Topeng Tugek Carangsari – Memainkan Topeng Mengolah Karakter
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
Alumni Sanggar Cipta Budaya datang, tentu saja termasuk pentolan-pentolannya yang kini sudah terkenal sebagai sastrawan, sebagai seniman, atau sebagai orang-orang penting pada bidang yang digelutinya. Mereka, bersama sejumlah seniman lain hadir membacakan puisi dan menyanyikan puisi.
Yang menarik perhatian, Wayan Juniarta, jurnalis Jakarta Post, yang juga alumni SMPN 1 Denpasar, menyampaikan orasi kebudayaannya. Juniarta bicara soal puisi. Bagaimana ia bergaul dengan penyair, menulis puisi, tapi tak pernah dianggap penyair. Ia pernah mengirim puisi ke Bali Post, tapi oleh Umbu Landu Paranggi, puisi itu dipasang sebagai Catatan Kebudayaan.
Soal GM Sukawidana yang mengasuh Sanggar Cipta Budaya sejak bertahun-tahun lalu, Juniarta menyebut GM adalah seorang “Nabe”. Nabe lebih besar dari seorang guru. Nabe itu mampu mengubah bukan hanya jalan hidup para murid, tetapi cara berpikir, cara pandangnya tentang kehidupan.
Saya, sebagai salah satu alumni Sanggar Cipta Budaya, tentu setuju dengan pendapat tersebut. Saya pun mengakui bahwa jalan puisi yang saya tekuni berawal dari Sanggar Cipta Budaya yang dibimbing GM Sukawidana. Ia adalah seeorang guru Bahasa Indonesia yang sangat nyentrik.
Selain itu ia pandai memantik hasrat bersastra anak-anak SMP Negeri 1 Denpasar. Bacaan wajib kami adalah karya sastra. Tempat nongkrong kami adalah perpustakaan daerah. Setiap pelajaran Bahasa Indonesia ia selalu mewajibkan kami untuk diskusi terbuka tentang nilai-nilai kehidupan dalam karya sastra. Kawan-kawan yang mulanya memandang rendah sastra, akhirnya beralih mencintai sastra.
Sepertinya karakter GM Sukawidana itu masih melekat pada dirinya meski kini ia berada di ujung tahun pengabdian. Terbukti ia mampu mengumpulkan alumni Sanggar Cipta Budaya dari berbagai angkatan. Penyair handal seperti Oka Rusmini salah satunya.
Menurut Oka Rusmini, GM Sukawidana adalah guru yang sangat berani. Contohnya pada saat Fuad Hassan (Menteri Kebudayaan tahun 1985-1993) datang ke SMP N 1 Denpasar, berani-beraninya GM Sukawidana sembunyi dan tidak menampakan muka sedikit pun.
Belakangan diketahui bahwa GM adalah Nabe yang sesungguhnya. Ia menghidupkan kesempatan untuk anak didiknya untuk tampil di depan. Ia cukup menikmati keberhasilan murid-muridnya dari jauh.
Saat itu pula Fuad Hassan memberikan bingkai bertuliskan “Hanya rajawali yang berani terbang tinggi walau sendiri!” Sampai saat ini, tulisan tangan Fuad Hassan masih terpajang di koridor sekolah sebagai tanda bahwa mereka para penulis muda pernah ada, pernah membuat Fuad Hassan hadir dan berdecak kagum. Kata-kata itu juga memotivasi penulis-penulis muda untuk berani berkarya.
Penyair-penyair seperti Oka Rusmini, Aan Almaidah, Dewa Putu Sahadewa, Chandra Yowani, Sri Jayantini, dan Ika Permata Hati dibidik oleh mata tajam Sang Nabe, GM Sukawidana.
Mereka yang semasa SMP mulai belajar menulis dan berkarya. Meski kini mereka berprofesi sebagai dokter, dosen, kepala sub direktorat, hingga penulis internasional, nampaknya kemahiran mereka menulis puisi tidak kandas. Karya-karya mereka dapat dibaca dalam antologi Peladang Kata, terbitan Pustaka Ekspresi.
Di puncak acara reuni itu, meluncurlah ucapan terima kasih penyair kepada Nabe GM Sukawidana yang telah “menyesatkan” mereka ke dalam hutan sastra.
Acara ditutup dengan pernyerahan buku antologi puisi Peladang Kata kepada Umbu Landu Paranggi. Dalam kesempatan itu saya takjub mendengar pesan Umbu. “Belajar manusia kepada sastra,” kata Umbu Landu Paranggi sekaligus menutup perayaan reuni puisi SMPN I DEnpasar. Semangat! [T]
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
JIKA di atas meja belajar anda terdapat dua buah benda yaitu gadget dan buku, manakah yang akan anda pilih? Saya percaya, demi sinetron kesukaan ibu-ibu di tivi, kebanyakan dari a...
LAGU anak-anak itu kadang unik, terutama liriknya. Saat Taman Kanak-Kanak dulu kita tidak begitu hirau dan memang tak banyak mengerti arti dan maksud lagunya itu apa. Cuma nyanyi d...
BALI merupakan kepulauan seribu pura yang telah terkenal sejak zaman dahulu. Masyarakat Bali tak lepas dari Tri Hita Karana yang merupakan landasan kehidupan beragama dan beradat....
JIKA benar harga rokok setinggi langit biru, dan jika benar harga tinggi itu bisa menghentikan orang merokok, dan (siapa tahu) nanti benar-benar tak ada yang merokok, bagaimana nas...
PERNAH nyuluh jangkrik? Zaman saya kecil, di desa saya di Jembrana, nyuluh jangkrik (memburu jangrik malam hari) adalah kegemaran saya dan teman sebaya. Jauh-jauh sebelumnya, bapak...
Cerpen: Putri Handayani HAMPIR setiap hari Griya Siwa tidak pernah sepi dari orang-orang yang ngayah1. Mulai dari membuat sarana upakara sampai meracik tirta, semua dilakukan oleh ...
KELAHIRAN istilah 'simakrama' menarik untuk ditelusuri. Awalnya istilah ini yang lebih mengarah pada padanan kata 'silahturahmi', yang mencerminkan keinginan untuk berbicara dan sa...
ADA serombongan remaja sedang berebut peran. Mereka akan menjadi pelakon sandiwara dalam perayaan Agustusan tingkat RT. Peran konglomerat, menteri, dokter, mahasiswa, semua mereka...
GARIS berliku itu menyerupai sungai. Lebar di hulu kemudian menyempit di hilir. Warnanya hijau, biru, dan jingga. Garis berliku serupa sungai itu membelah lukisan menjadi dua bagia...