Papuk, Cucu dan Puisi
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
Bunga-bunga ditabur di atas pemakaman. Bingkai-bingkai papan ucapan duka yang biasanya terbuat dari gabus atau sterofoam pun biasanya diberi hiasan bermotif bunga-bunga. Apa memang bunga adalah lambang duka cita? Atau mungkin lambang kematian?
Tapi ketika orang pacaran kenapa lantas si kekasih memilih bunga sebagai ungkapan perasaannya? Lelaki memberi bunga pada wanita karena dia sayang dan cinta. Bunga jadi lambang perasaan suka, cinta, dan romantisme.
Dalam segi bahasa pun "bunga" selain bermakna sebagai wujud bunga itu sendiri tapi jika diberi imbuhan ber dan ditambah pengulangan kata sehingga jadi "berbunga-bunga" maka maknanya akan jadi senang atau gembira.
Hal ini juga semakin diperkuat lagi dalam frasa "bunga tidur" yang maknanya adalah mimpi. Kata bunga dalam idiom itu merujuk pada makna hiasan yang bila diruntut lagi akan mengarah pada keindahan dan kebahagiaan. Dalam bahasa Madura pun, ungakapan bahasa halus dari senang adalah "bhunga".
Aneh, apa sebenarnya makna bunga? Apakah ketika memberi bunga untuk mengiring kematian itu artinya sedang berbunga-bunga (bahagia)? Tentu tidak kan!? Atau sedang jatuh cinta? Pada siapa? Orang mati? Tentu tidak juga kan!? Atau ketika memberi bunga pada kekasih itu artinya kita sedang berduka? Kan bunga juga diberikan ketika ada orang mati.
Bunga juga digunakan sebagai ungkapan kecantikan dan keelokan. Seperti idiom bunga bangsa dan kembang (bunga) desa. Bunga itu lambang kecantikan. Juga, bunga biasanya diidentikan dengan wanita, kecewek-cewekan, feminis. Kalau ada cowok suka bunga atau motifmotif bercorak bunga, maka biasanya akan dikatai banci.
Sampai di sini, takdir bunga nyatanya hanya ada dua. Kalau tidak diberikan ketika ada kematian ya akan jatuh ke tangan wanita. Tapi tetap tidak bisa diterima, kalau bunga diidentikan dengan wanita dan keindahan memang masuk akal karena bunga itu memang indah begitu juga wanita.
Tapi dalam hal kematian, kenapa harus bunga yang dijadikan lambang pengungkap rasa duka? Dari keindahan ke kematian, kan jauh amat dan gak nyambung. Atau jangan-jangan kematian itu indah lantas ditaburi bunga-bunga? Tapi bila memang indah kenapa orang-orang berduka ketika mengunjungi pemakaman, kok bukan bahagia (berbunga-bunga)?
Sampai di sini mungkin kita bisa menyetujui apa yang dikatakan Pasha Ungu dalam salah satu lirik lagunya bahwa "Bunga adalah bahasa rasa" dengan bunga orang-orang mencoba mengungkapkan perasaannya baik duka, suka, cinta, maupun bahagia. Cukup dengan bunga, semua apa yang ingin diungkapkan telah terwakilkan tanpa berpanjang lebar mengatakannya.
Persoalannya sekarang, ungkapan perasaan yang mana yang bisa diwakili dengan memberi bunga? Atau itu hanya konstruksi budaya saja? Ok, perbedaan adalah keniscayan.
Lalu apa gunanya saya menulis ini? Atau lebih baik aku beri kamu bunga saja biar kamu ngerti? Eaaa. (T)
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
BERCERITA Aku menemukan ibuku di masa lalu Yang memaksaku menjadi ayah masa lalu Aku teringat cerita ibuku masa SMA saat aku masih di dalam rahim Ibu berkata...
PADA akhir hidup seorang manusia, dunia tidak mengenal orang yang setengah-setengah. Hitam ya hitam, putih ya putih. Pahlawan atau Penjahat. Tidak ada yang mengenal si abu-abu. Bai...
PINTU besi itu terlihat mencolok. Pintu besi berkarat itu benar-benar menonjol. Saat memasuki galeri pameran Bentara Budaya Bali, pintu besi itu langsung menarik perhatian. Sepinta...
SALAH satu gitaris terbaik Indonesia bahkan dunia, Wayan Balawan, akan hadir dan konser di Kupang Agustus nanti. Wayan Balawan, master tapping asal Bali, akan didampingi drummer da...
HAJATAN besar sejarah pemilu di Indonesia telah dimulai Rabu, 9 Desember 2015. Ada sembilan provinsi dan 260 kabupaten/kota se-Nusantara waktu itu yang melaksanakan pilkada serenta...
BERANGGAPAN bahwa kampus adalah sebuah lembaga independen yang tidak boleh memihak kekuatan politik memang adalah sebuah kebenaran. Namun, bukan berarti tidak ambil bagian dalam pr...
(Tulisan ini dibuat dalam rangka menyongsong Serasehan Drama Gong yang rencananya digelar di Denpasar, 6 Agustus 2016) DI Bali, sebelum lahirnya institusi pendidikan seni dan Pesta...
ISU kesetaraan gender masih menjadi topik relevan yang dibahas melalui media verbal maupun non verbal. Tak terkecuali melalui medium seni rupa. Topik soal gender yang seolah ingin...
Judul Buku: Istana Para Kuli # Penulis: Yahya Umar # Penerbit: Salsabila – Pustaka Al-Kautsar Grup # Tebal: 229 halaman # ISBN: 978-602-1695-36-4 MADURA memiliki bentangan tanah ta...