Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
Baru-baru ini saya ketiban bejo. Dapat voucher menginap di Villa Sande. Meski cuma di Buleleng, namanya voucher, tentu tak boleh disia-siakan.
Atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa, saya bersama istri dan dua orang anak, segera melaju ke Desa Kayuputih (Kecamatan Banjar) tempat villa itu berada. Perjalanan santai-santai saja. Sekitar 45 menit perjalanan dari Singaraja.
Saat sampai di villa, saya sempat was-was. Saya teringat kata-kata Bung Prabs. Jangan-jangan kalau saya masuk, saya bakal diusir. Karena saya tidak punya tampang orang kaya. Tampang saya ya tampang Boyolali ini.
Ternyata rasa khawatir saya itu berubah 180 derajat. Saya langsung disambut seorang pria dengan penuh senyum. Pria yang sungguh saya lupa namanya itu, juga langsung mengangkut tas yang saya bawa.
Begitu masuk villa saya langsung diberikan welcome drink. Duh, sungguh nikmat. Dalam hati saya bersyukur. Bersyukur karena punya tampang Boyolali yang banyak bejo-nya ini.
Bejo-nya lagi, saya dapat kamar yang ukurannya paling besar. Kasurnya cukup untuk tidur empat orang. Kamar mandinya pun ada yang tipe indoordan outdoor. Ada dapurnya, ruang makan, dan ruang tamu. Duh, kurang bejo apalagi saya saat itu.
Puas guling-guling di kasur, kami memilih berenang di kolam renang. Anak-anak saya yang belum pernah mandi di kolam renang, dibuat tertawa riang. Sudah 30 menit berenang, mereka pun belum mau berhenti.
Karena lelah, malamnya kami putuskan pesan makan malam di restoran villa. Saya dan istri makan besar. Kami memesan sepiring nasi putih, sepiring nasi goreng, semangkuk sup ayam, sepiring mie goreng, serta dua botol bir. Porsi itu membuat kami masih merasa kenyang hingga esok pagi.

Keesokan paginya, kami jalan-jalan ke Tibuan Sande. Dekat saja dari Villa Sande. Cukup jalan kaki mengikuti jalan setapak, hingga turun ke sungai. Pemandangannya pun tak kalah menakjubkan dengan pemandangan yang terlihat dari villa.
Hingga pukul 11.00, rasanya kami masih enggan pulang. Putri sulung saya pun merajuk minta menginap semalam lagi. Sayang voucher hanya berlaku untuk semalam. Andai saya yang punya villa itu, barangkali kami akan menginap beberapa malam lagi.
Di akhir tulisan ini, saya akan membagikan sedikit rahasia. Pimred Tatkala.co , Made Adnyana Ole, dua tahun lalu sempat datang ke Subak Sande, Desa Kayuputih. Ia kemudian menunjuk sebidang tanah, yang kini diatasnya telah berdiri villa. Konon beliau jadi konsultan independen untuk villa ini.
Bila ingin dapat voucher, sering-sering saja menulis di Tatkala. Siapa tahu nanti pimred bagi-bagi voucher menginap. Hehehe…. (T)
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
ADA bunyi-bunyi yang hidup begitu lama di sekitar kita hingga akhirnya menghilang dari ingatan. Ia pernah hadir setiap hari, melintas di jalan-jalan kampung, menyelinap di antara...
DENPASAR – TATKALA.CO | Seniman-seniman dari Kabupaten Buleleng tampil dengan ciri khas Bali Utara pada Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 202...
Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu muncul: apakah hidup ini ditentuka...
Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian penting dalam Peed Aya (Pawai Budaya) pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya. Tari yang disajikan secara megah dengan iringan...
“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you, baby ….” Ponsel Garu masih mengalunkan musik tersebut berulang-ulang di tengah hu...
JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya seperti temayang berpindah...
BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita dapat memperkuat jati diri d...
Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar. Selain lukisan, Gus Saka juga memajang hasil ngebo...
SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan meluas. Bagi seorang epigraf dan arkeolog, kata ...