Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
Skripsi menjadi sangat horor di kalangan mahasiswa, terutama bagi saya pribadi setelah secara tidak sengaja menemukan beberapa tumpukan skripsi di tempat sampah.
“Janc#k, hasil kita bergadang selama ini dikiloin tanpa rasa berdosa!” umpat saya jengkel.
Sebelum saya mengumpat lebih parah, lebih baik saya ceritakan kronologinya.
Jadi begini, pekan lalu saya bersama dua orang teman mencari es degan di sekitar kota Singaraja. Kami memilih jajanan kaki lima yang berada di Jalan Pattimura. Lalu-lalang kendaraan mewarnai riuh jalan yang tidak terlalu lebar. Panas matahari lumayan mengeryitkan dahi, kerongkongan dilanda musim kemarau dalam sehari. Es degan tersaji begitu menggiurkan. Uwaenak dan mantep poll.
Saya menikmati es degan pelan-pelan, persis seperti orang menikmati maturbasi (waduh salah, bukan itu), maksudnya makan sushi. Saya lalu tertuju ketumpukan pengelolaan tempat sampah yang persis di depan mata. Rasa penasaran saya semakin diuji melihat kertas-kertas tebal dengan jilid bergitu rapi. Belum sempat saya menghabiskan es degan, saya beranjak dari tempat duduk. Kepala saya menggeleng dan umpatan sampah-serapah keluar, dugaan saya benar tumpukan kertas itu skripsi, guys.
Fenomena ini sebenarnya bukan kali ini saja saya temukan. Beberapa perguruan tinggi melakukan hal itu, menjual skripsi kepada tengulak tempat sampah. Namun yang membuat saya amsyong sekali ketika skripsi itu bertuliskan universitas tempat saya kuliah. Innalillah.
Sebagai mahasiswa tingkat akhir, lantas saya berpikir. Apa ini kejahatan intelektual atau begitu pemurahnya mahasiswa sebab secara tidak sengaja uang hasil jual skripsi itu lumayan buat ceperan seseorang, atau beberapa orang, yang punya kesempatan atau diberika kesempatan menjual skripsi itu. Cukuplah beli pentol lima ribuan.
Setelah melihat skripsi di tempat sampah, saya jadi berpikir sepertinya kampus memang harus membuat regulasi baru sebagai prasyarat kelulusan. Jangan menjadikan skripsi tugas akhir paling agung dan maha tinggi jika akhirnya menjadi sampah.
Dikutip dari kaskus.co.id yang menerangkan bahwa di zaman dahulu, di abad pertengahan di Eropa sana, seorang pekerja yang ingin menjadi anggota asosiasi pekerja harus membuktikan keahliannya dengan menghasilkan suatu karya, yang disebut masterpiece. Karya ini kemudian diperiksa oleh pengurus asosiasi, dan kalau yang bersangkutan dinyatakan lulus, ia diberi gelar master (ahli) dibidangnya dan diterima menjadi anggota asosiasi.
Ketika perguruan tinggi didirikan, para pengelolanya mengadopsi praktek itu sebagai prasyarat bagi seorang yang ingin memperoleh gelar master atau doktor. Yang bersangkutan harus terlebih dahulu membuktikan diri mampu melaksanaan penelitian ilmiah dengan baik dan benar. Saat ini skripsi, thesis, disertasi di seluruh dunia berfungsi seperti masterpiece para pekerja di zaman abad pertengahan itu, yaitu bukti atas kemampuan atau keahlian mereka untuk melaksanakn tugas tertentu.
Pertanyaannya, masih relevankah skripsi ini sebagai tugas akhir dan jalan satu-satunya menyudahi masa kuliah? Saya rasa untuk jaman sekarang yang sudah tidak mengenal batasan dalam berkarya, skripsi bukan lagi karya adi luhung. Sebab nanti ketika melamar pekerjaan tidak bakal ditanya “Judul skripsimu apa?” “Skripsimu pakek model penelitian apa?”dll
Kampus sebagai tempat akal sehat dirawat. Seharusnya kebebasan berkarya menjadi sesuatu yang mutlak. semisal; anak seni rupa tugas akhirnya membuat pameran lukisan tunggal yang bisa mendatangkan kolektor lokal maupun asing, mahasiswa yang gemar dan piawai dalam drama teater syarat lulusnya membuat pertunjukan drama yang nge-hits pakek bingit.
Atau mahasiswa yang gemar sastra dan bisa menerbitkan buku novel, kampus bisa mengapresiasinya dengan hadiah toga. Atau berharap nasib baik seperti Bayu Skak youtubers yang wisuda setelah kuliah tujuh tahun dan sempat cuti kuliah selama 3,5 tahun. Dimana waktu cuti itu ia pergunakan untuk proyek film Yowis Ben yang diapresiasi oleh kampusnya (Universitas Negeri Malang) sebagai karyanya.
Itu kampus Bayu, kampus saya kapan?
Lebih dari itu, mending skripsi yang dibuat jika sudah rak kampus tidak bisa menampung. iya disumbangkan saja ke sekolah-sekolah agar penelitian penuh drama itu ada manfaatnya bisa dibaca oleh mereka.
Yaelah, malah dikiloin kayak botol bekas saja. mau saingan sama pemulung? (T)
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...