DUNIA maya tengah heboh. Terutama di twitter dan facebook. Twitwar dan comment-war tengah berlangsung. Semua bermula dari satu perkara. Sebuah video yang menghadirkan tiga orang emak-emak, yang diduga melakukan kampaye hitam pada kubu capres nomor urut 01.
Video dalam bahasa sunda itu diduga direkam di wilayah Kabupaten
Karawang, Jawa Barat. Kemungkinan direkam di sebuah rumah kost, sebab ada
sekian banyak pintu yang terekam dalam video tersebut.
Wanita yang terekam dalam video tersebut sempat berkata “Moal
aya deui sora azan, moal aya deui nu make tieung. Awewe jeung awene meunang
kawin, lelaki jeung lelaki meunang kawin”. Merasa roaming?
Sama, saya juga.
Berhubung saya baik hati, kurang lebih begini artinya. “Suara
azan di masjid akan dilarang, tidak akan ada lagi yang memakai hijab. Perempuan
sama perempuan boleh menikah, pria sama pria boleh menikah”.
Konon aksi itu dilakukan oleh anggota relawan Partai Emak-Emak
Pendukung Prabowo-Sandi (PEPES). Video itu direkam saat relawan melakukan
kampanye dari rumah ke rumah.
Konon pula, mereka melakukan kampanye hitam itu, karena khawatir
Joko Widodo menduduki kursi presiden untuk periode kedua. Soal ini, biarkan
Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dan kepolisian yang menyelesaikannya.
Tapi sepanjang pengetahuan saya, selama Joko Widodo menduduki
tampuk presiden, kebebasan beragama umat muslim di Indonesia begitu terjamin.
Begitu banyak musholla dan masjid baru yang berdiri. Juga begitu banyak wanita
yang hijrah. Entah itu menggunakan jilbab syar’i atau sekadar menggunakan
kerudung saja.
Saya yang tinggal di Bali pun, merasa kebebasan beragama umat
muslim biasa-biasa saja. Suara azan bukan hanya saya dengar saat subuh – ketika
suasana Kota Singaraja sedang sangat sunyi. Suara azan juga saya dengar saban
waktu sholat datang.
Saat sholat Jumat pun, nyaris tidak ada kesulitan bagi umat
muslim untuk menunaikan kewajibannya. Kalau masjid masih tidak menampung, jalan
raya masih bisa ditutup. Pengguna jalan pun merasa tak ada masalah.
Nah bagi para emak-emak yang masih khawatir tidak bisa dengar
suara azan kalau Jokowi jadi presiden, saya berikan empat alternatif biar bisa
dengar suara azan di masjid atau musholla.
Minta suami jadi marbot
Setiap masjid atau musholla pasti punya marbot. Nah marbot ini
kebanyakan adalah laki-laki. Bukan semata-mata masalah gender sih, tapi ada
sejumlah hal yang jadi pertimbangan.
Pertama, marbot harus siap jadi imam pengganti apabila imam di
masjid sedang berhalangan hadir. Kedua, marbot juga memukul beduk saat sholat
jumat.
Nah dengan suami yang jadi marbot, maka kewajiban sholat tak
akan bisa ditinggalkan. Emak-emak juga akan tahu pasti bahwa sebentar lagi
suara azan bakal berkumandang.
Lha, marbot ini kan punya kewajiban menyalakan
pengeras suara, 10 menit sebelum azan berkemundang. Jadi paling tidak saat
suami pamit pergi ke masjid, istri sudah dapat kode bahwa 10-15 menit lagi azan
akan berkumandang.
Pindah dekat masjid/musholla
Kalau nggak mau suami jadi marbot, emak-emak mungkin bisa
menggunakan alternatif kedua. Pindah tempat tinggal ke dekat masjid/musholla.
Pindah tempat tinggal ini bukan berarti pindah rumah. Bisa saja
sewa rumah, sewa kamar kost, atau semacamnya. Kalau tinggal dekat masjid, sudah
jaminan mutu akan dengar suara azan.
Apa? Masih nggak dengar suara azan? Barangkali
anda perlu konsultasi ke dokter THT. Rumah saya yang hampir satu kilometer dari
masjid aja dengar kok, yang cuma 50 meter dari masjid masa nggak dengar.
Minta jadwal sholat
Azan pada prinsipnya panggilan untuk sholat. Azan selalu
mengikuti waktu berputarnya matahari. Jadi setiap hari waktu azan bisa
berbeda-beda. Bisa bergeser antara 1-3 menit. Tergantung arah matahari.
Nah biasanya setiap bulan petugas di kantor agama selalu
melakukan pembaruan jadwal sholat. Jadwal ini biasanya dicantumkan dalam
kolom-kolom tertentu yang diatur untuk sebulan penuh.
Biasanya jadwal yang disusun itu sudah meliputi waktu imsyak,
shubuh, matahari terbit, dhuha, dzuhur, asar, maghrib, sampai isya. Dengar
melihat jadwal itu, kita bisa tahu jadwal sholat.
Jadi, kalau nggak dengar suara azan, selama pegang jadwal
sholat, yakin emak tidak akan ketinggalan jadwal sholat. Toh jadwalnya ada yang
bentuk kertas maupun bentuk gambar digital yang bisa disimpan di HP.
Apa? Nggak afdol kalau sholat belum dengar suara azan? Coba
alternatif terakhir.
Install aplikasi azan
Emak, ini sudah era revolusi industri 4.0. Tinggal install saja
aplikasi azan di HP. Toh HP-nya sudah canggih. Sudah smartphone.
Sekali-sekali HP juga dipakai untuk kepentingan yang lebih baik, bukan cuma
foto selfie dan rekam video saja.
Mau cari aplikasi azan juga gampang. Tinggal buka google play
store atau AppStore. Ketik azan di kolom pencarian. Nanti akan muncul aplikasi-aplikasi
azan. Seperti Muslim Pro Indonesia, Jadwal Waktu Sholat Indonesia, Jadwal
Sholat dan Imsakiyah, Waktu Azan Pro, Panduan Muslim, dan banyak lagi.
Nggak punya kuota? Ya tinggal beli pulsa. Nggak
punya duit? Cari wifi gratis di balai desa. Aplikasinya nggak bunyi? Makanya,
HP itu dicas. Jangan cuma dipakai sebar hoax. [T]