‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
Dimulai dengan penyelenggaraan melis, ia disimbolkan dengan menyucikan sarana-sarana upakara ke laut. Laut atau sungai yang bermuara ke dalamnya adalah cermin kebersihan alam kita. Tradisi ini telah memaksa kita, setidaknya setahun sekali, menyaksikan kelakuan kita dalam memperlakukan alam.
Sampah yang menumpuk di pantai laut atau sungai adalah sebuah petunjuk yang lugas, kita terlalu jahat terhadap bumi. Lalu, pementasan ogoh-ogoh yang hingar bingar. Ia bahkan menyimpan sebuah misteri yang nian elok berseri. Tutup mata kita, lalu jejaki tahap demi tahap tradisi berkesenian ini.
Ogoh-ogoh yang telah dikreasi sedemikian seni dan menuntun spirit komunal dalam penciptaannya, diarak dalam alunan gamelan yang mengguncang angkasa, pada akhir ia lalu disempurnakan oleh api menjadi abu. Segalanya akan berakhir.
Setiap akhir adalah kesempurnaan, tersisalah kemudian yang abadi adalah nilai-nilainya. Sebuah nilai keikhlasan. Ogoh-ogoh akan sempurna dalam ikhlasnya menjadi abu, bukan tersimpan kaku di museum-museum. Karena itulah hakikatnya ia.
Seperti seorang dokter, ia sempurna saat telah melayani pasien-pasiennya dengan sebaik-baiknya ikhlas, entah kemudian pasiennya sembuh atau mati. Karena itulah hakikatnya seorang dokter dan hakikat seorang pasien, sembuh atau mati.
Terlalu besar ambisi kita saat ingin menyelamatkan jiwa seseorang ketika ia telah membawa hakikatnya sendiri. Namun jika telah kita tuntaskan tugas-tugas kita dengan cara-cara terhebat, entah sebagai dokter atau sebagai manusia, itulah kesempurnaan.
Ada sebuah gerakan universal bernama Earth Hour, yaitu sebuah kampanye hemat energi dengan mematikan lampu listrik selama enam puluh menit. Nyepi melakukannya selama 24 jam sejak puluhan tahun yang lalu.
Dalam satu jam itu emisi CO2 mampu ditekan hingga 122,22 ton, maka dapat kemudian diperkirakan seberapa besar keramahan lingkungan itu jika dihitung dalam 24 jam. Alam tanpa listrik adalah sehat karena begitulah aslinya. Cuma mentari dan rembulan yang punya panggung di sana, berbagi tugas di siang hari dan malam hari.
Bahkan secara natural, sinar ultra violet, bagian dari cahaya mentari yang dapat merusak organisme telah dijinakkan oleh apa yang kita sebut sebagai lapisan ozone. Namun lapisan ozone pun telah kita koyak beramai-ramai dengan berbagai alat listrik. Sepertinya filosofi Nyepi tak saja terapi efektif untuk bumi, lebih-lebih untuk tubuh kita, jiwa dan raga kita.
Saat hidup kita kini telah menghasilkan lebih banyak radikal bebas maka kehidupan itu sendiri adalah sumber penyakit. Maka nilai-nilai esensi perayaan Nyepi adalah untaian antioksidan.
Gugusan elektron inilah yang diharapkan dapat memutus radikal bebas rantai perusak yang liar dan reaktif. Ia tak cuma dapat merusak pembuluh darah penyebab stroke atau serangan jantung, juga bertanggung jawab terhadap proses penuaan yang meluncur lebih cepat bahkan terjadinya mutasi gen penyebab kanker.
Memadamkan amarah (amati geni), menundukkan hasrat hedonisme (amati lelanguan), beristirahat yang cukup (amati kriya dan amati lelungaan), adalah akumulasi antioksidan yang bernutrisi tinggi. Ia dapat menata setiap elemen metabolisme tubuh berada pada track yang semestinya.
Kemarahan, secara neurohormonal akan menginduksi apa yang kita sebuat dengan simpatic drive, yaitu peningkatan produksi hormon adrenalin. Hormon ini dalam jumlah yang terukur dapat memberi efek kewaspadaan, namun jika ia berlimpah justru dapat memprovokasi tubuh menjadi agitatif.
Agitatif adalah sebuah disorder, ia merusak dari dalam. Jadi amati geni adalah untuk memadamkan api kemarahan.
Istirahat yang cukup adalah antioksidan itu sendiri. Ia memberi kesempatan sel-sel kita untuk tidur tanpa mimpi, itu memberikan waktu yang cukup untuknya beregenerasi. Regenerasi melawan laju degenerasi, maka Nyepi telah memberi sel, jaringan, organ & sistem organ untuk bertumbuh dalam keriangan.
Dalam filosofi yang mendalam, Nyepi kuasa memberi terapi untuk tubuh kita, dunia dan peradaban manusia. [T]
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus Dur), dan Susilo Bambang Yudoyonomenon...
SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka yang menghabiskan waktu bertahun-tahun menempuh pend...
DESA Pedawa di Kecamatan banjar, Buleleng, yang dikenal dengan adat dan budaya yang unik kembali menjadi tujuan pengabdian akademik. Pada hari Rabu, 10 Juni 2026, tim Pengabdian k...
Hari itu, Kamis, 11 Juni 2026, para siswa yang tergabung dalam OSIS dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) berkunjung ke Yayasan Bali Baby...
DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen dulu." Di lingkungan peke...
SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan sawah yang hijau. Burung-burung berkicau. Angi...
KOMITMEN dalam menjaga kelestarian lingkungan terus ditunjukkan oleh Fakultas Vokasi Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional). Melalui Program Studi D4 Man...
DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu menebar cahaya sekaligus memberi sihir warna...
DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan pangan yang paling jujur, sebuah warisa...