Belajar Kesetiaan dari Anjing Bali
JANGAN mengaku setia kalau belum pelihara anjing bali. Jangan mengaku pecinta anjing kalau makan daging anjing. Jangan mengaku petugas peternakan kalau kerjanya membunuh anjing sem...
Itulah yang dia tanyakan kepada saya kemarin pada saat kami berdua sedang terperangkap hampir seharian dalam kamar kontrakan Jalak Putih yang luasnya kurang lebih 5 x 3 itu.
Waktu itu, Singaraja sedang gigil oleh hujan yang sedari pagi mengguyurnya. Ia mencoba berselimut mimpi, rasa cemas, dan imaji-imaji manusia yang tinggal di buminya. Mencoba mereka-reka benak setiap manusia yang bernaung di bawah langitnya. Pintu-pintu dan jendela-jendela rumah sudah tutup sejak senja tadi. Bayi-bayi terbangun sebab guntur. Tanah-tanah bernapas. Pohon, rumput, dan segala yang lentur goyah oleh angin yang tak bersahabat. Air mulai menggenang, namun hujan tak kunjung reda.
Teman saya tadi tampak terdiam. Sedangkan di luar hujan masih turun begitu angkuhnya. Tapi, wajahnya jelas menyimpan kegelisahan. Mengatakan “jelas” mungkin tak sepenuhnya benar, atau mewakili kenyataannya. Saya sebenarnya hanya menduga-duga. Masalahnya, siapa yang tahu apa yang dipikirkan oleh orang lain?
Untuk beberapa saat lamanya dia tak mengatakan apa-apa. Maksud saya, dia tak melanjutkan pertanyaannya tadi, hanya menatap tembok dengan tajam, kemudian dia berganti menatap mata saya. Sinar matanya menembus ke mata saya—ya, saya bisa merasakannya, seolah memohon. Sekali lagi saya mencoba menduga-duga, apa sebenarnya yang dia pikirkan?
Segera saya mengambil gelas yang berisi sepertiga kopi di depan saya, dan saya seruput dengan pelan. Mengembuskan napas perlahan kemudian meletakkan kembali gelas berisi kopi tadi—yang sekarang tinggal seperempat. Dia—teman saya yang setia itu—masih tetap tak bergeming atau bergerak sedikit pun. Segera saya sodorkan sisa kopi yang tinggal seperempat itu.
Akhirnya dia meminum kopi yang tinggal seperempat itu, sambil sesekali menatap saya kembali. Saya tak sempat lagi memikirkan pertanyaannya. Melihatnya minum kopi dengan syahdu membuat saya merasa sangat iba. Saya ingin sekali menindaklanjuti pertanyaannya tadi... saya pikir, ah nanti saja, dia sedang menikmati kopinya.
***
Di masa-masa kampanye begini, tiba-tiba saja banyak sekali orang-orang mendadak menjadi baik lewat janji-janji dalam kampanyenya. Padahal, saya memandang bahwa kampanye politik mereka bukan semata-mata ditentukan oleh “program” sang calon, tetapi sangat banyak ditentukan oleh dana yang dikumpulkan olehnya.
Sehingga, tanpa sokongan-sokongan pengusaha-pengusaha kaya, rasanya tak ada seorang politikus yang muncul dalam arena nasional. Politik di negeri ini akhirnya sangat ditentukan oleh kepentingan-kepentingan para pedagang besar. Seperti yang terjadi di Amerika ketika Pemerintahan Guatemala—yang menasionalkan tanah-tanah United Fruit Company tahun 1952, kemudian pada kapitalis AS dengan cepat mempengaruhi politik Amerika.
Sedangkan banyak sekali orang-orang yang kemudian mendukung para calon-calon pejabat tadi dengan membabi buta bahkan banyak sekali yang sampai mengkultuskan. Calon yang didukung seakan-akan paling baik dan benar sendiri. Sedangkan lawannya tidak ada baik-baiknya sama sekali. Pendukung A menyalahkan pendukung B. Begitupun sebaliknya. Lantas, saya teringat pertanyaan teman saya tadi: Siapa orang yang paling baik?
Lama sekali saya terdiam dibuatnya. Mencari sebuah jawaban yang tepat untuk pertanyaan dasar yang jarang sekali kita tanyakan sebelumnya. Siapa orang yang paling baik? Kedua orang tua! Ya, mungkin mereka salah satu orang yang paling baik. Salah satu? Berarti masih banyak orang baik selain kedua orang tua? Saudara, sahabat, atau politisi? Ya, mungkin politisi. Lihat saja mereka para pendukungnya itu sampai rela berantem, mengujar kebencian, saling fitnah hanya untuk membela politisi yang mereka dukung. Sial!
Saya belum mendapatkan jawaban atas pertanyaan teman saya tadi. Hingga akhirnya dengan agak sedikit berani, saya mencoba menjawab, bahkan menyimpulan bahwa tidak ada orang yang lebih baik kecuali “diri sendiri”.
Bahkan tidak ada orang yang lebih jahat kecuali “diri sendiri.” Buktikan saja! Ketika kita lapar, siapa orang pertama yang dengan senang hati bergerak untuk mencarikan makanan kecuali diri sendiri. Ketika kita sakit atau mendapat masalah, siapa orang pertama yang merasakan dan mengerti kecuali diri sendiri. Tidak ada.
Diri sendirilah orang yang paling baik. Saya benar-benar baru saja menyadari akan hal ini. Saya agak sedikit lega atas jawaban itu. Walaupun saya tidak tahu, apakah jawaban itu dapat diterima oleh teman saya yang bertanya tadi atau bahkan orang lain. Saya beranjak menemuinya, dan ingin sekali segera menjawab pertanyaannya tadi, sayangnya dia sudah terlelap dengan raut wajah yang tampak masih bertanya-tanya:
“Siapa orang yang paling baik?” [T]
JANGAN mengaku setia kalau belum pelihara anjing bali. Jangan mengaku pecinta anjing kalau makan daging anjing. Jangan mengaku petugas peternakan kalau kerjanya membunuh anjing sem...
MAHASISWA baru, di mana pun, mau tak mau, akan mengawali “kuliah” dengan melakukan adaptasi dan pengenalan lingkungan kampus. “Kuliah” awal itu di Indonesia biasa disebut Ospek (Or...
TANGGAL tujuh belas Agustus adalah peringatan, perayaan, dan perenungan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Semua orang tahu itu. Pada tanggal 17 Agustus pada setiap tahunnya, sej...
KALAU seseorang dinilai bicara panjang lebar tetapi tak ada isinya, lazimnya orang itu disebut mengumbar omong kosong. Orang macam begini dianggap lebih buruk tinimbang seorang pen...
KAMPUS adalah tempat kaderisasi bagi para pemimpin bangsa dan negara. Di suatu negara kita mengenal adanya pemerintahan, pada umumnya pemerintahan diselenggarakan dan dijalankan ol...
“DENGAN melewati tahapan hidup dari Sudra menuju Wesya, dari Wesya menuju Satria, dari Satria menuju Brahmana, seseorang mencapai Moksha,” guru saya pernah berucap demikian suatu h...
UNTUK yang ketiga kalinya, saya menginjakkan kaki di Desa Mausamang Kiralela di Kecamatan Alor Timur, NTT. Bersahabat lebih dekat dengan desa ini membuat saya kecanduan untuk pergi...
ADA banyak cara merayakan Kemerdekaan. Seperti warga sekitar sungai Tukad Unda, Klungkung. Di situ, suasana 17 Agustus 2016 berbeda dari sebelumnya. Dari jembatan Tukad Unda terben...
Indonesia tanah airku Tanah tumpah darahku Di sanalah aku berdiri Jadi pandu ibuku ……. TIAP kali menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya atau mencermati teksnya, saya selalu te...
MUNGKIN banyak yang belum tahu bahwa salah satu putra Buleleng ikut berperan dalam terbentuknya Republik Indonesia. Namanya, Mr. I Gusti Ketut Pudja. Dia menjadi satu-satunya waki...