Topeng Tugek Carangsari – Memainkan Topeng Mengolah Karakter
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
.
Suara batuk menyentak -- batuk yang bisa ditebak milik seorang kakek. Petikan gitar yang menghanyutkan. Lampu netral menembak dekorasi di tengah panggung. Lalu mulai terlihatlah sebuah kursi di atas panggung yang bisa kita bayangkan sebagai sebuah kursi taman.
Daun-daun kamboja kering berserakan di lantai panggung. Beberapa tumbuhan dalam pot plastik yang disandingkan dengan bunga-bunga palsu berwarna terang. Tulisan besar “Dilarang Memetik Bunga” menancap pada salah satu pot plastik.
Dan dua buah lampion dengan pencahayaan flash handphone. Begitu sederhana tapi cukup merubah sebuah tempat parker mejadi sebuah taman. Cahaya biru dari balik tumbuhan pot membuat efek yang bagus dilihat dari tempat penonton yang memandang lurus ke panggung.
Begitulah pementasa teater “Petang di Taman” karya Iwan Simatupang dibuka pada malam, Rabu, 3 Maret 2019, di ruang basement Kampus Bawah Undiksha Singaraja.
Pementasan itu adalah lanjutan dari Pelatihan Dasar Teater (PDT) UKM Teater Kampus Seribu Jendela.
Hari itu memang hari istimewa dengan rasa yang beraneka bagi angkatan Teater Kampus 2016, 2017 dan angkatan 2018 sebagai penggarap utama pementasan teater itu.
Persiapan dilakukan selama dua minggu setelah workshop mengenai dasar-dasar teater yang mereka dapatkan dalam PDT. Waktunya memang lumayan ketat untuk mempersiapkan sebuah pementasan pertama.
Saat itu ada dua naskah yang dibawakan yaitu; Petang Di Taman karya Iwan Simantupang dan Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi karya Gusmel Riyadh.
Pementasan ini bolehlah disebut sebagai sebuah presentasi seusai workshop Pelatihan Dasar Teater. Jadi, pementasan itu masih dalam rangkaian Pelatihan Dasar Teater. Usai pelatihan, pementasan memang dilakukan oleh angkatan baru pada tiap tahunnya.
Mereka akan menerapkan ilmu-ilmu atau pengetahuan-pengetahuan dasar dalam perteateran yang diperoleh saat workshop dalam penggarapan yang dilakukan. Kata beberapa kakak-kakak angkatan, tidak apa jikalau pementasannya tidak terlalu bagus dan mendapat banyak kritik. Itu malah akan sangat bagus dan membatu untuk kedepannya.
Tempat pementasan dipilih basement Kampus Bawah Undiksha dengan beberapa pertimbangan sederhana tentunya. Persiapkan penataan pangung sederhana adan persiapan pemain dilakukan dari pukul 13.00 WITA.
Saya mengunjungi mereka melakukan persiapan dan sampai di kampus saya tertegun melihat bagaimana mereka mempoles para pemain. Polesannya mungkin sudah setara dengan para MUA film Avenger haha.
Pementasan pertama Petang di Taman. Ada empat pemain dalam pemenatasan itu, yakni tiga lelaki (orang tua yang dimainkan oleh Satria Aditya, lelaki paruh baya oleh Indra Putra, dan pencita balon oleh Ritayani) dan satu wanita yang dimainkan Wahyu Gitari.
Nampaknya mereka kekurangan satu pemain lelaki. Tapi pengakalannya bagus dan berani untuk pementasan pertama. Si gadis pengganti salah satu pemain pria, yakni pecinta balon, menngunakan baju biru over size dan celana kodok guna mengakali buah dadanya. Dan penambahan topi untuk menutupi rambut panjang si gadis.
Pementasan memang dibuka dengan cukup tertata, dimulai dengan suara batuk, suara gitar, lampu dan kursi. Penata musik Arie Purnama, penata panggung Jagaditha Ari dan Eva Lidyantari, serta penata lampu Dwi Antari, tampaknya cukup membantu sutradara, Gek Santi, dalam menyukseskan pementasan itu sejak awal.
Setelah pementasan dibuka, pemain kemudian bergantian masuk panggung. Pangungnya yang terbilang sempit, karena terbatas oleh cahaya dan dekorasi. Tapi para pemain bagus dalam mengatur pola gerak mereka, dan pemposisian diri hingga tidah membloking satu sama lain.
Naskah ini berat, banyak simbol-simbol yang diletakan oleh penulis. Tapi pengalian naskah yang tidak dalam malah membuat pementasan mereka mudah untuk dicerna. Bahkan mereka tidak melakukan penggantian adegan. Lagi-lagi sedehana tapi nikmat ditonton.
Banyak adengan dimana pemain beradu argumen. Nada yang tinggi, bahkan dua suasana kacau yang bertemu dalam satu adegan. Seperti saat si orang tua meraung-raung sambil memanggil nama Mince, sementara perempuan dan lelaki paruh baya sedang bersitegang.
Suara mereka tidak saling ,menindih satu sama lain. Back sound memperjelas suasana pada tiap adengan sesuai dengan naskah. Petikan gitar terus mengiringi selama permainan berkangsung dipanggung. Efeknya permainan jadi lebih hidup, dan tidak membosankan.
Pencahayaan yang menggunakan tiga warna lampu. Peletakannya bagus sesuai dengan kebutuhan. Saat menembakan lampu warna merah kearah pemain, warna netral tetap mereka gunakan. Bagus, membuat panggung dan wajah pemain tidak menjadi remang, tetap jelas dilihat.
Ini adalah paragraf penutup pada tulisan saya ini hehe. Dalam sesi diskusi mereka mendapat beberapa kritik, yang menambah pengetahuan mereka. Seperti pengalian atau bedah naskah lebih mendalam. Bersyukur sekali rasanya mereka mendapat kritikan dari orang-orang yang sudah keren dan bergelut lama di teater.
Semoga bekal-bekal semacam itu makin banyak didapat. Membuat Teater Kampus jadi berbudaya. Haha. [T]
BACA JUGA:
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
JIKA di atas meja belajar anda terdapat dua buah benda yaitu gadget dan buku, manakah yang akan anda pilih? Saya percaya, demi sinetron kesukaan ibu-ibu di tivi, kebanyakan dari a...
LAGU anak-anak itu kadang unik, terutama liriknya. Saat Taman Kanak-Kanak dulu kita tidak begitu hirau dan memang tak banyak mengerti arti dan maksud lagunya itu apa. Cuma nyanyi d...
BALI merupakan kepulauan seribu pura yang telah terkenal sejak zaman dahulu. Masyarakat Bali tak lepas dari Tri Hita Karana yang merupakan landasan kehidupan beragama dan beradat....
JIKA benar harga rokok setinggi langit biru, dan jika benar harga tinggi itu bisa menghentikan orang merokok, dan (siapa tahu) nanti benar-benar tak ada yang merokok, bagaimana nas...
PERNAH nyuluh jangkrik? Zaman saya kecil, di desa saya di Jembrana, nyuluh jangkrik (memburu jangrik malam hari) adalah kegemaran saya dan teman sebaya. Jauh-jauh sebelumnya, bapak...
Cerpen: Putri Handayani HAMPIR setiap hari Griya Siwa tidak pernah sepi dari orang-orang yang ngayah1. Mulai dari membuat sarana upakara sampai meracik tirta, semua dilakukan oleh ...
KELAHIRAN istilah 'simakrama' menarik untuk ditelusuri. Awalnya istilah ini yang lebih mengarah pada padanan kata 'silahturahmi', yang mencerminkan keinginan untuk berbicara dan sa...
ADA serombongan remaja sedang berebut peran. Mereka akan menjadi pelakon sandiwara dalam perayaan Agustusan tingkat RT. Peran konglomerat, menteri, dokter, mahasiswa, semua mereka...
GARIS berliku itu menyerupai sungai. Lebar di hulu kemudian menyempit di hilir. Warnanya hijau, biru, dan jingga. Garis berliku serupa sungai itu membelah lukisan menjadi dua bagia...