“Siapa orang yang paling baik?” tanya seorang teman, 20 tahun, mahasiswa eksentrik yang berpikir agak berbeda dan sedikit di antara kebanyakan orang. “Apakah ibu, bapak, saudara, sahabat, teman, atau capres-cawapres?” lanjut dia.
Itulah yang dia
tanyakan kepada saya kemarin pada saat kami berdua sedang terperangkap hampir
seharian dalam kamar kontrakan Jalak Putih yang luasnya kurang lebih 5 x 3 itu.
Waktu itu, Singaraja
sedang gigil oleh hujan yang sedari pagi mengguyurnya. Ia mencoba berselimut
mimpi, rasa cemas, dan imaji-imaji manusia yang tinggal di buminya. Mencoba
mereka-reka benak setiap manusia yang bernaung di bawah langitnya. Pintu-pintu
dan jendela-jendela rumah sudah tutup sejak senja tadi. Bayi-bayi terbangun sebab
guntur. Tanah-tanah bernapas. Pohon, rumput, dan segala yang lentur goyah oleh
angin yang tak bersahabat. Air mulai menggenang, namun hujan tak kunjung reda.
Teman saya tadi
tampak terdiam. Sedangkan di luar hujan masih turun begitu angkuhnya. Tapi, wajahnya
jelas menyimpan kegelisahan. Mengatakan
“jelas” mungkin tak sepenuhnya benar, atau mewakili kenyataannya. Saya
sebenarnya hanya menduga-duga. Masalahnya, siapa yang tahu apa yang dipikirkan
oleh orang lain?
Untuk beberapa
saat lamanya dia tak mengatakan apa-apa. Maksud saya, dia tak melanjutkan
pertanyaannya tadi, hanya menatap tembok dengan tajam, kemudian dia berganti
menatap mata saya. Sinar matanya menembus ke mata saya—ya, saya bisa
merasakannya, seolah memohon. Sekali lagi saya mencoba menduga-duga, apa
sebenarnya yang dia pikirkan?
Segera saya mengambil gelas yang berisi sepertiga kopi di depan saya, dan saya seruput dengan pelan. Mengembuskan napas perlahan kemudian meletakkan kembali gelas berisi kopi tadi—yang sekarang tinggal seperempat. Dia—teman saya yang setia itu—masih tetap tak bergeming atau bergerak sedikit pun. Segera saya sodorkan sisa kopi yang tinggal seperempat itu.
Akhirnya dia meminum kopi yang tinggal seperempat itu, sambil sesekali menatap saya kembali. Saya tak sempat lagi memikirkan pertanyaannya. Melihatnya minum kopi dengan syahdu membuat saya merasa sangat iba. Saya ingin sekali menindaklanjuti pertanyaannya tadi... saya pikir, ah nanti saja, dia sedang menikmati kopinya.
***
Di masa-masa kampanye begini, tiba-tiba saja banyak sekali orang-orang mendadak menjadi baik lewat janji-janji dalam kampanyenya. Padahal, saya memandang bahwa kampanye politik mereka bukan semata-mata ditentukan oleh “program” sang calon, tetapi sangat banyak ditentukan oleh dana yang dikumpulkan olehnya.
Sehingga, tanpa sokongan-sokongan pengusaha-pengusaha kaya, rasanya tak ada seorang politikus yang muncul dalam arena nasional. Politik di negeri ini akhirnya sangat ditentukan oleh kepentingan-kepentingan para pedagang besar. Seperti yang terjadi di Amerika ketika Pemerintahan Guatemala—yang menasionalkan tanah-tanah United Fruit Company tahun 1952, kemudian pada kapitalis AS dengan cepat mempengaruhi politik Amerika.
Sedangkan banyak
sekali orang-orang yang kemudian mendukung para calon-calon pejabat tadi dengan
membabi buta bahkan banyak sekali yang sampai mengkultuskan. Calon yang didukung seakan-akan paling baik dan
benar sendiri. Sedangkan lawannya tidak ada baik-baiknya sama sekali. Pendukung
A menyalahkan pendukung B. Begitupun sebaliknya. Lantas, saya teringat
pertanyaan teman saya tadi: Siapa orang
yang paling baik?
Lama sekali saya
terdiam dibuatnya. Mencari sebuah jawaban yang tepat untuk pertanyaan dasar
yang jarang sekali kita tanyakan sebelumnya. Siapa orang yang paling baik? Kedua orang tua! Ya, mungkin mereka
salah satu orang yang paling baik. Salah satu? Berarti masih banyak orang baik
selain kedua orang tua? Saudara, sahabat, atau politisi? Ya, mungkin politisi.
Lihat saja mereka para pendukungnya itu sampai rela berantem, mengujar
kebencian, saling fitnah hanya untuk membela politisi yang mereka dukung. Sial!
Saya belum mendapatkan jawaban atas pertanyaan teman saya tadi. Hingga akhirnya dengan agak sedikit berani, saya mencoba menjawab, bahkan menyimpulan bahwa tidak ada orang yang lebih baik kecuali “diri sendiri”.
Bahkan tidak ada orang yang lebih jahat kecuali “diri sendiri.” Buktikan saja! Ketika kita lapar, siapa orang pertama yang dengan senang hati bergerak untuk mencarikan makanan kecuali diri sendiri. Ketika kita sakit atau mendapat masalah, siapa orang pertama yang merasakan dan mengerti kecuali diri sendiri. Tidak ada.
Diri sendirilah
orang yang paling baik. Saya benar-benar baru saja menyadari akan hal ini. Saya
agak sedikit lega atas jawaban itu. Walaupun saya tidak tahu, apakah jawaban
itu dapat diterima oleh teman saya yang bertanya tadi atau bahkan orang lain.
Saya beranjak menemuinya, dan ingin sekali segera menjawab pertanyaannya tadi,
sayangnya dia sudah terlelap dengan raut wajah yang tampak masih
bertanya-tanya:
“Siapa orang yang paling baik?” [T]