Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
Dimulai dengan penyelenggaraan melis, ia disimbolkan dengan menyucikan sarana-sarana upakara ke laut. Laut atau sungai yang bermuara ke dalamnya adalah cermin kebersihan alam kita. Tradisi ini telah memaksa kita, setidaknya setahun sekali, menyaksikan kelakuan kita dalam memperlakukan alam.
Sampah yang menumpuk di pantai laut atau sungai adalah sebuah petunjuk yang lugas, kita terlalu jahat terhadap bumi. Lalu, pementasan ogoh-ogoh yang hingar bingar. Ia bahkan menyimpan sebuah misteri yang nian elok berseri. Tutup mata kita, lalu jejaki tahap demi tahap tradisi berkesenian ini.
Ogoh-ogoh yang telah dikreasi sedemikian seni dan menuntun spirit komunal dalam penciptaannya, diarak dalam alunan gamelan yang mengguncang angkasa, pada akhir ia lalu disempurnakan oleh api menjadi abu. Segalanya akan berakhir.
Setiap akhir adalah kesempurnaan, tersisalah kemudian yang abadi adalah nilai-nilainya. Sebuah nilai keikhlasan. Ogoh-ogoh akan sempurna dalam ikhlasnya menjadi abu, bukan tersimpan kaku di museum-museum. Karena itulah hakikatnya ia.
Seperti seorang dokter, ia sempurna saat telah melayani pasien-pasiennya dengan sebaik-baiknya ikhlas, entah kemudian pasiennya sembuh atau mati. Karena itulah hakikatnya seorang dokter dan hakikat seorang pasien, sembuh atau mati.
Terlalu besar ambisi kita saat ingin menyelamatkan jiwa seseorang ketika ia telah membawa hakikatnya sendiri. Namun jika telah kita tuntaskan tugas-tugas kita dengan cara-cara terhebat, entah sebagai dokter atau sebagai manusia, itulah kesempurnaan.
Ada sebuah gerakan universal bernama Earth Hour, yaitu sebuah kampanye hemat energi dengan mematikan lampu listrik selama enam puluh menit. Nyepi melakukannya selama 24 jam sejak puluhan tahun yang lalu.
Dalam satu jam itu emisi CO2 mampu ditekan hingga 122,22 ton, maka dapat kemudian diperkirakan seberapa besar keramahan lingkungan itu jika dihitung dalam 24 jam. Alam tanpa listrik adalah sehat karena begitulah aslinya. Cuma mentari dan rembulan yang punya panggung di sana, berbagi tugas di siang hari dan malam hari.
Bahkan secara natural, sinar ultra violet, bagian dari cahaya mentari yang dapat merusak organisme telah dijinakkan oleh apa yang kita sebut sebagai lapisan ozone. Namun lapisan ozone pun telah kita koyak beramai-ramai dengan berbagai alat listrik. Sepertinya filosofi Nyepi tak saja terapi efektif untuk bumi, lebih-lebih untuk tubuh kita, jiwa dan raga kita.
Saat hidup kita kini telah menghasilkan lebih banyak radikal bebas maka kehidupan itu sendiri adalah sumber penyakit. Maka nilai-nilai esensi perayaan Nyepi adalah untaian antioksidan.
Gugusan elektron inilah yang diharapkan dapat memutus radikal bebas rantai perusak yang liar dan reaktif. Ia tak cuma dapat merusak pembuluh darah penyebab stroke atau serangan jantung, juga bertanggung jawab terhadap proses penuaan yang meluncur lebih cepat bahkan terjadinya mutasi gen penyebab kanker.
Memadamkan amarah (amati geni), menundukkan hasrat hedonisme (amati lelanguan), beristirahat yang cukup (amati kriya dan amati lelungaan), adalah akumulasi antioksidan yang bernutrisi tinggi. Ia dapat menata setiap elemen metabolisme tubuh berada pada track yang semestinya.
Kemarahan, secara neurohormonal akan menginduksi apa yang kita sebuat dengan simpatic drive, yaitu peningkatan produksi hormon adrenalin. Hormon ini dalam jumlah yang terukur dapat memberi efek kewaspadaan, namun jika ia berlimpah justru dapat memprovokasi tubuh menjadi agitatif.
Agitatif adalah sebuah disorder, ia merusak dari dalam. Jadi amati geni adalah untuk memadamkan api kemarahan.
Istirahat yang cukup adalah antioksidan itu sendiri. Ia memberi kesempatan sel-sel kita untuk tidur tanpa mimpi, itu memberikan waktu yang cukup untuknya beregenerasi. Regenerasi melawan laju degenerasi, maka Nyepi telah memberi sel, jaringan, organ & sistem organ untuk bertumbuh dalam keriangan.
Dalam filosofi yang mendalam, Nyepi kuasa memberi terapi untuk tubuh kita, dunia dan peradaban manusia. [T]
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...