Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
.
Ini adalah pementasan kedua dari UKM Teater Kampus Seribu Jendela, Minggu, 03 Maret 2019, sebagai rangkaian Pelatihan Dasar Teater yang digelar kelompok teater kampus itu.
Panngungnya masih di basement Kampus Bawah Undiksha sebagaimana pementasan pertama, Petang di Taman. Namun, lokasi lebih spesifik adalah toilet basement. Dan kali ini tidak ada kain hitam sebagai back drop. Pemilihan tempat dipertimbangkan sesuai naskah oleh tim produksi. Setidaknya toilet dan kamar mandi itu masih ambigu di masyarakat kebanyakan, haha.
Pemain dalam naskah ini cukup banyak. Semua anggota tim bermain di dalamnya. Efeknya ada sedikit kewalahan dan kesalahpahaman dalam pengantian setting panggung. Naskah ini dibawakan dengan cukup kocak.
Babak pertama dimulai dengan adegan Pak RT, hansip dan dua warga laki-laki menguping Suz yang sedang mandi di kamar mandi. Adegan ini saya rasa potongan dari babak ketiga, atau adegan paling kuat dalam naskah ini. Bisa dibilang spoiler sedikit diawal.
Proyeksi cahaya dalam pementasan naskah ini sedikit lebih luas dari pementasan sebelumnya “Petang di Taman” yang membuat panggung terlihat lebih luas pula. Dalam permainan ini mereka menambah satu adegan pada babak pertama.
Sempat saya tanya pada pemain mengapa demikian, katanya biar tidak mulai dari nol, seperti apa yang mereka dapat dalam workshop Pelatihan Dasar Teater. Saya tertawa kecil sambil membagi sedikit tentang apa yang saya ketahui tentang apa itu tidak mulai dari nol.
Yang paling saya suka dari pementasan naskah ini adalah ketika Pak RT, hansip, dan beberapa warga menguping saat Suz mandi. Lampu kuning ditaruh dalam di kamar mandi sehingga siluet seorang wanita yang mencopoti pakaiannya satu-satu tergambar jelas pada tembok. Menambah kesan bikin meringding dan seksi.
Dalam pementasan naskah ini lumayan banyak pembelajaran yang didapat. dari speaker mati dan menggeluarkan suara yang tidak perlu, lampu untuk siluet di kamar mandi yang sempat tak ketemu tombol pengontrolnya di mana. Hingga pemain yang tak sengaja menendang lampu saat penggantian setting panngung.
Pementasan ini lumayan singkat. Saat sesi duskusi pendalaman naskah cukup banyak dibahas. Sutradara dari pementasan ini menyebutkan bagaimana proses kreatif mereka menggarap adegan dalam naskah ini. Dan karakter apa yang harus mereka perlihatkan.
Pendalaman naskah mempengaruhi pengelolaan pemain dan pendukung begitu banyak. Pemain yang harusnya terlihat kuat yaitu Suz malah tak begitu nampak. Suara pendukung seperti suara jebyar-jebyur air saat Suz mandi, suara tali BH yang sebenarnya sangat kuat malah dihilangkan. Setidaknya begitulah yang Ibu Kadek Sonia Piscayanti (Pembina UKM Teater Kampus Seribu Jendela) sampaikan.
Saya senang teman-teman belajar, berusaha, dan berani menerapkan pengetahuan yang mereka dapat saat pelatihan dasar teater dalam garapannya. Mesipun belum mencapi apa yang dimaksud dalam workshop.
Maka dari itu kami harus menggiati lagi teater lebih dan lebih. Saat menggarap pementasan kami akan berproses. Sekaligus mendapat ilmu-ilmu baru. Mentargetkan apa yang ingin kami capai juga terdengar bagus haha. Sekian. [T]
BACA JUGA:
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...