Baduy Luar, Etalase Pariwisata Banten
SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami pedesaan juga merasakan nafas kemajuan s...
Nampaknya saat hari Nyepi diwujudkan sebagai perayaan Tahun Baru Çaka justru bukan dengan kemeriahan pesta tapi dengan kontemplasi hening, diam, sunyi dan tenang dalam slogan Catur Bratha Penyepian, di sanalah kesulitan demi kesulitan dimulai.
Sebab tak banyak orang Hindu yang mampu melakukan dengan penuh pengertian apalagi di jaman penuh rekayasa seperti saat ini. Betapa sulitnya tidak menghidupkan api atau lampu penerangan selama 24 jam penuh. Berbagai alasan dari yang bisa diterima seperti harus menyiapkan makanan untuk anak-anak yang belum wajib berpuasa, memasak menu untuk keluarga yang sakit sampai alasan sepele untuk merokok! Juga meyalakan lampu.atau lilin.
Hingga beberapa kali kita baca berita kebakaran rumah justru di saat hari nyepi. Itu baru api sekala. Apalagi meredupkan nyala api niskala seperti api amarah, api nafsu dan nyala-nyala api lainnya yang mampu membakar diri. Betapa susahnya. Jangankan sepanjang tahun, untuk satu hari nyepi saja masih sering terdengar teriakan tetangga kita bertengkar.
Untuk tidak bepergian, karena dijaga pecalang mau tidak mau kita tidak keluar dari areal halaman rumah kita. Kalau pecalangnya tidak tegas ramai-ramailah kita duduk-duduk di jalan yang tiba-tiba jadi lengang karena motor dan mobil kecuali ambulans tidak boleh lewat. Kita bisa main badminton, megala-gala dan selfie di jalan. Sudah lihat foto-foto remaja selfi di jalan Teuku Umar Denpasar?
Di beberapa desa beberapa tahun lalu, semoga tahun ini tidak, karena pecalang adalah sahabat dan keluarga kita sendiri kita pun bebas meceki di pos kamling sembari menegur jika ada warga lain yang coba-coba keluar rumah, melanggar aturan nyeilpi.
Sayangnya, atau bagusnya, sekarang di Bali sinyal seluler dipadamkan satu hari satu malam selama nyepi jadi anak remaja alay tidak bisa langsung unggah foto- foto tersebut ke medsos. Coba kalau tidak. Itu yang kita bisa pantau. Masih ribuan yang tinggal di rumah tapi berselancar di dunia maya atau main game online.
Dua hal terakhir oleh orang tua digolongkan melanggar bratha penyepian amati lelungaan. Tidak bepergian sekaligus melanggar bratha amati lelanguan. Tidak mencari hiburan. Mematikan sejenak kesenangan diri. Kalau tidak bekerja dalam arti masuk ke tempat kerja terlihat semua melakukan dengan baik dan kusyuk karena Hari Nyepi sudah ditetapkan sebagai hari libur nasional.
Semua orang amati karya. Tapi benarkah selama nyepi kita tidak melakukan apa-apa? Tidak mengerjakan apa-apa? Tidak menghasilkan apa-apa? Jika ditelisik secara jujur banyak dari kita akan tertawa menertawakan diri sendiri.
Apakah kita munafik? Saya jawab tidak. Karena Bratha nyepi memang sangat sulit. Benar, secara komunal secara kulit dan garis besar ritual nyepi berlangsung semakin baik dan eksis.
Dari tingkat banjar, desa/kelurahan sampai nasional panitia nyepi melaksanakan tugasnya dengan baik dan penuh semangat pengabdian dan pengorbanan. Bahkan setiap tahun tema perayaan nyepi ditetapkan secara nasional. Seperti tahun ini temanya "Melalui Catur Brata Penyepian Kita Sukseskan Pemilu 2019", luar biasa bukan? Nanti kita nyoblos kertas suara dengan semangat amati geni, amati lelungaan dan seterusnya...
Banyak penulis dan guru kehidupan telah mengajak kita untuk lebih melakukan nyepi personal, nyepi diri. Melakukan tapa dan introspeksi diri, mengembalikan hakikat garis lurus atma dan paramaatma, sembari menyeimbangkan alam kecil bhuana alit kita dengan semesta , bhuana agung. Momentum unik di mana pergantian tahun benar-benar dihayati sebagai pelepasan sejarah diri lama untuk menjadi sosok yang lebih baik.
Nyepi yang lebih kepada nyepi yang pribadi, menarik diri ke dalam persona diri serupa titik hening di alam raya. Nyepi hanya satu hari sedangkan para petapa melakukan setiap harinya bahkan bukan lagi di tengah hutan belantara yang sepi tapi di tengah keramaian dunia. Nyepi dengan menarik diri dari segala ikatan kegiatan dan kerja, nyepi yang menelusuri jalan dari mana sumber asal kita bermula.
Hening, diam, dan tenang hingga dalam puncaknya yang terdengar jelas hanya satu : OM.
SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami pedesaan juga merasakan nafas kemajuan s...
DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah mengatakan “pilihan kata (diksi) meng...
SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. Wantilan yang biasanya digunakan...
REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di bidang pertanahan. Selama puluh...
MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir (TA) Proyek Inovatif Seni Pertunjukan, P...
DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus penjaga nilai-nilai keh...
Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata, India. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga terpelaj...
DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa...
BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang menyimak. Malam pertama Juni 2026, itul...
JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat itu adalah Buleleng. Tepat pada...