RESTORAN makanan cepat saji, McDonald kini sudah ada di Kota Singaraja. Restoran ini melengkapi sekaligus berkompetisi dengan Kentucky Fried Chicken, restoran cepat saji yang lebih dulu ada.
Saya tidak akan membahas kompetisi kedua restoran itu. Biarlah
itu jadi urusan pengamat ekonomi. Saya cukup membagikan sejumlah kenangan manis
dengan restoran cepat saji itu.
Amati Sebelum Membeli
Saya pertama kali mengenal McDonald belasan tahun lalu. Saat
kelas 3 SMP. Tanpa alasan yang jelas, saya dan seorang kawan melancong ke
Denpasar. Saat itu saya masih mengenakan baju olahraga, celana biru, sepatu
hitam, serta kaos kaki hingga setinggi lutut.
Tatkala itu saya hanya tahu arah jalan dari Negara menuju Toko
Buku Gramedia di Matahari Dewi Sartika. Bermodalkan rasa iseng dan penasaran,
kami berdua bergegas menuju Denpasar.
Sampai Denpasar, kami kelaparan. Kami memutuskan makan di
McDonald Robinson. Sebelum memesan makanan, kami cukup lama mengamati cara berbelanja
di McDonald.
Setelah hampir 15 menit berdiri, kami akhirnya paham cara
berbelanja adalah memesan dulu di kasir, membayar, menunggu pesanan, membawa
pesanan ke meja, baru kemudian menyantap makanan.
Begitu perut kami kenyang, kami memutuskan kembali ke Negara.
Mual Pada Percobaan Pertama
Suatu ketika, saya mencoba sarapan di McDonald Sanur. Saat itu
saya baru paham bahwa restoran cepat saji ini memiliki menu sarapan. Sebuah
burger, kentang tumbuk goreng, serta secangkir kopi. Nama menunya jika tak
salah McMuffin.
Terdorong rasa penasaran, saya memesan menu Egg McMuffin.
Ternyata, saat itu lidah kampung saya belum mampu merasakan menu ini. Pada
percobaan pertama, saya merasa mual. Tak sanggup menyantap menu ini. Akhirnya
saya hanya menyantap kentang tumbuk goreng serta kopi.
Tapi kini, saya sudah terbiasa menyantap menu ini. Percayalah
saya tak akan menyia-nyiakan menu ini lagi. Bukan karena rasanya, tapi sayang
uangnya.
Wifi Adalah Koentji
Saya sempat indekost di wilayah Jimbaran. Alasannya pun tak
dapat saya mengerti hingga kini. Padahal saat itu kantor saya ada di bilangan
Ubung. Namun entah mengapa saya lebih memilih tinggal di sekitaran Universitas
Udayana. Mungkin biar lebih sering ketemu mahasiswi.
Karena kantor jauh, saya lebih sering mengirim berita via email.
Sayang koneksi internet di warnet wilayah Jimbaran, saat itu seperti keong.
Mengirim foto berukuran 2 Megabyte bisa butuh waktu 15 menit. Warnet terdekat
yang koneksinya stabil ada di daerah Nusa Dua, itu juga mahal.
Internet ini tentu jadi masalah bagi saya. Apalagi masih jadi
anak kost. Tentu ada masa-masa sulit yang akhirnya memaksa saya mencari wifi
gratisan. Areal wifi gratis nan kencang yang paling dekat adalah McDonald
Jimbaran.
Maka, tatkala saya sedang kere, saya datang ke restoran cepat
saji ini. Syukurnya saya selalu bertemu sejumlah kawan. Entah tetangga kost,
teman-teman semasa SMA, terkadang mahasiswi yang saya sempat ajak kenalan.
Dengan muka tebal, saya langsung mendekati mereka dan menanyakan
password wifi. Terkadang nampan sisa makanan mereka, saya bawa ke meja tempat
saya bekerja menulis berita. Tujuannya sih sederhana saja, biar dikira habis
belanja. Padahal cuma modus cari wifi gratis.
Menipu Pengunjung Baru
Teman saya, sebut saja namanya Ananda, baru saja merantau ke
Denpasar. Teman saya ini sering melancong ke kost, terkadang juga menginap.
Beberapa kali saya sempat mengajak Ananda melakukan kuliner
malam hari. Kadang-kadang di KFC – Kreneng Food Center maksudnya. Kadang di
warung lalapan dekat Pasar Badung.
Suatu ketika saat Ananda melancong ke kost, saya berinisiatif
mengajak dia ke McDonald yang ada di simpang jalan Nangka-Gatot Subroto. Toh
jaraknya tak seberapa jauh dari tempat kost saya di dekat kampus Sekolah
Perhotelan Bali (SPB). Untuk masalah tempat kost tak usah dipertanyakan. Karena
saya selalu mencari tempat kost yang dekat dengan kampus dengan alasan
tertentu. Hehehe.
Maka, malam itu saya, Ananda, dan tetangga kost saya yang
bernama Siki, nongkrong di McDonald. Ananda, karena pendatang baru, saya minta
duduk saja di meja yang kosong. Sementara saya dan Siki yang memesan makanan.
Malam itu, saya yang menraktir mereka.
Singkat cerita, kami melewati tengah malam di McDonald. Saat jam
menunjukkan pukul 00.30 dini hari, kami memilih pulang ke kost. Tapi sebelum
pulang, entah mengapa insting jahil saya muncul.
Ananda yang baru pertama kali datang ke McDonald saya minta
pergi ke kasir. Saya bilang makanan yang disantap tadi, belum dibayar. Tanpa
banyak bertanya, ia pun bergegas menuju kasir. Tak lama kemudian ia datang
membawa burger, kentang goreng, dan minuman.
Wajahnya terlihat kebingungan. “Aku tadi bayar kok dikasih makanan
lagi ya,” ujarnya polos. Kami pun terbahak-bahak. Kami akhirnya urung pulang ke
kost, dan menyantap makanan yang dibawa Ananda hingga habis. (T)