Halo, cuuuk, yok opo kabare? Stop, tahan emosi dulu.
Bukan maksud saya untuk berkata kasar. Simak baik-baik penjelasan ini. Orang jawa timuran jika memanggil atau menyapa teman sebayanya tanpa menggunakana kata ‘cuk’, itu rasanya kurang afdol. Karena orang jawa timuran identik dengan kata ‘jancuk’. Hingga kata itu telah mewabah seantero nusantara.
Bahkan kata ‘cuk’ ini tidak hanya familiar dikalangan anak-anak remaja saja, bapak-bapak, emak-emak, tante-tante, om-om, pakde-pakde, bahkan sampai ke budhe-budhe mungkin, kerap kali mereka juga mempraktikannya.
Tidak percaya? Silahkan berkunjung ke
Surabaya. Pergilah ke terminal Purabaya, atau sering dikenal dengan terminal
Bungurasih. Saya yakin bagi yang sering naik bus Surabaya-Semarang tidak asing
dengan terminal Bungurasih. Sebagai contohnya, simaklah bapak-bapak pengemudi
taxi yang menawarkan setiap penumpang baru turun dari pemberhentian bus, dengan
asiknya mereka berbincang dengan kawan sejawatnya. Kata ‘cuk’ seringkali melintas dalam ucapan bapak-bapak itu.
Baiklah. Saya tidak akan bertele-tele
bercerita tentang kata ‘cuk’. Karena
setiap daerah memiliki ciri khas masing-masing. Seperti di Buleleng tidak asing
lagi dengan kata ‘cing’ atau ‘cicing’. Benar, kan? Ya, tidak salah lagi.
Surabaya
Ini perjalanan saya ke Surabaya yang
kesekian kalinya. Namun, perjalanan kali ini saya baru merasakan ada perubahan.
Padahal selama hampir kurang lebih tiga tahun saya di Bali, setiap liburan
semester saya menyempatkan diri untuk berlibur di kampung halaman. Tepatnya di
Tuban, Jawa Timur. Dalam perjalan itu saya pasti berhenti sejenak di Surabaya.
Karena memang Surabaya sebagai pusatnya kota di Jawa Timur.
Oleh karena itu jika saya di Bali akan
pulang ke Tuban, ataukah saya ada di Tuban dan akan balik ke Bali, sejenak
pasti saya beristirahat di Terminal Bungurasih. Sambil menunggu bus, sesekali
nongkrong di warteg sembari meyeruput segelas teh anget dan ditemani ote-ote
anget. Uh, luar biasa mantapnya. Sederhana, tapi cukup membuatku bahagia.
Inti dari ceritaku ini adalah saya
merasakan kecemasan, ketakutan, kegelisahan, kekhawatiran. Ah… sudahlah,
pokoknya perasaanku bercampur aduk seperti adonan sambel plecing. Ini terjadi
sekitar beberapa hari yang lalu tepatnya pada tanggal 14 Maret 2019.
Kisahnya dimulai ketika saya mengikuti
program rutin yang diadakan oleh fakultas dimana tempat saya kuliah. Yaitu
program study tour. Saya tidak akan
bercerita atau mengkritik program ini, tapi saya akan bercerita tentang ibukota
provinsiku dan sedikit menyinggung kujungan studi. Hehehe.
Sebelumnya kami perjalanan dari kota
Malang, hinggalah kami tiba di Surabaya. Saat itu rombongan kami tiba di
Surabaya sekitar pukul 21.00 WIB. Hampir setiap jalan, langit tampaknya muram,
meneskan rintik hujan sepanjang perjalanan kami. Sepuluh bus menuju parkiran
hotel.
Hotel yang cukup keren namanya Harris Hotel & Conventions di daerah
Gubeng, Surabaya. Setelah semua rombongan turun, kami menunggu hampir setengah jam
untuk bisa naik ke kamar kami masing-masing. Sabar. Sampailah saya, dan dua
teman saya yang lain yaitu Vicko dan Ghiffa di kamar kami.
Harris Hotel & Conventions, Gubeng, Surabaya (Dokumentasi. Mochamad Rifa’i)
Yang namanya orang kampung, dimana-mana
pasti ada saja sesuatu yang memalukan. Dasar ndeso umpatku pada diri sendiri. Bagaimana tidak? Lha, wong menyalakan lampu saja bingung.
Jujur kami bertiga ngakak. Setelah pintu dibuka dengan kunci sensor, lampu masih
keadaan belum menyala. Kemudian di samping pintu terdapat saklar-saklar. Satu
persatu saklar kami nyalain. Namun masih tetap belum menyala. Kami bingung. Cuuuk….
Akhirnya insting saya main, saya mencoba menggesek-gesek kunci kamar ini dengan sebuah alat yang nempel di tembok. Alhasil, lampu menyala. Tenang sudah. Kemudian mereka berdua merebahkan badan di atas kasur dan menanggalkan barang-barangnya di lantai.
Kemudian lampu tiba-tiba mati. Kegaduhan terjadi lagi. Saya ambil kunci sensor dan ku gesekkan di alat yang nempel di dinding itu, lampu kembali menyala. Ada yang tahu apa itu nama alat geseknya? Haha, sorry saya orang ndeso tidak tahu gitu-gituan.
Lampu tiba-tiba mati lagi. Hal itu
terjadi berkali-kali. Dan kami melakukan hal yang sama untuk menghidupkan lampu
agar tetap menyala.
Baru yang terakhir saya terheran-heran.
Ada apa ini? Masak iya, hotel sebagus ini seperti ini? Baru saya sadar bahwa
dalam alat gesek yang nempel di dinding itu terdapat tulisan, ‘please insert your card’. Kusisipkan
kartu di alat itu. Hingga lampu tak bisa mati secara tiba-tiba. Dasar katrok! Kampungan!
Kami mempunyai cara masing-masing untuk
menikmati waktu istirahat. Ghiffa, sudah tidak heran lagi jika tidak bisa lepas
dari gawainya. Videocall menjadi
hiburannya, dan itu sangat lama sekali. Vicko yang asik dengan mainan shower di kamar mandi dengan memainkan
air hangat dan dingin.
Ah, ya begitulah orang seperti kami.
Kemudian saya sendiri, membuka tirai jendela kamar lebar-lebar. Pemandangan
kota Surabaya yang indah. Kelap-kelip lampu kota. Gedung-gedung bertingkat.
Semua terpampang nyata. Memang view yang
bagus di malam hari. Karena kamar kami ada di lantai 17.
Suasana malam di kota Surabaya (Dokumentasi. Mochamad Rifa’i
Saya duduk di tepi kasur, menyaksikan
kerlap-kerlip lampu kota. Lalu, saya bernostalgia. Saya teringat kejadian pada
Desemeber 2013 sampai Maret 2014 silam. Pada waktu itu saya duduk di bangku SMK
tepatnya kelas XI. Yaitu melakukan Praktik Kerja Industri (PKL) di Institut
Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Kurang lebih saya hidup di kota Surabaya
selama tiga bulan. Saya kira, saat itu Surabaya benar-benar kota yang tak
pernah sepi. Hampir 24 jam jalan raya tidak pernah sepi oleh kendaraan.
Begitupun gedung-gedung bertingkat, apartemen mewah, puluhan pusat
perbelanjaan, hampir setiap hari di jalanan sudut kota yang macet, dan banyak
kenangan lagi.
Itu terjadi sekitar lima tahun silam.
Dan saat ini di tahun 2019, saya kembali ke Surabaya hanya untuk menginap
semalam saja. Saya baru sadar, bahwa Surabaya yang dulu bukanlah Surabaya yang
Sekarang. Mengapa saya berpikir seperti itu? Nanti kamu akan menemukan
jawabannya sendiri.
Ke
Unesa
Tibalah pagi menjelang. Kami pun harus
bersiap-siap untuk meninggalkan hotel dan melanjutkan kunjungan studi kami di
Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Bus menyusuri kota Surabaya. Mataku tak
pernah fokus. biasanya dalam perjalanan, saya tidak pernah betah-betah melek.
Saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk tidur sepanjang perjalanan. Namun
saat ini saya memilih untuk fokus dalam perjalanan.
Bola mata terus berputar ke kanan dan ke
kiri. Saya benar-benar kagum. Ternyata Surabaya lima tahun lalu, kini mengalami
banyak perubahan. Tidak hanya macetnya saja. Banyak gedung-gedung bertingkat
yang mulai bertebaran. Mulai dari tahap renovasi, tahap finishing, bahkan banyak berjejeran rentetan tahap pembagunan dan
galian tanah sebagai pondasi-pondasinya .
Rasa senang pasti ada. Siapa, sih, yang
tidak suka melihat Ibukota Provinsinya ramai, banyak bangunan bagus, dan tentunya
tidak kalah dari kota Jakarta? Perasaan saya kagum. Kok, kagum terus, sih? Ya,
sudah, intinya saya kagum. Titik! Diam! Tidak usah protes!
Pikiran
Nakal
Tapi sayang, pikiran-pikiran nakalku
bermunculan. Ini hanya halusinasi seseorang yang kurang makan daging anjing sama
sayur kol. Jangan dimasukkan hati. Saya himbau, kepada pembaca yang budiman.
Harap tenang! Biarkan saya menceritakan pikiran nakalku.
Jadi gini, kota Surabaya ini terletak
tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat dari Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo.
Lalu apa kaitannya dengan Porong?
Masihkah ingat tragedi Porong? Iya,
benar lumpur panas lapindo. Saya juga tidak tahu kenapa pikiran saya hingga
sejauh ini. Jika kita berbicara tentang lumpur lapindo, pada isu
hangat-hangatnya tak sedikit dari masyarakat mengatakan bahwa tanahnya selalu
megeluarkan lumpur panas. Jika tidak salah ini terjadi pada mei 2006. Sudah
sepuluh tahun lebih terjadinya bencana lumpur panas lapindo.
Dalam pikiran tak sadar saya melintas
bagaimana kondisi Surabaya sepuluh tahun ke depan?
Bagaimana kondisi Surabaya jika tak
sedikit bermunculan rentetan gedung-gedung bertingkat?
Dan analisis jawabanku jika banyak
pembangunan gedung-gedung bertingkat adalah sebagai berikut. Tidak semua dalam
pembangunan gedung tertinggi melakukan ruang terbuka hijau. Dan juga tak sedikit
dari pembangunan ini tanahnya diperkeras baik dengan aspal maupun beton.
Jika kebanyakan dari pembangunan
dilakukan seperti itu, hal ini akan berdampak pada wilayah yang ada
disekitarnya seperti tergenang air dan menyebabkan banjir. Karena kurangnya
tempat resapan air di daerah gedung-gedung.
Tidak hanya itu saja, tentunya
gedung-gedung ini akan membutuhkan air bersih, sedangkan jika pemasokan air
kurang. Lalu apa yang terjadi?
Itu akan menjadi masalah baru. Kemudian
dengan menghalalkan segala cara menyebabkan para pemilik gedung melakukan
penyedotan air secara tidak karuan. Akibatnya, banyak terjadi pengeboran air
yang tidak sedikit. Saya sebagai warga Jawa Timur jika mendengar kata
pengeboran sedikit agak trauma. Kenapa?
Jawabannya, karena kegelisahan ini
terhadap peristiwa yang sudah terjadi. Lumpur panas lapindo. Bisa saja,
walaupun hanya melakukan pengeboran kecil-kecilan, pikiran nakal dan tak masuk
akal ini selalu saja melintas.
Bagaimana nantinya jika banyak terjadi
pengeboran dan mengeluarkan lumpur panas lagi? Pertanyaan itu selalu terngiang
jika membayangkan kota Surabaya saat ini.
Terkadang jika bercerita kepada
teman-teman saya selalu ditertawakan. Jika Anda menertawakanku lewat tulisan
ini, wah, Anda nyari gara-gara dengan
saya. Sudahlah! Saya tekankan, pemikiran orang berbeda-beda, bentuk kepalanya
pun tak sama. Jadi wajar, dong, jika
memiliki isi kepala yang beda-beda pula. Oh, no….
Sudahlah, kuakhiri halusinasiku. Dalam
benakku, Surabaya pasti akan baik-baik saja. Toh, apa hubungannya pengeboran air sama pengeboran minyak lumpur
lapindo?
Dasar tukang hayal! Pikiran macam apa
itu! Lalu saya tersenyum. Saya menghela nafas panjang, bus rupanya tak kunjung
tiba. Mataku perlahan mulai lengket, kupejamkan mataku hingga aku tertidur
lelap.
Penyerahan kenang-kenangan oleh FOK Undiksha kepada FIO UNESA
Tak terasa sampai juga di UNESA. Aku
menyaksikan kembali gedung-gedung baru yang ada di kampus Lidah Wetan UNESA.
Gedung baru tersebut merupakan rektorat baru UNESA. Karena rektorat telah
pindah di kampus Lidah Wetan.
Beberap menit kemudian bus kami tiba di tempat. Tercapai sudah acara temu kangen Fakultas Olahraga (FOK) Undiksha dengan Fakultas Ilmu Olahraga (FIO) UNESA dalam kunjungan studi 2019. Oh, Surabayaku ternyata kamu telah berubah. [T]
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...