Memasuki tahun keempat masa kuliah, tertinggal satu mata kuliah yang mempunyai momok menakutkan serta drama-drama di dalamnya, terutama jelimetnya penelitian 2-4 bulan mencari data hanya untuk memenuhi prasyarat memakai toga dalam hitungan jam. Bahkan ditinggalin sama si do`i karena sudah merasa bebebnya lebih perhatian sama si skripsi teman bercumbunya yang baru (oke, fiksi ini terlalu lebay).
Skripsi
menjadi sangat horor di kalangan
mahasiswa, terutama bagi saya pribadi setelah secara tidak sengaja menemukan
beberapa tumpukan skripsi di
tempat
sampah.
“Janc#k,
hasil kita bergadang selama ini dikiloin tanpa rasa berdosa!” umpat saya jengkel.
Sebelum saya mengumpat
lebih parah, lebih baik saya ceritakan kronologinya.
Jadi begini, pekan lalu
saya bersama dua orang teman mencari es
degan di sekitar kota Singaraja. Kami memilih jajanan
kaki lima yang berada di Jalan
Pattimura. Lalu-lalang kendaraan mewarnai riuh jalan yang tidak terlalu lebar.
Panas matahari lumayan mengeryitkan dahi, kerongkongan dilanda musim kemarau
dalam sehari. Es degan
tersaji begitu menggiurkan. Uwaenak
dan mantep poll.
Saya
menikmati es
degan pelan-pelan, persis
seperti orang menikmati maturbasi (waduh salah, bukan itu), maksudnya makan sushi. Saya lalu tertuju
ketumpukan pengelolaan tempat sampah yang persis di depan mata. Rasa penasaran
saya semakin diuji melihat kertas-kertas tebal dengan jilid bergitu rapi. Belum sempat saya menghabiskan es degan, saya beranjak dari
tempat duduk.
Kepala saya menggeleng
dan umpatan sampah-serapah keluar, dugaan
saya benar tumpukan kertas itu skripsi, guys.
Fenomena
ini sebenarnya bukan kali ini saja saya temukan. Beberapa perguruan tinggi melakukan hal itu, menjual skripsi kepada
tengulak tempat sampah. Namun yang membuat saya amsyong
sekali ketika skripsi itu bertuliskan universitas
tempat saya kuliah. Innalillah.
Sebagai mahasiswa tingkat akhir, lantas saya berpikir. Apa ini kejahatan intelektual atau begitu pemurahnya mahasiswa sebab secara tidak sengaja uang hasil jual skripsi itu lumayan buat ceperan seseorang, atau beberapa orang, yang punya kesempatan atau diberika kesempatan menjual skripsi itu. Cukuplah beli pentol lima ribuan.
Setelah melihat skripsi di tempat sampah, saya jadi berpikir sepertinya kampus memang harus membuat regulasi baru sebagai prasyarat kelulusan. Jangan menjadikan skripsi tugas akhir paling agung dan maha tinggi jika akhirnya menjadi sampah.
Dikutip dari kaskus.co.id yang menerangkan bahwa di
zaman dahulu, di abad
pertengahan di Eropa sana, seorang pekerja yang ingin menjadi anggota asosiasi
pekerja harus membuktikan keahliannya dengan menghasilkan suatu karya, yang
disebut masterpiece. Karya ini
kemudian diperiksa oleh pengurus asosiasi, dan kalau yang bersangkutan
dinyatakan lulus, ia diberi gelar master (ahli) dibidangnya dan diterima
menjadi anggota asosiasi.
Ketika
perguruan tinggi didirikan, para pengelolanya mengadopsi praktek itu sebagai
prasyarat bagi seorang yang ingin memperoleh gelar master atau doktor. Yang
bersangkutan harus terlebih dahulu membuktikan diri mampu melaksanaan
penelitian ilmiah dengan baik dan benar. Saat ini skripsi, thesis,
disertasi di seluruh
dunia berfungsi seperti masterpiece para pekerja di zaman abad
pertengahan itu, yaitu bukti atas kemampuan atau keahlian mereka untuk
melaksanakn tugas tertentu.
Pertanyaannya,
masih relevankah skripsi ini sebagai tugas akhir dan jalan satu-satunya
menyudahi masa kuliah? Saya
rasa untuk jaman sekarang yang sudah tidak mengenal batasan dalam berkarya,
skripsi bukan lagi karya adi luhung. Sebab nanti ketika melamar pekerjaan tidak
bakal ditanya “Judul skripsimu apa?” “Skripsimu pakek model penelitian apa?”dll
Kampus sebagai tempat
akal sehat dirawat. Seharusnya kebebasan berkarya menjadi sesuatu yang mutlak.
semisal; anak seni rupa tugas akhirnya membuat pameran lukisan tunggal yang
bisa mendatangkan kolektor lokal maupun asing, mahasiswa yang gemar dan piawai
dalam drama teater syarat lulusnya membuat pertunjukan drama yang nge-hits pakek bingit.
Atau
mahasiswa yang gemar sastra dan bisa menerbitkan buku novel, kampus bisa
mengapresiasinya dengan hadiah toga. Atau berharap nasib baik seperti Bayu Skak
youtubers yang wisuda setelah kuliah tujuh tahun dan sempat cuti kuliah selama
3,5 tahun. Dimana waktu cuti itu ia pergunakan untuk proyek film Yowis Ben yang diapresiasi oleh
kampusnya (Universitas Negeri Malang) sebagai karyanya.
Itu
kampus Bayu, kampus saya kapan?
Lebih
dari itu, mending skripsi yang dibuat jika sudah rak kampus tidak bisa menampung. iya
disumbangkan saja ke sekolah-sekolah agar penelitian penuh drama itu ada
manfaatnya bisa dibaca oleh mereka.
Yaelah, malah dikiloin kayak botol bekas saja. mau saingan sama pemulung? (T)