu anak-anak muda di berbagai daerah. Jadi, aku
beberapa bulan ini banyak membaca buku-buku yang ditulis penulis muda yang
belum mendapat banyak perhatian, belum mendapat penerbit yang bisa dikatakan
agak besar, yang bisa mendistribusikan karya. Seperti di Ternate, ada penulis Rajif
Duchlun. Di NTT, penulis-penulis muda juga banyak. Beberapa bulan ini keliling,
aku membaca buku mereka dan menemukan banyak sekali penulis potensial yang
menjanjikan.
Saat
memutuskan untuk membaca sebuah buku, alasannya apakah karena banyak
dibicarakan, atau karena membaca ulasan, atau ada seseorang yang kalau dia bilang
bagus pasti dibaca?
Yang
terakhir tidak. Ada buku yang sifatnya memang notable sehingga setidaknya aku mesti tahu. Seperti Sapiens yang kubaca akhir tahun lalu. Sebetulnya,
agak terlambat, tapi dengan membacanya, aku bisa tahu perkembangan pemikiran
sosial sekarang itu sejauh mana.
Buku
sastra, aku selalu baca penulis muda karena aku ingin tahu perkembangan penulis
sastra Indonesia terkini. Jadi, aku baca Faisal Oddang, baca Ziggy Z, baca juga
Rio Johan. Selain untuk ikuti perkembangan, itu juga sarana agar aku terus
gelisah dan cari inspirasi untuk belajar dari hal lain. Kesannya kan seolah-olah
kalau sudah jadi penulis, sudah malas untuk membaca tulisan orang lain, aku
tidak. Aku berusaha untuk terus membaca.
Buku-buku karya Okky Madasari
Sebetulnya,
apa yang paling penting dan hendak didapatkan Okky saat membaca?
Kalau
sastra, aku bukan orang yang mencari kelemahan bacaan, tapi pertama aku coba
raih awhole feeling atau rasa apa yang kudapat. Dari rasa itu nantinya memberi
kesan dan pemahaman bagaimana memaknai buku tersebut. Ketika ada
kenikmatan membaca, dari situ pasti bakal ada makna dan interpretasi.
Tentu ada
buku yang secara rasa, aku tidak mendapatkan kesenangan, tapi penting untuk
diketahui. Misalnya, aku baca tuntas Ayat-Ayat
Cinta dan 99 Cahaya di Langit Eropa [saat
menempuh program pascasarjana, Okky menulis tesis berjudul “Genalogi Novel-Novel Indonesia: Kapitalisme,
Islam dan Sastra Kritikal”, yang kini tengah dalam proses alih wahana menjadi
buku]. Aku ingin tahu kenapa buku-buku ini best seller. Ini juga penting untuk mengetahui masyarakat kita
sedang dalam situasi sebagaimana.
Buku
klasik yang pertama kali dibaca dan paling disukai?
Klasik
yang bagaimana? Kita mulai dari yang paling tua saja. Aku akan menyebut Mas
Marco dengan Student Hidjo. Aku orang
yang percaya sejarah sastra Indonesia bukan dimulai dari Balai Pustaka, tapi
dari Mas Marco. Namun, masalahnya narasi utama kita memulainya dari Balai Pustaka
karena itu versi resmi Hindia Belanda.
Kalau Angkatan
Balai Pustaka, aku paling suka Salah
Asuhan. Roman itu menggambarkan bagaimana masyarakat yang ingin menjadi Belanda.
Dia malu terhadap budayanya sendiri. Salah
Asuhan itu lapis-lapis persoalaannya terasa sekali menggambarkan kompleksitas.
Penulis
fiksi atau nonfiksi yang memengaruhi karier awal kepenulisan?
Umar
Kayam lewat Para Priyayi membuat aku
memutuskan untuk menulis novel.
Lalu, karya
siapa yang masih terus memukau hingga saat ini?
Kalau
sastrawan Indonesia, tentu Pramoedya. Kalau pemikir, itu Michael Foucault. Aku jatuh
cinta pertama kali pada Foucault tahun 2012, awalnya membaca Power/Knowledge. Aku sadar bagaimana pengetahuan
itu ternyata bukan sesuatu yang biasa-biasa saja, ada kontrol, ada kekuasaan.
Saat masih
kanak-kanak apa saja buku yang dibaca? Kemudian, buku apa yang membuatmu menjadi
pembaca?
Aku
tumbuh dengan keterbatasan bacaan. Jadi, aku tidak tumbuh dengan banyak baca
buku anak. Seingatku hanya buku Lima
Sekawan. Lalu, membaca cerita pendek yang dimuat di majalah Bobo dan Mentari Putera Harapan, dan segera membaca buku dewasa.
Sebetulnya
jatuh cinta dengan membaca itu sudah dimulai sejak membaca Lima Sekawan. Namun, ketika mahasiswa aku membeli dan membaca Tetralogi
Buru. Setelah itu, semua karya sastra aku baca nonstop.
Apa yang
paling banyak dibaca saat menulis buku anak?
Untuk
menulis serial Mata, aku memang membaca novel anak dunia. Mulai dari Rudyard Kipling
hingga Salman Rushdie. Mulai dari Alice in
Wonderland Lewis Carroll hingga cerita anak Roald Dahl.
Dari nama-nama itu, yang menurut Okky capaiannya luar
biasa?
Tentu
saja, di masing-masing penulis aku seperti mencuri ilmu. Roald Dahl bisa bikin
ketawa. Itu kan kelemahanku banget.
Kalau Salman Rushdie, dia memang agak serius. Kalau ngomongin kesuksesan, tentu buku anak Salman Rushdie masih agak
kalah sukses dibanding Roald Dahl. Namun, Roald Dahl ini sadis sekali. Roald Dahl
ini juga misoginis, musuh dalam ceritanya kebanyakan perempuan.
Yang aku
lihat buku anak saat itu tidak pernah kritis terhadap masyarakat. Misalnya, aku
baca Secret Garden Frances Hodgson
Burnett yang digadang-gadang bagus, tapi dia biasa saja menggambarkan
kolonialisme atau saat orang India dijadikan budak. Buku anak Kipling juga dianggap
menyuburkan kolonialisme. Enid Blyton pun ternyata kritiknya antifeminisme.
Jadi, buku anak seperti melanggengkan nilai yang saat itu ada.
Namun,
para penulis ini punya kemampuan bercerita yang baik untuk anak-anak. Satu hal,
yang kupelajari, mereka tidak pernah dengan sengaja saat menulis untuk anak itu
dimudah-mudahkan. Apalagi anak-anak itu kan mereka mau baca sesuai nalar
mereka. Bayangkan saja ketika kita waktu kecil kan, kita membaca apa saja. Saat
kecil pun aku berpikir, bacaan ini terlalu mudah, dan aku ingin membaca yang
lebih menantang.
Aku pun
percaya semakin banyak ragam bacaan. Semakin banyak genre yang ditulis, akan semakin baik. Aku menulis novel anak pun
agar penulis mengangap buku anak ini bukan bacaan remeh temeh. Ini kerja serius
juga.
Buku self-help sering dianggap sebelah mata.
Namun, adakah buku how to yang
bermanfaat versi Okky?
Semua
orang lagi tergila-gila Marie Kondo. Jadi, kalau aku sebut dia, aku pasti akan
diketawain. Aku sebut The Subtle Art of Not
Giving F*ck Mark Manson. Ini menarik karena dia bikin kita sadar bahwa hidup
ini tidak indah. Tapi shit happens.
Hidup itu kadang nyebelin.
Kenyataannya memang begini. Kita tak perlu beranggapan hidup kita sedang
baik-baik saja. Tapi kamu harus kuat dan bangkit lagi. Saat remaja aku dapat
hadiah buku yang berguna sekali. Judulnya Don't
Sweet the Small Stuff for Teens. Di buku itu aku diajak mengerti, kenapa
sebaiknya aku tidak mikirin hal tidak
penting dalam hidup.
Kalau baca buku, biasanya satu buku dalam satu waktu atau
sekaligus baca banyak buku secara simultan?
Buku
sastra itu aku cepat. Novel bisa baca cepat sehari atau dua hari. Atau paling
lama tiga hari, karena faktor tebal bukunya. Sebab aku sebagai penulis
novel bisa bilang bahwa aku sudah punya gambaran strukturnya sehingga bisa
lebih mudah saat baca. Kalau buku nonfiksi agak lama, apalagi kalau dalam bahasa
Inggris. Aku harus memahami nonfiksi ini untuk mengerti pemikirannya ini seperti
apa.
Lebih nyaman baca buku cetak atau e-book?
Kalau
bicara soal paperback atau e-book, aku orang yang ingin segera beralih
ke e-book. Tapi masalahnya aku belum
punya Kindle. Aku kan belakangan punya mobiltas yang cukup tinggi dan aku tidak
bisa menumpuk buku lagi. Koleksi buku juga banyak banget. Dari sisi harga kan e-book
lebih ekonomis.
Apakah koleksi buku cetak tetap memberikan spark joy?
Oh, iya.
Karena itu, kritikku kepada Marie Kondo, sebetulnya yang penting ambil
semangatnya. Kata Marie Kondo, maksimal 30 buku saja. Tidak bisa dong, ukuran kebutuhan manusia itu beda.
Jadi harus berpikir, apa yang dibutuhkan. Aku masih butuh buku cetak. Tapi
harus ada kurasi. Ada satu titik berpikir, ini butuh atau tidak.
Aku sebagai
penulis juga senang kalau kawan-kawan mulai beralih ke e-book, kalau memang nyaman, sebab harganya lebih murah. Untuk
atasi persoalan pengiriman buku yang
mahal, e-book memberi jembatan. Intinya,
aku tidak pernah mempermasalahkan buku cetak atau e-book, yang penting kamu baca.
Apa film
favorit yang diangkat dari film dan buku apa yang kamu bayangkan harus menjadi
film?
Aku suka
sekali menonton Remains of the Day
yang diangkat dari novel Kazuo Ishiguro. Aku sebetulnya mau seri Mata-ku. Aku
tidak berpikir, buku menjadi film itu sebuah pencapaian. Ini hanya menunggu
waktu yang tepat. Produser yang tepat. Sutradara yang tepat. Tapi kalau untuk
buku-bukuku sebelum seri Mata. Aku ingin biarkan semua orang sudah baca dulu.
Mungkin seperti saat Ronggeng Dukuh Paruk
difilmkan. Itu semua orang sudah kenal dulu dan sudah punya bayangan di kepala
tentangnya. Jadi, biarkan berproses.
Untuk
seri anak itu juga aku punya pertanyaan sebab di situ kan ada unsur-unsur yang
sulit juga digambarkan, tapi kalau itu bisa diwujudkan dan tak kalah dengan
Harry Potter, misalnya. Kita lihat teknologi film kita apakah bisa
mengakomodasi. Aku juga tak sabar mau lihat GundalaPutra Petir yang dijanjikan oke
secara sinematik.
Kalau ada yang mau menulis cerita hidup Okky, siapa
yang diminta untuk menulis, atau mau menuliskan sendiri?
Enggak
ada. Di luar official biography,
kalau ada yang mau menulis aku tidak bisa melarang. Tapi aku tidak akan meminta
orang menuliskannya. Aku mungkin akan menulisnya sendiri, tapi nanti kalau aku
sudah tua. Kehidupan masih terus berjalan. Karena itu, aku bingung, ada
orang-orang yang ngebet sekali ingin
punya buku biografi, padahal mereka masih muda.
Okky Madasari (Foto: dokumen Okky)
Ini
pertanyaan intermeso. Kalau kamu bikin pesta, dan berkesempatan mengundang tiga
penulis, baik yang masih hidup atau telah mati? Siapa yang mau diundang?
Wah, ini
kayak nonton Midnight in Paris. Pertama,
aku tidak akan mengadakan pesta. Kedua, aku orang yang menghabiskan waktu
sendirian dan berinteraksi hanya saat dibutuhkan. Tapi mungkin aku ingin ngobrol
dengan Pram. Aku mau ngobrol soal realisme sosialis. Jadi, bukan karyanya. Pram
punya buku soal realisme sosialis yang direncanakan untuk pelajaran sekolah. Tapi
karena rezim yang berganti, tidak sempat terwujud. Aku mau banyak ngobrol banyak
tentang itu. Kalau penulis perempuan yang lain, masih hidup semua, dan masih sering
ketemu dan kita sering ngobrol.
Terakhir,
kalau punya kesempatan untuk menyarankan presiden membaca sebuah buku, buku apa
yang ingin disarankan untuk dibaca?
Aku mau
dia baca Maryam. Sebab itu case yang harus dia selesaikan. Aku mau
dia baca Pasung Jiwa karena terakit
kondisi saat ini, dan akan kusuruh baca 86.
Ya, tiga itu cukup, tidak baca bukuku yang lain tak apa. Ada pengalaman unik
soal saran buku seperti ini.
Beberapa tahun lalu, ada seorang pejabat yang menulis sebuah artikel di surat kabar. Pejabat ini baru keluar dari penjara setelah dihukum karena kasus korupsi. Dia menulis di artikelnya, keadaan di penjara itu sama seperti yang digambarakan Okky Madasari di novel 86. Jadi, di dalam penjara dia membaca novel itu. Karena itu, aku membayangkan seandainya para pejabat itu membaca 86. Mereka tentu akan berhati-hati saat menjabat. [T]
Rasa penasaran tampak jelas dari raut wajah ribuan penonton yang memadati Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Kamis 25 Juni 2026. Mereka larut dalam Rekasadana Tari Legong yang d...
"Di mata Sang Guru, tidak ada dosa yang tidak dapat ditebus, tidak ada jiwa yang berada di luar pelukan kasih-Nya."
KALIMAT yang dikaitkan dengan Sri Ramakrishna melalui jawaba...
SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak lagi berdiri di belaka...
Tuhan Beri Aku Waktu
Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku merindumu tak terbatas waktuselagi napas ini bergelayut...
“Tradisi tidak mati karena berubah; ia mati ketika berhenti dipikirkan.”
PELESTARIAN seni tradisional di Bali tidak dapat berhenti pada estetika permukaan. Kemegahan ko...
PESTA Kesenian Bali (PKB) memerlukan media massa untuk publikasi dan dokumentasi, sedangkan media massa memerlukan PKB untuk menunjukkan tanggung jawab moral dan sosialnya dalam m...
SIDANG pembaca yang budiman, coba anda buka Netflix atau platform streaming apa pun yang sedang populer. Tidak perlu menggulir lama-lama, pasti anda akan mudah untuk menemukan fil...
“Karya sampah ini. Kok bisa muncul di PKB?"
KALIMAT itu masih diingat betul oleh Agung Rahma Putra. Sekitar satu dekade lalu, karya eksplorasi busana yang ia tampilkan di...
SINGARAJA – TATKALA.CO | Tim Pengabdi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha sukses menggelar International Community Service-Based Workshop bertajuk “PROMOTING INTERCULTURAL AWA...
BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma solar, dan tubuh-tubuh kekar dengan peluh bergulir...