Untuk Perbaiki Bali, “Ngiring Sareng-sareng Dados Balian”
“Ngiring je sareng-sareng dados Balian,” kata teman saya minggu lalu, saat ngopi di bawah rindang pohon bambu, siang di belakang rumahnya. Mimih, ucap saya spontan. “Kenapa harus...
Itulah yang dia tanyakan kepada saya kemarin pada saat kami berdua sedang terperangkap hampir seharian dalam kamar kontrakan Jalak Putih yang luasnya kurang lebih 5 x 3 itu.
Waktu itu, Singaraja sedang gigil oleh hujan yang sedari pagi mengguyurnya. Ia mencoba berselimut mimpi, rasa cemas, dan imaji-imaji manusia yang tinggal di buminya. Mencoba mereka-reka benak setiap manusia yang bernaung di bawah langitnya. Pintu-pintu dan jendela-jendela rumah sudah tutup sejak senja tadi. Bayi-bayi terbangun sebab guntur. Tanah-tanah bernapas. Pohon, rumput, dan segala yang lentur goyah oleh angin yang tak bersahabat. Air mulai menggenang, namun hujan tak kunjung reda.
Teman saya tadi tampak terdiam. Sedangkan di luar hujan masih turun begitu angkuhnya. Tapi, wajahnya jelas menyimpan kegelisahan. Mengatakan “jelas” mungkin tak sepenuhnya benar, atau mewakili kenyataannya. Saya sebenarnya hanya menduga-duga. Masalahnya, siapa yang tahu apa yang dipikirkan oleh orang lain?
Untuk beberapa saat lamanya dia tak mengatakan apa-apa. Maksud saya, dia tak melanjutkan pertanyaannya tadi, hanya menatap tembok dengan tajam, kemudian dia berganti menatap mata saya. Sinar matanya menembus ke mata saya—ya, saya bisa merasakannya, seolah memohon. Sekali lagi saya mencoba menduga-duga, apa sebenarnya yang dia pikirkan?
Segera saya mengambil gelas yang berisi sepertiga kopi di depan saya, dan saya seruput dengan pelan. Mengembuskan napas perlahan kemudian meletakkan kembali gelas berisi kopi tadi—yang sekarang tinggal seperempat. Dia—teman saya yang setia itu—masih tetap tak bergeming atau bergerak sedikit pun. Segera saya sodorkan sisa kopi yang tinggal seperempat itu.
Akhirnya dia meminum kopi yang tinggal seperempat itu, sambil sesekali menatap saya kembali. Saya tak sempat lagi memikirkan pertanyaannya. Melihatnya minum kopi dengan syahdu membuat saya merasa sangat iba. Saya ingin sekali menindaklanjuti pertanyaannya tadi... saya pikir, ah nanti saja, dia sedang menikmati kopinya.
***
Di masa-masa kampanye begini, tiba-tiba saja banyak sekali orang-orang mendadak menjadi baik lewat janji-janji dalam kampanyenya. Padahal, saya memandang bahwa kampanye politik mereka bukan semata-mata ditentukan oleh “program” sang calon, tetapi sangat banyak ditentukan oleh dana yang dikumpulkan olehnya.
Sehingga, tanpa sokongan-sokongan pengusaha-pengusaha kaya, rasanya tak ada seorang politikus yang muncul dalam arena nasional. Politik di negeri ini akhirnya sangat ditentukan oleh kepentingan-kepentingan para pedagang besar. Seperti yang terjadi di Amerika ketika Pemerintahan Guatemala—yang menasionalkan tanah-tanah United Fruit Company tahun 1952, kemudian pada kapitalis AS dengan cepat mempengaruhi politik Amerika.
Sedangkan banyak sekali orang-orang yang kemudian mendukung para calon-calon pejabat tadi dengan membabi buta bahkan banyak sekali yang sampai mengkultuskan. Calon yang didukung seakan-akan paling baik dan benar sendiri. Sedangkan lawannya tidak ada baik-baiknya sama sekali. Pendukung A menyalahkan pendukung B. Begitupun sebaliknya. Lantas, saya teringat pertanyaan teman saya tadi: Siapa orang yang paling baik?
Lama sekali saya terdiam dibuatnya. Mencari sebuah jawaban yang tepat untuk pertanyaan dasar yang jarang sekali kita tanyakan sebelumnya. Siapa orang yang paling baik? Kedua orang tua! Ya, mungkin mereka salah satu orang yang paling baik. Salah satu? Berarti masih banyak orang baik selain kedua orang tua? Saudara, sahabat, atau politisi? Ya, mungkin politisi. Lihat saja mereka para pendukungnya itu sampai rela berantem, mengujar kebencian, saling fitnah hanya untuk membela politisi yang mereka dukung. Sial!
Saya belum mendapatkan jawaban atas pertanyaan teman saya tadi. Hingga akhirnya dengan agak sedikit berani, saya mencoba menjawab, bahkan menyimpulan bahwa tidak ada orang yang lebih baik kecuali “diri sendiri”.
Bahkan tidak ada orang yang lebih jahat kecuali “diri sendiri.” Buktikan saja! Ketika kita lapar, siapa orang pertama yang dengan senang hati bergerak untuk mencarikan makanan kecuali diri sendiri. Ketika kita sakit atau mendapat masalah, siapa orang pertama yang merasakan dan mengerti kecuali diri sendiri. Tidak ada.
Diri sendirilah orang yang paling baik. Saya benar-benar baru saja menyadari akan hal ini. Saya agak sedikit lega atas jawaban itu. Walaupun saya tidak tahu, apakah jawaban itu dapat diterima oleh teman saya yang bertanya tadi atau bahkan orang lain. Saya beranjak menemuinya, dan ingin sekali segera menjawab pertanyaannya tadi, sayangnya dia sudah terlelap dengan raut wajah yang tampak masih bertanya-tanya:
“Siapa orang yang paling baik?” [T]
“Ngiring je sareng-sareng dados Balian,” kata teman saya minggu lalu, saat ngopi di bawah rindang pohon bambu, siang di belakang rumahnya. Mimih, ucap saya spontan. “Kenapa harus...
TAHUN 1920-an sampai tahun 1950-an bisa dikatakan masa gemilang intelektualitas Buleleng, Bali Utara. Pada masa tersebut intelektual Buleleng bermunculan dan menerbitkan berbagai j...
MENJADI berbeda bukanlah suatu kesalahan karena itu merupakan anugrah dari Tuhan. Manusia diciptakan berbeda-beda oleh Yang Kuasa. Ketika seorang anak berbeda dari orang di sekitar...
Cerpen: Yusna Safitri BINTANG, pantai, dan kamu: tiga hal kesukaanku. Kencangnya angin malam tak membuatku malas untuk beranjak dari tempat tidurku. “22.30 WITA” “Pantai yuk,” aja...
Judul: Montase (Kumpulan Puisi) # Penulis: Wayan Jengki Sunarta # Penerbit: Pustaka Ekspresi # Tahun: 2016 # ISBN: 978-602-7610-73-6 PUISI bisa jadi apapun, apapun bisa jadi puisi....
DI KAMAR BLUES MASIH MENGALUN Dulu kita tak pernah percaya cinta "Cinta taik kucing!" katamu sambil mengacungkan botol bir ke langit memaki dia yang telah pergi Kini pun kita ta...
SEJUJURNYA, saya tidak tiba-tiba pandai menulis. Dari jalur genetik, tidak satu pun di antara kedua orang tua memiliki profesi penulis. Ayah seorang guru olah raga yang menjadi per...
BERKARYA hingga akhir hayat. Hal itulah yang dilakukan perupa Tedja Suminar. Perupa yang banyak memberikan pengaruh bagi ranah seni rupa di Bali dan Jawa Timur itu, tetap berkarya...
MARILAH kita tonton proses Pilkada sebagai sebuah seni pertunjukan drama. Kita mulai dari prosesi pendaftaran pasangan calon kepala daerah ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) 21-23 Sept...
Apakah aksara bisa dipentaskan? Naskah teater untuk generasi masakini berhadapan langsung dengan aplikasi bahasa digital maupun teknologi media. Ini memiliki kemungkinan efek balik...