Bagai si pungguk merindukan beasiswa, eh merindukan bulan, eh merindukan buku, akhirnya buku yang dirindukan pungguk ketemu juga.
Dari dulu ingin sekali saya memiliki buku Sastra
Nasionalisme Pascakolonialitas karya Katrin Bandel. Ya, seperti pungguk
meridukan buku.
Padahal, seperti pungguk buruk rupa, saya tak
mengerti banyak soal kritik sastra. Maka isenglah saya mencari-cari bagaimana rupa
dan wajah teks kritik sastra itu. Saya belajar sana-sini, sedikit-sedikit, tapi
lama-lama perasaan ini menjalar ke sekujur tubuh sehingga niatan untuk mencari
buku kritik sastra yang benar-benar bernas dan serius dan berani, terus
menggebu.
Saya pun memcari buku Katrin Bandel lewat dunia maya. Karena ternyata buku itu sudah lama ada di dunia nyata, tapi dasar saya memang pungguk, ya, tahunya baru belakang-belakangan ini.
Pencarian di toko buku dunia maya-maya pun
dilakukan. Dari sekian toko buku hanya dua toko buku yang menuliskan stok sisa
1.
"Selamat siang, Mas," pesan saya kirimkan
ke salah satu narahubung toko buku tersebut, sembari mengirimkan link
dagangannya. Sepuluh menit tidak dibalas, saya mulai tidak enak badan, mual,
perut kembung dan perasaan buku diambil duluan oleh orang jahat* pun tumbuh.
*Jahat di sini merujuk pada kutipan Joseph Brodsky
yang kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia bunyinya begini, "Ada yang
lebih jahat dari membakar buku, tidak membacanya!". Nah, saya kan takut
itu terjadi, saya pun mengirimkan pesan lagi.
"Mas.., Haloo .. cek, Mas! Cek.."
"P"
"P"
"P"
"P"
Kata teman saya, kalau kita mengirimkan pesan dengan
hanya huruf P, itu semacam ketika kita menggunakan BBM, jadi secara tidak
langsung itu akan menimbulkan getar pada HP. Entah benar atau salah, saya melakukannya
siapa tau aji mumpung.
Entah HP Mas-nya getar atau merasa terganggu oleh
chat yang seperti itu, dia pun membalasnya, "Wah kalau itu sudah habis
dulu mas. Yang lain mau, Mas?"
Saya pun menjawab, "Tidak Mas, tyada yang bisa.
Saya tak bisa bersanding dengan yang lain."
"Okeee! Bye!" Mas-nya membalas
ketus.
Singkat cerita, suatu hari di Jogja diadakanlah
sebuah Festival Literasi dan Pasar Buku. Karena hati kecil saya waktu itu
mengatakan akan ada banyak buku bagus nan langka, saya pun berangkat ke sana.
Perjuangan naik kereta selama 12 jam pun terbayarkan
ketika saya menemukan buku ini di tumpukan dan tak terlihat ada yang
mencarinya, seketika itu saya mengambilnya. Berikut saya tuliskan kenapa buku
ini ingin sekali saya miliki.
KMTKI
Membaca buku ini kita akan dihadapkan pada persoalan
kritik sastra yang dilakukan begitu menarik oleh Katrin Bandel kepada karya
sastra Indonesia pra dan pascakolonial. Katrin Bandel, dari namanya kayaknya
udah bandel dan suka banget mengkritik ya.
Katrin Bandel adalah seorang penulis yang berasal
dari Jerman. Dia menyelesaikan doktor dalam sastra Indonesia pada tahun 2004 di
Universitas Hamburg, Jerman dengan judul "Pengobatan dan Ilmu Gaib dalam
Prosa Modern Indonesia".
Buku Sastra Nasionalisme Pascakolonialitas karya Katrin Bandel
Katrin adalah seorang Indonesianis. Karena merasa
ikut memiliki sastra Indonesia kebanyakan penelitiannya menggunakan bahasa
Indonesia ketimbang menggunakan bahasa Inggris.
Tujuannya tak lain agar orang Indonesia sendiri
punya kesempatan untuk mengakses penelitian-penelitian sastra di Indonesia.
Lah, kok saya tau? Eits, saya bukan balian, cuman baca beberapa sumber
aja.
Ada beberapa bab dalam buku Sastra Nasionalisme
Pascakolonialitas karya Katrin Bandel. Seperti pada bab Kesastraan Melayu
Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia (KMTKI), Katrin mekritik penerbitan KMTKI
dilakukan jelas dalam kerangka politik identitas.
Bagi Katrin sendiri penerbitan KMTKI ini dipahami
sebagai bagian dari kebangkitan politik identitas etnis Tionghoa setelah
runtuhnya Orde Baru. Hal tersebut terungkap dengan cukup eksplisit dalam antologi
itu sendiri.
Dalam pengantar "Sekapur Sirih" dijelaskan
bahwa "kepeloporan [Peranakan Tionghoa] dalam proses kebangsaan Indonesia
melalui perkembangan Kesastraan Melayu Tionghoa selama ini kurang mendapat
pengakuan. Penjelasan ini mengisyaratkan bahwa tujuan penerbitan adalah untuk
menuntut agar sekian banyak karya yang selama ini dilupakan, diakui sebagai
bagian dari sastra Indonesia.
Dalam bab yang sama Katrin juga mengkritik soal isi
dari KMTKI ini, apalagi yang jilid 1. Meskipun antologinya berjudul
Kesusastraan, apalagi jika mengarah kepada pengakuan sebagai karya yang
bernilai "sastra", antologi ini sudah melenceng karena di KMTKI jilid
1 terdapat dua teks yang jelas-jelas bukan karya sastra yaitu "kitab
eja" yang tampaknya disusun sebagai bahan ajar anak-anak sekolah dasar dan
juga informasi dan ulasan mengenai olahraga tinju.
Jadi, antologi ini pun dikritiknya sebagai antologi
yang dipenuhi ketidaktegasan mengenai kriteria pemilihan karya.
Laskar
Pelangi
Pada bab Laskar Pelangi, dia mempertanyakan posisi
Laskar Pelangi sebagai sebuah karya terjemahan atau sanduran. Hal ini karena
pada versi bahasa Inggrisnya ada begitu banyak pembaruan yang dilakukan bahkan
hingga melebihi 10 bab dari versi aslinya.
Sehingga, ada sedikit kerancuan jika karya tersebut
dikatakan sebagai sebuah karya terjemahan karena selain ditambahkannya bab yang
tak sedikit, hadirnya karakter baru juga membuat karya versi bahasa Inggris ini
semakin jauh dari aslinya meskipun dari segi judul, versi bahasa Inggris
diterjemahkan langsung menjadi The Rainbow Troops. Versi Inggris
"diterjemahkan" Angie Kilbane.
Andrea Hirata tidak hanya sekedar memposisikan diri
sebagai penghibur tapi juga sebagai sejenis pembela keadilan. Namun dengan
adanya eksotisasi penderitaan dalam beberapa contoh versi inggrisnya, juga
informasi menyesatkan mengenai kebudayaan Indonesia, sistem pendidikan
Indonesia dan sebagainya, lewat kritiknya Katrin mempertanyakan, apakah kita
masih dapat percaya cita-cita luhur Andrea Hirata?
Pada bab yang sama, membaca catatan kaki tentang
pengakuan prestasi ke"internasionalan" Andrea Hirata membuat saya
tertawa.
"Hampir
seratus tahun kita menanti adanya karya anak bangsa yang mendunia, tapi
alhamdullilah hari ini semua terbukti setelah buku saya menjadi best seller
dunia."(metrotvnews.com, 12 Februari 2013).
Lucu saja, Andrea Hirata begitu pongah mengakui
prestasi keinternasionalannya, apa dia tidak sadar Pramoedya Ananta Toer pernah
mendapat nominasi nobel dan karyanya diterjemahkan dalam beberapa bahasa bin
digunakan sebagai buku yang harus dibaca untuk belajar tentang Indonesia?
Andrea Hirata kini memposisikan diri sebagai penulis
Indonesia yang sukses di luar negeri. Namun, siapa sebetulnya yang menulis
novel yang sukses di luar Indonesia tersebut? Apakah The Rainbow Troops
merupakan karya Andrea Hirata sendiri? Ataukah itu kolaborasi antara dirinya
dan Angie Kilbane?
Seksualitas
dan Sastra Indonesia
Tak berhenti di sana, Katrin juga menyinggung
Seksualitas dalam Sastra Indonesia. Salah satunya, kritiknya kepada Saman karya
Ayu Utami yang bagi pembaca dikaitkan dengan feminisme, kebebasan seksual, dan
kebaruan dalam dunia sastra Indonesia dikatakan olehnya adalah sebuah bentuk
yang salah kaprah.
Bagi Katrin membaca Saman karya Ayu Utami tidak
memberinya informasi apapun mengenai feminisme. Dia pun sangat menyayangkan jika
ada orang yang menyamakan atau secara spontan menghubungkan feminisme dengan
Ayu Utami, atau menyamakan feminisme dengan pembebasan seksual atau dengan seks
bebas.
Definisi feminisme yang keliru tersebut cukup
merugikan menurut pandangan Katrin karena menimbulkan kesan seakan-akan
"maju" atau "terbelakang" nya seorang perempuan tergantung
terutama pada perilaku seksualnya.
Hal ini dijelaskannya begitu runut hingga kritik
mengarah ke tulisan Goenawan Mohamad (GM) yang berbicara soal Ayu Utami dan
karyanya "The Body is Heard" yang cenderung politis.
Dalam tulisannya, GM mengatakan bahwa Ayu Utami pada
rejim Orde Baru adalah salah satu dari sangat sedikit penulis Indonesia yang
melawan kecenderungan umum apalagi Ayu Utami dikatakan memiliki bahasa yang
khas.
Pernyataan GM yang seperti itu sempat dikritik oleh
Katrin karena dipandang sebagai pernyataan yang sangat berlebihan. Karena bagi
Katrin sendiri sebagian besar sastrawan pada rejim itu bersikap kritis, apalagi
tahun-tahun terakhir rejim. Sastrawan pada masa itu justru mencari gaya dan
cara penyampaian kritik yang berbeda (karena kebebasan berpendapat sangat
terbatas) sehingga tidak menyampaikan protes dengan lantang.
Lebih jauh Katrin juga mengkritik soal GM yang
menghubungkan persoalan perlawan terhadap rejim Orde Baru dan persoalan bahasa
Ayu Utami yang konon menjadi terobosan baru tersebut dengan keperempuanan.
Katrin mempertanyakan seperti apa bahasa terobosan
baru yang khas? Yang begitu feminis? Yang menghadirkan tubuh dalam bahasa? Maka
bagi Katrin sendiri semua itu hanya klaim yang cukup luar biasa. Yang sulit
dipahami karena memakai kata atau ekspresi yang kurang lazim digunakan atau
bahkan tidak pernah digunakan dalam bahasa Indonesia.
Maka, bagi Katrin, GM dalam tulisannya hanya
menuliskan asumsi dan renungan abstrak yang tidak dipertanggungjawabkan lewat
argumentasi dan bukti.
Rekomendasi
Nah, itu sedikit bocoran dalam buku ini hehe. Masih
buanyak hal seru lainnya yang kawan-kawan pasti dapat lewat buku ini. Saya
merekomendasikan buku ini bagi kawan-kawan yang tertarik untuk tahu beberapa
esai kritik sastra Katrin Bandel pra dan pascakolonial.
Buku ini juga mengajak kita untuk melihat
celah-celah kecil gagasan yang diusung oleh beberapa karya sastra agar tak
terbawa oleh arus sastra yang dipolitisi. Ya selain sebagai bacaan latihan
belajar berpikir kritis kawan-kawan semua. Belajar sepanjang hayat toh?
Sering-sering buka tatkala.co, di kolom RAK
BUKU nanti kita bicara buku lebih lanjut, jika ada waktu hahaa. Paling tidak,
sebulan sekali ya. Komen jika ada judul buku seru, siapa tau nanti ulasannya di
Rak Buku.
Dua tiga anjing menggonggong, share yang rajin dong.
Terima kasih. [T]
DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang calon wirausaha ditanya mengenai apa y...
SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali seperti sediakala?"
Pertanyaan...
PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya di Jembrana-Bali, yang telah berpulang pada 21 Januari 20...
KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi ini: hutan-hutan terbaik yang be...
"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota Singaraja," ujar Bupati Buleleng, dr. I...
JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan akan datang orang-orang yang dan...
HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai marmer rumah mewah di kawasan elit. Suara temba...
MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA
mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata
jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta kebijakan berbe...
TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar. Di tengah gemuruh tabuh dan warna-warni busa...
RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat dikenali secara utuh dalam epik Ramaya...