Tuah Wanita Bali - Kebahagiaan saat Memberi
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
Biasanya nasi itu tergantung dalam sokasi di langatan di areal dapur yang masih dingin. Nasi itu biasa disebut nasi dingin. Oleh keajaiban alam, meski dingin, meski belum ada magic jar, nasi itu tidaklah pasil alias tidak basi.
Sebelum berangkat ke sawah atau ke tegalan, para petani makan nasi dingin sebagai sarapan. Lauknya bisa saja gerang metunu (ikan teri dipanggang), lindung metunu (belut dipanggang), atau hanya uyah lengis tanusan (garam dan minyak tradisional). Sayurnya bisa apa saja, dan itu gampang didapat.
Atau, jika tak punya lauk apa-apa, biasanya sisa nasi yang dingin itu diolah menjadi bubur nasi atau biasa dinamakan bubuh nasi atau di sejumlah daerah biasa dinamani bubuh kuning, karena warnanya kuning. Bubuh nasi lebih sering dibikin dengan sengaja, meski pun misalnya masih tersedia banyak lauk-pauk atau masih sempat bikin nasi baru.
Bubuh nasi tak hanya dimakan sebagai sarapan sebelum berangkat kerja, tetapi juga menjadi semacam obat bagi orang yang sedang tak enak badan. Bubuh nasi dipercaya sebagai obat ampuh untuk menghilangkan panas dalam, sariawan atau sakit tenggorokan. Bahkan dipercaya sebagai menu untuk membangkitkan selera makan.
Lebih enak bubuh nasi disantap selagi hangat. Jenis bubuh ini juga menjadi santapan dipagi hari bagi para murid di desa yang akan belajar ke sekolah. Bubuh nasi juga biasa dibuat ketika musim hujan. Suasana desa yang dingin itu akan menjadi lebih hangat bila menyantap bubuh nasi bersama keluarga.
Bubuh nasi memiliki warna yang kuning merupakan efek dari bumbu yang dipakai yaitu kunyit (kunir). Untuk menjadikan menu tradisional ini lebih sehat, bubuh nasi biasanya dicampur dengan sayur bayam dan daun katuk. Pada saat memasak juga diisi dengan don jangar ulam (daun salam), sehingga menghasilkan rasa yang khas. menyantap bubuh nasi akan menjadi lebih enak bila dilengkapi dengan krupuk dari jaja dengdeng yang digoreng.
Bahan-bahan: sisa nasi, bumbu lokal, daun salam dan air. Bumbu yang digunakan adalah kunyit yang dominan, kemudian ditambah sedikit lengkuas, jahe, kencur, bawang putih, bawang merah, cabe, ketumbar, merica, kemiri, terasi, minyak kelapa dan garam secukupnya serta ditambahkan daun salam agar memiliki rasa yang khas.
Cara membuat bumbunya, pertama kunyit, lengkuas, jahe dan kencur di cincang halus. Bawang merah dan putih diiris lalu digabung bersama bumbu lainnya, lalu diulek atau diblender, sehingga menjadi halus. Demikian pula dengan kemiri, merica, ketumbar bisa di uleg atau di blender untuk dihaluskan. Kemudian dimasukan ke dalam baskom lalu, dimasukan pula sisa nasi dan ditambah minyak kelapa secukupnya. Kemudian diaduk hingga rata hinga bumbu itu masuk ke dalam nasi.
Proses selanjutnya memasukan nasi yang sudah bercampur bumbu itu ke dalam panci atau wajan. Selanjutnya diisi air putih dan garam secukupnya atau sesuai selera. Masukkan sayur bayam, kelor, atau daun katuk serta daun salam sebanyak dua lembar. Lalu dipanaskan sekitar 20 menit atau hingga matang. Bubuh itu kemudian diangkat, lalu siap disajikan. Agar terasa lebih enak bisa ditambahkan bawang goreng dan ditambah krupuk dendeng goreng.
Jangan malu-malu, jika mau coba, coba saja. (T)
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
BANYAK dari kita geli melihat seorang biker begitu sayang pada sepeda motornya. Setiap pagi dilap, dielus, ditepuk-tepuk. Malam sebelum tidur dilihat lagi, dilap, dielus lagi. Sea...
PAGI-PAGI di awal Juli aku ditelepon dramawan Putu Satria Kusuma. “Ole, Yudane sedang di Singaraja, tolong temani dia. Aku lagi di Denpasar,” kata Putu tentu dengan gaya bicara yan...
KITA bangsa yang pendek ingatan. Apa boleh buat. Sampai tingkat tertentu, dalam berkomunikasi pun tak ketinggalan kita memilih cara-cara ringkas. Bahkan jika itu harus dengan menyi...
KALAU sedang rikuh, kalau sedang tak kuat menahan pusing karena televisi terus saja menayangkan cerita-cerita seram, maka marilah kita mencoba mengingat satu sosok: Ibu. Kita akan...
Cerpen: I Putu Supartika TIDAK ada yang tahu sejak kapan pura kecil di tengah sawah itu berdiri. Yang pasti orang-orang di sekitar pura tahu pura itu sudah ada sejak kelahiran mere...
HIRUK-PIKUK perhelatan akbar sepakbola yang begitu menyedot antusiasme dunia dalam sebulan terakhir usai sudah. Piala Eropa (Euro) dan Copa America Centenario 2016 berakhir dengan...
PERNAH jadi trend sebuah berita bahwa ada sekolah di Kabupaten Gianyar yang hanya punya satu orang siswa kelas VI. Banyak kalangan berpendapat, dan tidak sedikit menyoroti bahwa in...
PESTA Kesenian Bali (PKB) ke-38 tahun 2016 berakhir. Banyak pentas seni lewat begitu saja, tapi banyak juga meninggalkan bekas dan kesan di hati sejumlah orang. Para seniman, terut...
WANITA itu terlihat pasrah. Matanya terpejam. Seolah bersiap melepaskan ruh dari raganya yang telah mati. Bagian bawah tubuhnya mengelupas, menjelma serpihan-serpihan tembaga. Itul...