Hari Raya Nyepi di Bali itu tidak sama dengan hari Minggu, apalagi malam minggu, wong Nyepi kok disamain dengan malam minggu. Enggak mungkinlah yaa…
Berbicara tentang Hari Raya Nyepi memang sungguh
berkesan. Buktinya, menjelang Hari Raya Nyepi saja, tatkala.co sudah diserbu
habis-habisan oleh tulisan-tulisan cantik.
Berikut ini, saya telah merangkum lima tulisan
cantik yang memiliki kaitan dengan penyambutan Hari Raya Nyepi dari media
tatkala.co:
Pertama:Melasti Kekinian Tak Perlu “Ma-songket-an” dan “Nyalon” dari Putu Lilik Surya Ariani - seorang wartawan baik hati. Tulisan tersebut menyuarakan kalau tampilan melasti saat sekarang lebih ramah, simpel dan mengerti sesama, serta mengurangi perlombaan tebar pesona harta benda. Dengan seperti itu, melasti sekarang tidak menjadi ajang pameran harta benda. Nyepi bisa lebih tentram terasa.
Kedua:Panduan Nyepi ala Cangak karya IGA Darma Putra - penulis keren dari Bangli. Tulisan ini menawarkan delapan metode Nyepi yang perlu dilakukan supaya Anda tidak terkena kartu merah. Apalagi kartu merahnya di garis penalti, nanti suporter e bisa marah-marah.
Ketiga: Nyepi Diri karyaDewa Putu Sahadewa yang mengajak kita untuk nyepi diri dengan cara menarik diri ke dalam, sehingga kita bisa sampai ke titik hening alam raya. Tidak seperti anu-anu itu, yang selalu menarik masalalu sehingga masa sekarang menjadi tidak menentu.
Keempat:Nyepi: Terapi Kesehatan, Terapi Kita, Bumi dan Peradaban dari Pak Dokter Putu Arya Nugraha. Tulisan ini menerangkan tentang filosofi Nyepi sebagai terapi efektif untuk bumi dan bahkan untuk jiwa dan raga manusia. Bukan nyepi gara-gara jomlo yaa… itu mah, beda lagi cerita.
Kelima:Belajar Iklas dari Pertiwi karya I Gusti Agung Paramita - pengajar di FIAK Unhi Denpasar. Tulisan ini mengatakan, sebenarnya kita bisa belajar kebhinekaan dan keragaman dari tanah. Karena, dari tanahlah kita bisa menumbuhkan sikap nrimo dan iklas atas apapun yang meresapi. Cobak, mana ada tanah yang mengeluarkan jurus seribu bayangan atau jurus pendekar dari Gua Hantu ketika dikencingi. Atau mana ada tanah yang mengutuki kaki-kaki yang menginjaknya walaupun di antara kaki-kaki itu ada kaki orang ateis-nya. Kalau begitu, resepnya apa, bli? Yaa, Nyepi dong…
Tunggu sebentar! Ini sampean mau cerita apa, sih?
Kok malah nggak nyambung sama judul.
Begini:
Karena membaca tulisan-tulisan filosofis itu, saya
bersemangat menikmati Nyepi di Bali – jadi tidak berniat untuk keluar Bali,
apalagi harus pulang kampung ke desa saya di Sumatera sana. Meski tidak
sekhidmat warga Hindu di Bali, setidaknya saya akan merasakan aura Nyepi, yang
tentu saja memang sepi.
Maka, menjelang Hari Raya Nyepi, saya bersama tiga
orang sahabat saya dari Compok Basi (sebuah komunitas kreatif, hehehe, di
Singaraja) sepakat menyusun strategi. Karena kami berempat (kebetulan) beragama
Islam, maka kami pun merencanakan untuk Nyepi bersama-sama di Gerokgak, di
rumah Fathorrahman Zairazi, salah seorang dari sahabat saya itu. Kebetulan juga
dia sudah lama tidak pulang kampung.
Pada hari Rabu, 6 Maret 2018, sehari menjelang
Nyepi, sekitar jam 11 siang, saya, Fathorrahman Zairazi, Muhammad Fathur Rozi,
dan B.B. Soegiono berangkat dari Singaraja menuju Gerokgak. Kami berangkat
menggunakan dua kendaraan sepeda motor. Kendaraan kami melaju secara
beriring-iringan.
Di tengah-tengah perjalanan, tiba-tiba hujan turun
melanda, angin pun berhembus kencang serta menerpa dedaunan di pinggiran jalan.
Kami pun memutuskan untuk singgah di salah satu supermarket yang ada di
Lovina. Karena hujan tidak juga kunjung reda, kami kemudian membeli mantel
hujan di supermarket tempat kami singgah itu. Setelah mantel hujan kami
dapatkan, kemudian kami melanjutkan perjalanan meskipun pada saat itu hujannya
masih sangat-sangat lebat.
Setelah agak lama di perjalanan, tiba-tiba hujan pun
reda, dan kami berempat tetap melanjutkan perjalanan. Tidak lama setelah itu,
kemudian hujan lebat kembali turun melanda. Aduuhh e… Hujan lagi!
Di sepanjang perjalanan kami menyaksikan bagaimaba
warga mempersiapkan pawai ogoh-ogoh yang biasanya dilaksanakan sore hari, yakni
sehari sebelum Nyepi. Kasian anak-anak muda itu, karena hujan, persiapan mereka
jadi sedikit terganggu.
Kira-kira pukul 13.30, akhirnya kami tiba di
Gerokgak, di rumah Fathorrahman Zairazi. Ketika itu, di rumah dia tidak ada
siapa-siapa. Berdasarkan apa yang dia disampaikan ketika saya tanya kenapa
tidak ada siapa-siapa di sana, dia pun menjawab kalau ayahnya sedang bekerja
dan belum pulang dari pekerjaan. Karena kami berempat sama-sama merasa lelah,
kemudian kami beristirahat sebentar di pelantaran rumah sahabat saya itu.
Pantai
yang Sepi
Tepat pukul 14. 30, kami berangkat ke sebuah pantai
dengan berjalan kaki, dan sampai di tempat tujuan sekitar dua puluh menit
kemudian. Pantai itu sungguh indah. Pohon-pohon bakau tumbuh subur di sana
serta lumut-lumut hijau mengapung di permukaan air laut bagian tepi.
Pantai itu sepi. Ternyata masih ada pantai yang sepi
di Bali. Bayangan saya, dulu, semua pantai di Bali itu seperti Kuta atau Nusa
Dua. Kalau pantai di Kuta itu pastilah sepi pada saat Nyepi. Namun pantai di
sudut Gerokgak ini benar-benar sepi, padahal Nyepi belum mulai.
Pemandangannya pun indah dan memanjakan mata kami.
Tidak hanya itu! Ternyata ada hal lain lagi yang lebih menggoda. Di atas
lumut-lumut hijau yang mengapung itu, tampak bertebaran sekian banyak kepiting
dan lobster. Fathorrahman Zairazi, Muhammad Fathur Rosi, B.B. Soegiono, dan
saya, ketika itu langsung berburu kepiting dan lobster.
Tetapi, kami tidak mengambil semuanya, karena kami
tidak serakus itu. Kami hanya mengambil secukupnya saja untuk kami masak nanti
malam apabila sudah kembali ke rumah Fathorrahman Zairazi.
Ketika sinar matahari sudah tidak terang lagi, kami
pun kembali pulang. Ketika sedang dalam perjalanan, Muhammad Fathur Rosi mengatakan
kepada kami kalau pantai yang baru saja kami datangi itu tidak boleh diketahui
oleh para pemodal nakal.
B.B. Soegiono kemudian meneruskan perkataan itu
dengan celotehan: kalau itu diketahui oleh para pemodal nakal, takutnya nanti
di Bali ini tidak ada lagi pantai yang indah bagi warga sekitarnya. Kami
serentak tertawa.
Nyepi
dengan Cerita Sastra
Pada hari Kamis, 7 Maret 2018, Nyepi sudah
diselenggarakan. Kami baru bangun tidur kira-kira pukul 10 siang. Keadaan
benar-benar sepi. Tidak ada suara kendaraan dari luar. Jaringan internet pun
ikut-ikutan sepi, eh bukan sepi lagi malahan, tapi mampus.
Pada siang hari itu, kami makan bersama dengan ayah
Fathorrahman Zairazi. Kami tidak terlalu banyak berbincang. Setelah makan siang
usai, kami mulai sibuk dengan kesibukan kami masing-masing. Ada yang menulis.
Ada yang membaca buku. Ada juga yang menonton vidio.
Ketika malam hari sudah tiba, keadaan terasa semakin sepi, dari jendela kamar saya mengintip ke luar, dan keadaan di luar benar-benar gelap sekali. Di dalam rumah, kami menggunakan penerangan secukupnya. Kami menggunakan penerangan kecil saja, hanya di dalam kamar, dan sinarnya sekiranya tidak sampai memancar ke luar rumah. Kenyataannya bagaimana, saya tidak tahu betul, karena tidak ada di antara kami yang mencoba melihatnya dari luar.
Setelah selesai makan malam, kemudian Ayah
Fathorrahman Zairazi bercerita. Pertama-tama dia bercerita tentang sastra. Dia
menceritakan kisah Zainudin dalam novel Tenggelamnja Kapal Van der Wijck
karangan Buya Hamka dan kisah cinta Kais dalam buku Layla dan Majnun.
Airmata lelaki tua itu tampak membayang-bayang pada
kedua belah matanya. Dia bergetar menceritakan kisah percintaan yang baru saja
dia ceritakan. Dia secara terbuka mengatakan kepada kami bahwa dia mengalami
kisah seperti itu.
Setelah beberapa lama berlalu, kemudian pembicaraan
kami berganti topik. Kami mulai membicarakan tentang kerukunan penduduk
beragama Hindu dengan penduduk beragama Islam di Gerokgak.
Di Gerokgak, kerukunan penduduknya sangat toleran. Apabila ada upacara keagamaan dari agama Hindu, maka orang-orang muslim di sana ikut membantu, dan apabila ada upacara keagamaan Islam, maka orang-orang beragama Hindu ikut pula membantu.
BACA:
Kira-kira pukul 23.00 kami pun segera berbaring di
atas tempat tidur. Tidak terasa kami berempat tertidur karena kelelahan.
Keesokan harinya, ketika kami bagun, tiba-tiba jaringan internet sudah muncul
di ponsel kami masing-masing. Nyepi pun sudah berlalu. Kami kembali sibuk
dengan ponsel milik kami masing-masing.
Kalau Anda ingin melakukan perjalanan beriringan
dengan kami, itu sudah terlambat, kami sudah pada balik ke Singaraja. Namun, di
lain waktu, kami akan senang kalau ditemani oleh Anda. Apalagi Anda-Anda cewe
cantik yang masih jomlo. Hehehee… enggak lucu ya? Yuk ketawain saja saya… [T]