“Full Day School”, Bentuk Generasi Emas atau Generasi Cemas?
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
Dimulai dengan penyelenggaraan melis, ia disimbolkan dengan menyucikan sarana-sarana upakara ke laut. Laut atau sungai yang bermuara ke dalamnya adalah cermin kebersihan alam kita. Tradisi ini telah memaksa kita, setidaknya setahun sekali, menyaksikan kelakuan kita dalam memperlakukan alam.
Sampah yang menumpuk di pantai laut atau sungai adalah sebuah petunjuk yang lugas, kita terlalu jahat terhadap bumi. Lalu, pementasan ogoh-ogoh yang hingar bingar. Ia bahkan menyimpan sebuah misteri yang nian elok berseri. Tutup mata kita, lalu jejaki tahap demi tahap tradisi berkesenian ini.
Ogoh-ogoh yang telah dikreasi sedemikian seni dan menuntun spirit komunal dalam penciptaannya, diarak dalam alunan gamelan yang mengguncang angkasa, pada akhir ia lalu disempurnakan oleh api menjadi abu. Segalanya akan berakhir.
Setiap akhir adalah kesempurnaan, tersisalah kemudian yang abadi adalah nilai-nilainya. Sebuah nilai keikhlasan. Ogoh-ogoh akan sempurna dalam ikhlasnya menjadi abu, bukan tersimpan kaku di museum-museum. Karena itulah hakikatnya ia.
Seperti seorang dokter, ia sempurna saat telah melayani pasien-pasiennya dengan sebaik-baiknya ikhlas, entah kemudian pasiennya sembuh atau mati. Karena itulah hakikatnya seorang dokter dan hakikat seorang pasien, sembuh atau mati.
Terlalu besar ambisi kita saat ingin menyelamatkan jiwa seseorang ketika ia telah membawa hakikatnya sendiri. Namun jika telah kita tuntaskan tugas-tugas kita dengan cara-cara terhebat, entah sebagai dokter atau sebagai manusia, itulah kesempurnaan.
Ada sebuah gerakan universal bernama Earth Hour, yaitu sebuah kampanye hemat energi dengan mematikan lampu listrik selama enam puluh menit. Nyepi melakukannya selama 24 jam sejak puluhan tahun yang lalu.
Dalam satu jam itu emisi CO2 mampu ditekan hingga 122,22 ton, maka dapat kemudian diperkirakan seberapa besar keramahan lingkungan itu jika dihitung dalam 24 jam. Alam tanpa listrik adalah sehat karena begitulah aslinya. Cuma mentari dan rembulan yang punya panggung di sana, berbagi tugas di siang hari dan malam hari.
Bahkan secara natural, sinar ultra violet, bagian dari cahaya mentari yang dapat merusak organisme telah dijinakkan oleh apa yang kita sebut sebagai lapisan ozone. Namun lapisan ozone pun telah kita koyak beramai-ramai dengan berbagai alat listrik. Sepertinya filosofi Nyepi tak saja terapi efektif untuk bumi, lebih-lebih untuk tubuh kita, jiwa dan raga kita.
Saat hidup kita kini telah menghasilkan lebih banyak radikal bebas maka kehidupan itu sendiri adalah sumber penyakit. Maka nilai-nilai esensi perayaan Nyepi adalah untaian antioksidan.
Gugusan elektron inilah yang diharapkan dapat memutus radikal bebas rantai perusak yang liar dan reaktif. Ia tak cuma dapat merusak pembuluh darah penyebab stroke atau serangan jantung, juga bertanggung jawab terhadap proses penuaan yang meluncur lebih cepat bahkan terjadinya mutasi gen penyebab kanker.
Memadamkan amarah (amati geni), menundukkan hasrat hedonisme (amati lelanguan), beristirahat yang cukup (amati kriya dan amati lelungaan), adalah akumulasi antioksidan yang bernutrisi tinggi. Ia dapat menata setiap elemen metabolisme tubuh berada pada track yang semestinya.
Kemarahan, secara neurohormonal akan menginduksi apa yang kita sebuat dengan simpatic drive, yaitu peningkatan produksi hormon adrenalin. Hormon ini dalam jumlah yang terukur dapat memberi efek kewaspadaan, namun jika ia berlimpah justru dapat memprovokasi tubuh menjadi agitatif.
Agitatif adalah sebuah disorder, ia merusak dari dalam. Jadi amati geni adalah untuk memadamkan api kemarahan.
Istirahat yang cukup adalah antioksidan itu sendiri. Ia memberi kesempatan sel-sel kita untuk tidur tanpa mimpi, itu memberikan waktu yang cukup untuknya beregenerasi. Regenerasi melawan laju degenerasi, maka Nyepi telah memberi sel, jaringan, organ & sistem organ untuk bertumbuh dalam keriangan.
Dalam filosofi yang mendalam, Nyepi kuasa memberi terapi untuk tubuh kita, dunia dan peradaban manusia. [T]
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
HAY, ges, Salam Sejahtera untuk ges ges semua di seantero jagad Indonesia tercinta. Semoga semua masih dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan selalu memegang teguh ideologi Panca...
RATUSAN anak mendadak berlarian dari sisi barat dan timur Taman Lumintang, Denpasar. Mereka menghambur begitu saja di tengah-tengah lapangan. Mereka menari, berlari, kejar-kejaran,...
Cerpen: Surya Gemilang PARA pengunjung Taman Palakosa dibuat menganga pada sore itu oleh kehadiran seorang pria bertubuh kekar yang wajahnya abnormal; ia bermata tiga—m...
RASANYA baru kemarin saya menjadi mahasiswa semester 6 dan kini sudah beranjak ke semester 7. Segala pahit getir hari-hari di semester 6 yang agak jahanam akhirnya bisa saya lalui...
“Dadi minum, sakewale abedik!” begitu pesan luhur dari Sembroli. Dan kalimat itu dikatakan berkali-kali. Setiap kali menyebut “pesan luhur”, ia selalu angkat gelas dan menenggak ar...
PAGI tadi aku duduk di sebuah kursi taman di belakang gedung kampusku yang baru. Sudah tiga hari aktivitas ini aku lakukan. Aku pun sebenarnya tidak betul-betul tahu untuk apa dan...
MEDIA Sosial tentunya memberikan banyak manfaat. Mulai dari sarana untuk mengekspresikan diri, bertukar informasi, mencari lebih banyak teman, bahkan untuk menjalankan sebuah bisni...
BELAJARLAH pencitraan dari kuliner khas Buleleng, terutama dari lawar getih. Karena pencitraan itu adalah pertunjukan tentang “rasa dan kesan” yang serupa antara apa yang dilihat m...
SINTHA Pramadewi terlihat serius melihat aksara demi aksara yang tertulis di atas selembar daun lontar. Dengan terbata-bata ia berusaha membaca aksara demi aksara, yang ukurannya t...