Suatu hari Sonia menuturkan niatnya untuk mengajukan proposal sebuah proyek yang melibatkan para ibu (saya salah satunya) sebagai tokoh yang menginsipirasi,berjuang untuk keluarga.
Awalnya saya masih gamang tentang bentuk dan
kebutuhan proyek ini akan keberadaan saya. Untuk apa? Untuk siapa? Layakkah
saya? Inikah waktunya saya ungkapkan keinginan saya?
Saya akui jauh di dasar hati, setelah meninggalnya
suami, saya ingin membagikan sedikit pengalaman saya ketika mendampingi beliau
semasa hidupnya, yang mungkin ada manfaatnya bagi perempuan lain.
Antara lain tentang bagaimana saya bisa menerima
lelaki dari pernikahan yang dirancang keluarga. Bagaimana penyesuaian diri awal
sebagai menantu, ipar, dan bagian dari keluarga yang notabene masih sangat
kental tradisinya, terutama panggilan dan sebutan penghormatan yang harus tepat
dalam percakapan sehari-hari ataupun saat rapat keluarga (prareman).
Juga bagaimana pakaian yang sepatutnya digunakan
saat sowan ke rumah keluarga setingkat mertua, untuk melayat, ke undangan
nikah, ataupun maturan.
Cukup banyak waktu yang saya lewati untuk
mempelajari dan memahaminya. Beberapa saudara dan teman memberikan tuturan,
kisah dan sisi pandang yang berbeda dalam menyikapi rumah tangga kami
masing-masing.
Ada yang memilih bertahan dengan segala
penderitaannya demi sebuah status. Ada yang mengajarkan saya mendobrak tradisi,
ada juga yang memilih bercerai setelah mengantarkan pembantunya ke dokter
karena keguguran, ironisnya dihamili suaminya sendiri.
Lama saya belajar untuk menyadari ternyata lelaki
pilihan ibu memang ayah dan suami yang baik hingga akhir hayatnya, walau saya
belum mengungkapkannya secara langsung. Saya berpikir masih cukup banyak waktu,
bahwa saya takkan kehilangannya, takkan ditinggalkan sebelum saya siap.
Tatkala Sonia datang kembali dengan paparan yang
jelas tentang Proyek Teater Dokumenter 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah yang merupakan
hibah Cipta Media Ekspresi, saya memastikan diri, siap menjadi bagian proyek
tersebut. Status single parent yang
saya sandang akan saya jadikan dasar untuk bisa berbagi sesuai kacamata
masing-masing pribadi, introvert-ekstrovert, meledak-ledak, ataupun pendiam dan
memendam.
Kita akan saling menguatkan, memvibrasi para ibu
yang merupakan bagian kehidupan yang memiliki permasalahan yang mungkin jauh
lebih kompleks dari 11 ibu, bisa lebih menghargai waktu, memaknai kualitas bukan kuantitas
kebersamaan, karena tiap-tiap kita adalah bagian dari yang lainnya.
Janji temu pertama 11 ibu adalah di Rumah Belajar Komunitas
Mahima. Bagi 11 ibu dalam pertemuan itu ada pertemuan pertama dan ada yang
bertemu kembali. Anehnya, kami tak merasa asing satu sama lain. Pertemuan
mengalir begitu saja, apakah karena rumah itu yang hangat ataukah Sonia, sang
sutradara dan penulis naskah, yang selalu antusias dan hangat, terutama jika
sudah menjabarkan bagan hingga detil-detil terkecil proyek ini (adakah ini
salah satu hal yang mengesankan juri saat Sonia presentasi?)
Pertemuan berlanjut di rumah satu ibu ke ibu yang
lainnya. Dalam proses inilah sangat terasa kedekatan kami terpupuk, belajar
lebih banyak mendengarkan, berusaha mengungkapkan dengan bijak permasalahan,
kondisi untuk didengarkan, bersikap terbuka, dan menerima kelebihan dan
kekurangan masing-masing, memilih dan memilah kalimat-kalimat, dan tindak-tanduk
yang konstruktif dalam memberikan alternatif saran dan solusi terhadap
permasalahan yang dihadapi. Seringkali kami hanyut dalam tangis bersama,
sesekali tawa kami renyah berderai.
Pemahaman terbangun secara sukarela. Saya
membayangkan bagaimana cara Sonia mendatangi kami satu persatu untuk bersedia
terlibat dalam proyek ini. Saya merasa bahwa ketulusan juga terbentuk dengan
sendirinya. Selain berlatih untuk naskah sendiri, kami juga selalu terlibat
dalam setiap pementasan 11 Ibu. Tanpa diminta kami akan saling berbagi makanan
yang dibawa sendiri saat salah satu ibu berlatih dan pentas.
Kami juga ikut berperan sebagai figuran demi
suksesnya pentas-pentas tersebut (kecuali berhalangan karena kepentingan lain).
Pernah pula kami menjadi pemompa semangat karena salah satu ibu bermasalah
dengan naskah dan rumahtangganya.
Sungguh ini serupa teater terapi karena kemudian
hubungan dengan pasangannya jadi membaik setelah pentas berlangsung. Yang
pasti, kami tidak pernah berlagak menghakimi setiap kali naskah usai
dipanggungkan.
Dalam proses latihan hingga pentas, setiap ibu
melibatkan keluarga sebagai bagian dari kisahnya. Tidakkah itu indah?
Elemen-elemen rumah bisa sebagai panggung. Semua anggota keluarga terlibat,
semua merasakan, semua saling menguatkan. Apresiasi penonton lewat whatsapp, facebook, maupun komentar
langsung, termasuk saran dan kritik memberi arti tersendiri bagi kami.
Sebagai orang Bali, saat pentas saya memunculkan
latar Bale Gede, bagian penting
tradisi karena setiap prosesi bertempat di sini. Layaknya wadah meramu
kerukunan, pengejawantahan rasa, saling berbagi dan berkumpul, cerminan Rwa Bhineda (suka dan duka selalu
berdampingan dalam kehidupan).
Satu lagi hal penting yang saya rasakan dari kebersamaan kami dalam proyek ini yaitu mekarnya kesadaran: sebagai perempuan, sosok gadis (daha) sebaiknya menyiapkan diri sepantasnya karena nantinya akan memasuki kehidupan baru (kahuripan) saat menikah.
Sebagai istri, berusaha menjaga hubungan sebaik kita bisa pada tiap bilah tahapan rumah tangga, (karena jodoh kan kuasa Tuhan). Sebagai ibu, melaksanakan swadharma suci, menyadari anak yang terlahir adalah titipan Tuhan melalui kita tapi bukan dari kita. Kita bisa tumpahkan kasih ibu sedalam-dalamnya semasih diberi waktu. (T)