Baduy Luar, Etalase Pariwisata Banten
SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami pedesaan juga merasakan nafas kemajuan s...
Enam seniman atau perupa Bali, Djaja Tjandra Kirana, Wayan Redika, Made Wiradana, Made Duatmika, I Ketut Suwidiarta dan IGM Wisatawan, bekerjasama dengan India Council for Cultural Relations (ICCR) menggelar puluhan karya di Indira Gandhi National Centre for the Arts, New Delhi, India, pada 13-20 Maret 2019.
Pameran yang telah di persiapkan sejak 3 bulan sebelumnya mengusung tema Art[i] Factual, merupakan senyawa yang liar antara kata Art, Artifact dan Factual yang secara imajiner dimaksudkan sebagai upaya untuk menggali keagungan karya seni dan kebudayaan masa lampau sebagai titian jejak yang akan member pengaruh besar dalam proses penciptaan menuju karya kekinian yang aktual. Tema semacam ini berlatar pada kondisi kebudayaan Bali dan India yang kaya dan memiliki kemiripan visual dalam bernagai hal.
Kesempatan ini bagi para seniman Bali akan membuka wawasan budaya yang lebih luas terutama persoalan kedekatan kultur relegius antara dua bangsa. Bali memang memiliki pertalian penting dengan India, namun apa yang terjadi di ruang yang lebih nyata akan menjadi focus interaksi para seniman Bali dalam kegiatannya selama berpameran di Negara yang kaya akan sejarah ini.

Salah seorangseniman yang turut diundang, Wayan Redika menjelaskan jika ICCR melalui perwakilannya yang ada di Bali memberikan kesempatan kepada para seniman untuk mengekplorasi sejumlah peninggalan besar yang tercatat dalam kisah Ramayana dan Mahabrata sebagai simpul kedekatan sosial dengan peradaban masyarakat Bali.
Tema Art[i] Factual boleh memberikan bayangan kreasi, namun makna dalam Art[i] Factual tentu memerlukan daya jelajah intuisi dan renungan fikiran yang lebih khusus. Hal yang terkesan sederhana itu tak selalu mudah untuk diwujudkan. “Ini memerlukan kepekaan, kecerdasan imajinatif dan wawasan kebudayaan yang mendalam”, tuturWayanRedika

India memang menjadi rujukan relegi bagi masyarakat Bali, kedua daerah ini selain kaya akan ilham juga sarat peninggalan sejarah. “Lalu bagaimana ilham itu direduksi menjadi gagasan visual, inilah yang menjadi titik tuju pameran Art[i] Factual”, imbuh Redika.
Menurutnya, kesempatan untuk saling berbagi adalah tantangan bagi para seniman untuk meyakinkan orang banyak, bahwa kekuatan seni memang memiliki rasa dan tempat yang sama dari subyek yang lain. Seni memiliki fungsi penyadaran ketika peradaban yang terluka karena ketidaksadaran manusia. Di sini Art[i] Factual berupaya menjadi penyambung dan penyeimbang citra persaudaraan antara Bali dan India.
Di samping pameran lukisan, para seniman akan berbagi rasa, pendapat dan pengalaman berproses bersama para seniman di New Delhi. [T/*]
SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami pedesaan juga merasakan nafas kemajuan s...
DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah mengatakan “pilihan kata (diksi) meng...
SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. Wantilan yang biasanya digunakan...
REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di bidang pertanahan. Selama puluh...
MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir (TA) Proyek Inovatif Seni Pertunjukan, P...
DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus penjaga nilai-nilai keh...
Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata, India. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga terpelaj...
DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa...
BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang menyimak. Malam pertama Juni 2026, itul...
JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat itu adalah Buleleng. Tepat pada...