Topeng Tugek Carangsari – Memainkan Topeng Mengolah Karakter
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
HAWA DINGIN YANG MENGINTAI
Menjauhlah dari pintu, dalam ruang sempit ini tak ada penawar andai engkau memaksa masuk dan melindap satu satunya yang aku punya.
Naungmu pada pohon pohon di halaman, tempat embun memamerkan beningnya dan menangkap siapa saja yang melintas, lalu engkau menyelimutinya layaknya ibu dan anak.
Rasa hangat di ruang sempit ini, dan hanya itu yang kupunya, dan menjadi penawar ketika malam malam benar benar empedu dan sepi merajah seluruh tubuhku.
Memang tak ada memar atau ruam merah, namun empedu yang pecah dan membaluri seluruh tubuh dan rasaku itu rasanya seperti apa, jika engkau ingin tahu.
Aku seperti dilempar ke kutub, dengan suhu yang mampu merontokkan sendi sendiku, dingin, sepi, lengang yang berlipat lipat.
Tunggulah sampai esok jika engkau ingin masuk, sampai matahari menyentuh kulit tubuhku, sentuhnya yang mampu menembus jantungku dan merayapi seluruh tubuhku. Lalu engkau boleh bermain main di ladang tubuhku, bahkan menyentuh ceruk rahasiaku.
Permainkan seluruh tubuhku hingga tanpa sisa,
sampai engkau mampu menghitung pori poriku yang meremang, dengan julangan bulu
bulu lembutku, hingga hangat di ruang yang saat ini kupuja lindap atau malah
purna.
-
NARASI DAUN
Kolaborasi yang indah, desau angin, dentang jam angin, gemerisik dedaunan, lengkingan lengkingan bambu terbelah, derit ranting.
Entah , esok apa yang berserak di tanah, dan terjerembab dari ketinggian, menyudahi takdir akan perjalanan, akan kehidupan.
Siapa yang salah. Waktu kah, Tuhan kah, angin kah, atau daun-daun itu sendiri?
Mereka mencoba bermain akrobatik dengan instrumen alam, melayang dan berputar putar.
Nyatanya, daun yang gugur adalah kematian panjang, henti sudah yang bernama petualangan.
Ucapkan salam pada tanah, sebagai penghormatan terakhir sebelum esok menjadi serpih serpih. Dan bakterilah yang berkuasa menjadikanmu remah-remah, sebelum akhirnya menjadi surga bagi cacing-cacing yang melata.
Siapa yang menanti selanjutnya, setelah tanah dan daun menjadi bubur penuh gizi?
Pohon sexy tanpa daun yang meminang lembut bubur tanah dan telor cacing, menjadi santapan terlezat untuk tumbuh kembang, sebelum daun berikutnya tumbuh, dan kembali mengulang putaran yang sama.
Sesungguhnya, hidup ini hanya melakukan
pengulangan pengulangan dan pengulangan yang sama, dan kematian pun bagian dari
pengulangan pengulangan itu sendiri.
-
NARASI MERDEKA
Kemerdekaan adalah hak segala bangsa, apa artinya bagi diriku. Merdeka adalah lepas sejenak dari etika yang membelenggu.
Contoh ringan namun menjengkelkan, makan tak boleh terdengar suara kunyahan, karena gigi yang beradu dan mengeluarkan suara itu tak sopan. Habis makan tak boleh sendawa dekat meja makan, karena itu terkesan jorok. Alat makan tak boleh beradu dan menimbulkan dentingan keras, karena ini ini ini. Tak boleh begini begini begini karena akan menimbulkan itu itu itu.
Halah, repot amat ini hidup!
Sejenak kasih kemerdekaan, apakah belum puas membaca babat, membaca sejarah yang tebatnya melebihi dosa. Lepaskan aku dari etika etika yang sebenarnya tak menambah dosa jika kulanggar.
Jadi, bolehkah aku keluar dari kamar mandi dengan kolor yang tersampir di pundak. Apakah ini melanggar etika kesopanan?
Rumahku adalah negaraku dan aku presidenya, aku rakyatnya dan aku tukang bersih bersihnya. Jadi boleh dong sejenak saja aku suka suka tanpa etika.
Tak ada kok yang akan melotot, kalau pun ada,
apakah tembok dan cicak akan terangsang terika manusia sejenak tak beretika?
-
LIBURAN
Liburan telah tiba, rasanya seperti judul mengarang pada pelajaran bahasa Indonesia sebelum kaum milenial tiba. Dan isinya seputar pergi ke rumah nenek atau ke kebun binatang. Pergi ke sungai atau melihat gajah yang besar.
Seperti bumi dan langit kisah liburan sekarang. Jaman telah berubah dengan cepat. Liburan bagi orang tua bukan lagi bertemu dengan keluarga dan membuka kembali album masa lalu, membongkar brankas kenangan tempat tawa, tangis orang tua dan saudara saudara. Tabungan rindu pun mungkin mulai menipis karena dikikis oleh kesibukan oleh teknologi yang memudahkan setiap saat bersapa. Atau mungkin tradisi yang bisa meremajakan usia karena mengungkit kembali masa kanak telah purna.
Liburan tidak lagi meremajakan pikiran dengan sejenak jeda dari kesibukan. Namun perjalanan jauh dan berdesakan di jalanan karena kemacetan. Berdesakan di tempat wisata hanya untuk berfoto ria dan tak lagi menikmati yang ada, jika ditanya detailnya tak mampu untuk menjawab karena hanya sibuk berpose dan memajang senyum palsu di kamera. Selanjutnya kesibukan tak berguna melilit tubuhnya, memilih foto terbaik, mengedit, dan membagikan media sosial. Menunggu pemberitahuan masuk, menghitung jempol yang menandai kehadirannya, tak lupa menjawab komentar palsu. Aaah sibuk sekali.
Liburan macam apa itu?
Inilah fenomena jaman, kemajuan atau kemunduran untuk sebuah nilai dari liburan.
Mungkin akan libur panjang dan tenang setelah
dikubur di kuburan.
-
HIKAYAT SUNGAI
Tak ada risau, apakah esok akan ada bidadari dengan kulitnya yang pualam dan geraian mayangnya yang hanyut menjauh itu berenang di tubuhnya. Tak ada risau, apakah esok akan ada anak anak seperti kijang, melompat dari ketinggian menuju lambungnya dengan riang. Tak ada kesangsiang baginya, apakah esok ada biduk yang mendayung di arus tubuhnya. Baginya, mengalirkan bening tanpa riak apalagi ombak adalah segalanya, sebelum kembali pada takdirnya, mencapai kedalaman laut tanpa ada kebimbangan akan tersesatnya arus dalam menempuh perjalanan.
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
JIKA di atas meja belajar anda terdapat dua buah benda yaitu gadget dan buku, manakah yang akan anda pilih? Saya percaya, demi sinetron kesukaan ibu-ibu di tivi, kebanyakan dari a...
LAGU anak-anak itu kadang unik, terutama liriknya. Saat Taman Kanak-Kanak dulu kita tidak begitu hirau dan memang tak banyak mengerti arti dan maksud lagunya itu apa. Cuma nyanyi d...
BALI merupakan kepulauan seribu pura yang telah terkenal sejak zaman dahulu. Masyarakat Bali tak lepas dari Tri Hita Karana yang merupakan landasan kehidupan beragama dan beradat....
JIKA benar harga rokok setinggi langit biru, dan jika benar harga tinggi itu bisa menghentikan orang merokok, dan (siapa tahu) nanti benar-benar tak ada yang merokok, bagaimana nas...
PERNAH nyuluh jangkrik? Zaman saya kecil, di desa saya di Jembrana, nyuluh jangkrik (memburu jangrik malam hari) adalah kegemaran saya dan teman sebaya. Jauh-jauh sebelumnya, bapak...
Cerpen: Putri Handayani HAMPIR setiap hari Griya Siwa tidak pernah sepi dari orang-orang yang ngayah1. Mulai dari membuat sarana upakara sampai meracik tirta, semua dilakukan oleh ...
KELAHIRAN istilah 'simakrama' menarik untuk ditelusuri. Awalnya istilah ini yang lebih mengarah pada padanan kata 'silahturahmi', yang mencerminkan keinginan untuk berbicara dan sa...
ADA serombongan remaja sedang berebut peran. Mereka akan menjadi pelakon sandiwara dalam perayaan Agustusan tingkat RT. Peran konglomerat, menteri, dokter, mahasiswa, semua mereka...
GARIS berliku itu menyerupai sungai. Lebar di hulu kemudian menyempit di hilir. Warnanya hijau, biru, dan jingga. Garis berliku serupa sungai itu membelah lukisan menjadi dua bagia...