“Customer” dan Tukang Perintah – Karikatural Politik
BICARA politik Indonesia pasti tak akan pernah habis. Selalu saja ada yang baru, bahkan lebih sering muncul lucunya ketimbang seriusnya. Terkadang zaman sekarang kita kebingungan....
Saya tidak akan membahas kompetisi kedua restoran itu. Biarlah itu jadi urusan pengamat ekonomi. Saya cukup membagikan sejumlah kenangan manis dengan restoran cepat saji itu.
Amati Sebelum Membeli
Saya pertama kali mengenal McDonald belasan tahun lalu. Saat kelas 3 SMP. Tanpa alasan yang jelas, saya dan seorang kawan melancong ke Denpasar. Saat itu saya masih mengenakan baju olahraga, celana biru, sepatu hitam, serta kaos kaki hingga setinggi lutut.
Tatkala itu saya hanya tahu arah jalan dari Negara menuju Toko Buku Gramedia di Matahari Dewi Sartika. Bermodalkan rasa iseng dan penasaran, kami berdua bergegas menuju Denpasar.
Sampai Denpasar, kami kelaparan. Kami memutuskan makan di McDonald Robinson. Sebelum memesan makanan, kami cukup lama mengamati cara berbelanja di McDonald.
Setelah hampir 15 menit berdiri, kami akhirnya paham cara berbelanja adalah memesan dulu di kasir, membayar, menunggu pesanan, membawa pesanan ke meja, baru kemudian menyantap makanan.
Begitu perut kami kenyang, kami memutuskan kembali ke Negara.
Mual Pada Percobaan Pertama
Suatu ketika, saya mencoba sarapan di McDonald Sanur. Saat itu saya baru paham bahwa restoran cepat saji ini memiliki menu sarapan. Sebuah burger, kentang tumbuk goreng, serta secangkir kopi. Nama menunya jika tak salah McMuffin.
Terdorong rasa penasaran, saya memesan menu Egg McMuffin. Ternyata, saat itu lidah kampung saya belum mampu merasakan menu ini. Pada percobaan pertama, saya merasa mual. Tak sanggup menyantap menu ini. Akhirnya saya hanya menyantap kentang tumbuk goreng serta kopi.
Tapi kini, saya sudah terbiasa menyantap menu ini. Percayalah saya tak akan menyia-nyiakan menu ini lagi. Bukan karena rasanya, tapi sayang uangnya.
Wifi Adalah Koentji
Saya sempat indekost di wilayah Jimbaran. Alasannya pun tak dapat saya mengerti hingga kini. Padahal saat itu kantor saya ada di bilangan Ubung. Namun entah mengapa saya lebih memilih tinggal di sekitaran Universitas Udayana. Mungkin biar lebih sering ketemu mahasiswi.
Karena kantor jauh, saya lebih sering mengirim berita via email. Sayang koneksi internet di warnet wilayah Jimbaran, saat itu seperti keong. Mengirim foto berukuran 2 Megabyte bisa butuh waktu 15 menit. Warnet terdekat yang koneksinya stabil ada di daerah Nusa Dua, itu juga mahal.
Internet ini tentu jadi masalah bagi saya. Apalagi masih jadi anak kost. Tentu ada masa-masa sulit yang akhirnya memaksa saya mencari wifi gratisan. Areal wifi gratis nan kencang yang paling dekat adalah McDonald Jimbaran.
Maka, tatkala saya sedang kere, saya datang ke restoran cepat saji ini. Syukurnya saya selalu bertemu sejumlah kawan. Entah tetangga kost, teman-teman semasa SMA, terkadang mahasiswi yang saya sempat ajak kenalan.
Dengan muka tebal, saya langsung mendekati mereka dan menanyakan password wifi. Terkadang nampan sisa makanan mereka, saya bawa ke meja tempat saya bekerja menulis berita. Tujuannya sih sederhana saja, biar dikira habis belanja. Padahal cuma modus cari wifi gratis.
Menipu Pengunjung Baru
Teman saya, sebut saja namanya Ananda, baru saja merantau ke Denpasar. Teman saya ini sering melancong ke kost, terkadang juga menginap.
Beberapa kali saya sempat mengajak Ananda melakukan kuliner malam hari. Kadang-kadang di KFC – Kreneng Food Center maksudnya. Kadang di warung lalapan dekat Pasar Badung.
Suatu ketika saat Ananda melancong ke kost, saya berinisiatif mengajak dia ke McDonald yang ada di simpang jalan Nangka-Gatot Subroto. Toh jaraknya tak seberapa jauh dari tempat kost saya di dekat kampus Sekolah Perhotelan Bali (SPB). Untuk masalah tempat kost tak usah dipertanyakan. Karena saya selalu mencari tempat kost yang dekat dengan kampus dengan alasan tertentu. Hehehe.
Maka, malam itu saya, Ananda, dan tetangga kost saya yang bernama Siki, nongkrong di McDonald. Ananda, karena pendatang baru, saya minta duduk saja di meja yang kosong. Sementara saya dan Siki yang memesan makanan. Malam itu, saya yang menraktir mereka.
Singkat cerita, kami melewati tengah malam di McDonald. Saat jam menunjukkan pukul 00.30 dini hari, kami memilih pulang ke kost. Tapi sebelum pulang, entah mengapa insting jahil saya muncul.
Ananda yang baru pertama kali datang ke McDonald saya minta pergi ke kasir. Saya bilang makanan yang disantap tadi, belum dibayar. Tanpa banyak bertanya, ia pun bergegas menuju kasir. Tak lama kemudian ia datang membawa burger, kentang goreng, dan minuman.
Wajahnya terlihat kebingungan. “Aku tadi bayar kok dikasih makanan lagi ya,” ujarnya polos. Kami pun terbahak-bahak. Kami akhirnya urung pulang ke kost, dan menyantap makanan yang dibawa Ananda hingga habis. (T)
BICARA politik Indonesia pasti tak akan pernah habis. Selalu saja ada yang baru, bahkan lebih sering muncul lucunya ketimbang seriusnya. Terkadang zaman sekarang kita kebingungan....
KISAH-KISAH ini saya tulis berdasarkan ingatan ketika bertugas menjadi wartawan di sejumlah kabupaten di Bali. Mungkin kisah aslinya tidak persis sama dengan tulisan ini, tapi dija...
HASIL penelitian dan pemetaan DNA orang Bali yang dilakukan tim gabungan ahli-ahli dari berbagai universitas di Amerika: Tatiana M. Karafet (University of Arizona), J S. Lansing (U...
Cerpen: Ni Kadek Desi Nurani Sari Dongeng-dongeng akhirnya pulang ke tutur kompyang. sesaat sebelum pagi menunjukkan diri. Lalu hari-hari memulai cerita-cerita baru lagi. Segala ya...
UNDANGAN KARYA PUISI FESTIVAL PUISI BANGKALAN 2 FESTIVAL Puisi Bangkalan 2 akan kembali digelar pada April 2017 mendatang. Acara bertajuk “Lebih Baik Putih Tulang daripada Putih Ma...
DULU, bagi warga desa-desa di Bali kebiasaan “ngidu di bungut paon”, jadi rutinitas tak resmi setiap pagi, sebelum sarapan, sebelum ke sawah-ladang. Kini kegiatan itu semakin jar...
DALAM sejarah budaya kita, kadang-kadang semangat cinta tanah air dibangun dengan imajinasi premanisme. Artinya masyarakat memproduksi tokoh-tokoh fiktif berlatar belakang preman (...
MASKOT sekolah di Bali Dewi Saraswati. Patung megah dewi ilmu-pengetahuan dibangun di hampir setiap sekolah. Warga sekolah memuja dewi ilmu. Ironisnya, Saraswati seakan dibuat mat...
MENELISIK apa yang telah disampaikan oleh kawan saya, Santiasa Putu Putra dalam tulisannya di tatkala.co, 3 Januari 2017 dengan judul “Teater di Denpasar – Lagi Hibernasi, Lagi Me...
BAGI masyarakat adat atau pakraman di Bali, tanah (baca: pertiwi atau wewidangan) itu “berjiwa”. Karena “berjiwa”, maka tanah diyakini memiliki “energi”. Tentu saja energi yang dap...