Belajar Kesetiaan dari Anjing Bali
JANGAN mengaku setia kalau belum pelihara anjing bali. Jangan mengaku pecinta anjing kalau makan daging anjing. Jangan mengaku petugas peternakan kalau kerjanya membunuh anjing sem...
Ini kunjungan kedua kawan-kawan kami dari Teater Orok dalam rangkaian pementasan keliling yang mereka adakan setiap tahun. Kali ini mereka datang untuk mementaskan sebuah drama berjudul “Beruang Penangih Hutang”, karya Anton P. Chekov dan diterjemahkan oleh Landung Simantupang.
Kami, anak-anak dari Tetaer Kampus Seribu Jendela, bertindak selaku tuan rumah.
Sabtu itu, teman-teman teater Orok sampai di Kampus Bawah Undiksa. Sesuai kesepakatan kami dalam chat mereka akan pentas di basement Kampus Bawah Undiksha. Selain wantilan, tampaknya belakangan basement sepertinya menjadi tempat yang paling sering digunakan untuk mentas teater.
Sudut-sudut basement diperhatikan, mencari ruang yang sekiranya bisa selaras dengan naskah yang akan dibawakan. Di basement memang ada berapa ruangan dengan sekat pintu. Tapi ya terkunci rapat dan tak bisa digunakan.
Setelah itu mereka mulai mencari property-properti untuk mentas. Saya menawarkan mereka untuk berkeliling. Ya dikampus ini banyak sekali kursi, meja dan barang-barang lainnya yang sudah tak bisa dipakai kareana terkoyak. Terkoyak usia dan terkoyak mahasiswa, haha.
Lumayan lama mereka berkeliling. Sekali dayung dua pulau terlampau. Saat mencari property yang sekiranya bisa “dipinjam”, mereka juga menemukan ruang yang sempurna digunakan untuk mentas. Tiga sapu lidi dan salu kain pel.
Beperan membersihkan lantai di ujung basement sebagai tepat mentas. Property dibawa satu-persatu dari rumah De Ogie, pimpinan produksi. Lampu juga sudah mulai disiapkan.
Sekitar pukul 18.00 WITA hujan dan petir datang bersamaan. Sudah mulai dag-dig-dug saya. Bagaimana pementasannya? Ya, kami medapat sedikit hadiah. Tempat yang akan digunakan mentas digenangi air. Setelah hujan mereda mulailah anak-anak Terater Kampus Seribu Jendela bersama anak-anak Teater Orok meyapu air ke tepi lain. Itu seperti jadi teater pendahuluan.
Hujan membuat surat udangan yang telah disebar tak dapat dipenuhi kawan-kawan kami dari komunitas teater lain.
Pementasan dimulai
Sorang wanita berdiri di pojok ruangan sambil memandangi foto pria tua pada tembok putih di ruang tengah. Pakaian serba hitam dan rambut dicepol rapi. Menggambarkan suasana hatinya yang sedang berkabung. Masuk satu pemain laki-laki berperan sebagai pembantu. Pembawaannya kocak. Satu pemain lagi datang dari pintu luar. Datang dengan wajah garang. Pembawaan kasar.
Cerita “Beruang Penagih Hutang” ini dikemas dengan banyak rasa. Ada lucu, tegang, dan di akhir ada taburan drama. Berpelukannya wanita berkabung dan si laki-laki garang di awal cerita. Kami yang menonton adalah remaja. Tentu saja menjerit histeris dibuatnya. Bagaimana jalan cerita berlangsung tidak dapat saya gambarkan dengan lengkap. Tapi bagian menarik lainnya yaitu sesi diskusi. Akan coba saya rangkum di sini.
Pujian, pujian tentang bagaimana mereka memilih ruang untuk pentas. Bagaimana mereka melakukan setting tempat yang begitu cerdas. Tak ada tempat menempel atau menggantung lampu pementasan. Tapi mereka tak habis akal.
Dengan menyambung kayu pel mereka membuat lampu pementasan itu berdiri sesuai kebutuhan. Pemanfaatan dua pintu, dan tangga juga mantap. Kak Manik Sukadana selaku pembina teater Ilalang juga melemparkan pujiannya tentang pemilihan tempat. Yang memang setiap tahunnya selalu mengagumkan. Katanya Kak Manik sendiri yang sudah hampir lima tahun melewati tempat-tempat itu tak pernah kepikiran untuk menjadikannya panggung mentas.
Bahkan sepertinya hujan yang turun juga ikut berperan menambah situasi berkabung dalam drama itu. Karena genangan air kain hitam diletakan didepan pintu. Itu juga dihitung sebagai detail suasana berkabung oleh pembina teater Lalang, Kak Anggara Surya. Bagaimana mereka membuat kloter dalam pemetasn keliling ini juga tak kalah mengangumkan. Jadi tiap orang medapat giliran sebagai pemain, dan orang-orang dibelakang panggung.
Kak Rahatri, pembina Teater Dari Utara, kak Nur Hidayat dari Komunitas Puntung Rokok dan beberapa kawan-kawan Teater Kampus Seribu Jendela juga melempar pujian. Dan juga pertanyaan semua ditanggapi dan dijawab rinci oleh kawan-kawan Teater Orok.
Diskusi yang sangat asik. Diskusi yang benar-benar memberi sesuatu untuk masing-masing diri kami. Diskusi, ngobrol kami akhiri dengan foto bersama hari itu. Dokumentasi penting juga haha. Sekian. [T]
JANGAN mengaku setia kalau belum pelihara anjing bali. Jangan mengaku pecinta anjing kalau makan daging anjing. Jangan mengaku petugas peternakan kalau kerjanya membunuh anjing sem...
MAHASISWA baru, di mana pun, mau tak mau, akan mengawali “kuliah” dengan melakukan adaptasi dan pengenalan lingkungan kampus. “Kuliah” awal itu di Indonesia biasa disebut Ospek (Or...
TANGGAL tujuh belas Agustus adalah peringatan, perayaan, dan perenungan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Semua orang tahu itu. Pada tanggal 17 Agustus pada setiap tahunnya, sej...
KALAU seseorang dinilai bicara panjang lebar tetapi tak ada isinya, lazimnya orang itu disebut mengumbar omong kosong. Orang macam begini dianggap lebih buruk tinimbang seorang pen...
KAMPUS adalah tempat kaderisasi bagi para pemimpin bangsa dan negara. Di suatu negara kita mengenal adanya pemerintahan, pada umumnya pemerintahan diselenggarakan dan dijalankan ol...
“DENGAN melewati tahapan hidup dari Sudra menuju Wesya, dari Wesya menuju Satria, dari Satria menuju Brahmana, seseorang mencapai Moksha,” guru saya pernah berucap demikian suatu h...
UNTUK yang ketiga kalinya, saya menginjakkan kaki di Desa Mausamang Kiralela di Kecamatan Alor Timur, NTT. Bersahabat lebih dekat dengan desa ini membuat saya kecanduan untuk pergi...
ADA banyak cara merayakan Kemerdekaan. Seperti warga sekitar sungai Tukad Unda, Klungkung. Di situ, suasana 17 Agustus 2016 berbeda dari sebelumnya. Dari jembatan Tukad Unda terben...
Indonesia tanah airku Tanah tumpah darahku Di sanalah aku berdiri Jadi pandu ibuku ……. TIAP kali menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya atau mencermati teksnya, saya selalu te...
MUNGKIN banyak yang belum tahu bahwa salah satu putra Buleleng ikut berperan dalam terbentuknya Republik Indonesia. Namanya, Mr. I Gusti Ketut Pudja. Dia menjadi satu-satunya waki...