Tuah Wanita Bali - Kebahagiaan saat Memberi
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
Awalnya saya masih gamang tentang bentuk dan kebutuhan proyek ini akan keberadaan saya. Untuk apa? Untuk siapa? Layakkah saya? Inikah waktunya saya ungkapkan keinginan saya?
Saya akui jauh di dasar hati, setelah meninggalnya suami, saya ingin membagikan sedikit pengalaman saya ketika mendampingi beliau semasa hidupnya, yang mungkin ada manfaatnya bagi perempuan lain.
Antara lain tentang bagaimana saya bisa menerima lelaki dari pernikahan yang dirancang keluarga. Bagaimana penyesuaian diri awal sebagai menantu, ipar, dan bagian dari keluarga yang notabene masih sangat kental tradisinya, terutama panggilan dan sebutan penghormatan yang harus tepat dalam percakapan sehari-hari ataupun saat rapat keluarga (prareman).
Juga bagaimana pakaian yang sepatutnya digunakan saat sowan ke rumah keluarga setingkat mertua, untuk melayat, ke undangan nikah, ataupun maturan.
Cukup banyak waktu yang saya lewati untuk mempelajari dan memahaminya. Beberapa saudara dan teman memberikan tuturan, kisah dan sisi pandang yang berbeda dalam menyikapi rumah tangga kami masing-masing.
Ada yang memilih bertahan dengan segala penderitaannya demi sebuah status. Ada yang mengajarkan saya mendobrak tradisi, ada juga yang memilih bercerai setelah mengantarkan pembantunya ke dokter karena keguguran, ironisnya dihamili suaminya sendiri.
Lama saya belajar untuk menyadari ternyata lelaki pilihan ibu memang ayah dan suami yang baik hingga akhir hayatnya, walau saya belum mengungkapkannya secara langsung. Saya berpikir masih cukup banyak waktu, bahwa saya takkan kehilangannya, takkan ditinggalkan sebelum saya siap.
Tatkala Sonia datang kembali dengan paparan yang jelas tentang Proyek Teater Dokumenter 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah yang merupakan hibah Cipta Media Ekspresi, saya memastikan diri, siap menjadi bagian proyek tersebut. Status single parent yang saya sandang akan saya jadikan dasar untuk bisa berbagi sesuai kacamata masing-masing pribadi, introvert-ekstrovert, meledak-ledak, ataupun pendiam dan memendam.
Kita akan saling menguatkan, memvibrasi para ibu yang merupakan bagian kehidupan yang memiliki permasalahan yang mungkin jauh lebih kompleks dari 11 ibu, bisa lebih menghargai waktu, memaknai kualitas bukan kuantitas kebersamaan, karena tiap-tiap kita adalah bagian dari yang lainnya.
Janji temu pertama 11 ibu adalah di Rumah Belajar Komunitas Mahima. Bagi 11 ibu dalam pertemuan itu ada pertemuan pertama dan ada yang bertemu kembali. Anehnya, kami tak merasa asing satu sama lain. Pertemuan mengalir begitu saja, apakah karena rumah itu yang hangat ataukah Sonia, sang sutradara dan penulis naskah, yang selalu antusias dan hangat, terutama jika sudah menjabarkan bagan hingga detil-detil terkecil proyek ini (adakah ini salah satu hal yang mengesankan juri saat Sonia presentasi?)
Pertemuan berlanjut di rumah satu ibu ke ibu yang lainnya. Dalam proses inilah sangat terasa kedekatan kami terpupuk, belajar lebih banyak mendengarkan, berusaha mengungkapkan dengan bijak permasalahan, kondisi untuk didengarkan, bersikap terbuka, dan menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing, memilih dan memilah kalimat-kalimat, dan tindak-tanduk yang konstruktif dalam memberikan alternatif saran dan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi. Seringkali kami hanyut dalam tangis bersama, sesekali tawa kami renyah berderai.
Pemahaman terbangun secara sukarela. Saya membayangkan bagaimana cara Sonia mendatangi kami satu persatu untuk bersedia terlibat dalam proyek ini. Saya merasa bahwa ketulusan juga terbentuk dengan sendirinya. Selain berlatih untuk naskah sendiri, kami juga selalu terlibat dalam setiap pementasan 11 Ibu. Tanpa diminta kami akan saling berbagi makanan yang dibawa sendiri saat salah satu ibu berlatih dan pentas.
Kami juga ikut berperan sebagai figuran demi suksesnya pentas-pentas tersebut (kecuali berhalangan karena kepentingan lain). Pernah pula kami menjadi pemompa semangat karena salah satu ibu bermasalah dengan naskah dan rumahtangganya.
Sungguh ini serupa teater terapi karena kemudian hubungan dengan pasangannya jadi membaik setelah pentas berlangsung. Yang pasti, kami tidak pernah berlagak menghakimi setiap kali naskah usai dipanggungkan.
Dalam proses latihan hingga pentas, setiap ibu melibatkan keluarga sebagai bagian dari kisahnya. Tidakkah itu indah? Elemen-elemen rumah bisa sebagai panggung. Semua anggota keluarga terlibat, semua merasakan, semua saling menguatkan. Apresiasi penonton lewat whatsapp, facebook, maupun komentar langsung, termasuk saran dan kritik memberi arti tersendiri bagi kami.
Sebagai orang Bali, saat pentas saya memunculkan latar Bale Gede, bagian penting tradisi karena setiap prosesi bertempat di sini. Layaknya wadah meramu kerukunan, pengejawantahan rasa, saling berbagi dan berkumpul, cerminan Rwa Bhineda (suka dan duka selalu berdampingan dalam kehidupan).
Satu lagi hal penting yang saya rasakan dari kebersamaan kami dalam proyek ini yaitu mekarnya kesadaran: sebagai perempuan, sosok gadis (daha) sebaiknya menyiapkan diri sepantasnya karena nantinya akan memasuki kehidupan baru (kahuripan) saat menikah.
Sebagai istri, berusaha menjaga hubungan sebaik kita bisa pada tiap bilah tahapan rumah tangga, (karena jodoh kan kuasa Tuhan). Sebagai ibu, melaksanakan swadharma suci, menyadari anak yang terlahir adalah titipan Tuhan melalui kita tapi bukan dari kita. Kita bisa tumpahkan kasih ibu sedalam-dalamnya semasih diberi waktu. (T)
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
BANYAK dari kita geli melihat seorang biker begitu sayang pada sepeda motornya. Setiap pagi dilap, dielus, ditepuk-tepuk. Malam sebelum tidur dilihat lagi, dilap, dielus lagi. Sea...
PAGI-PAGI di awal Juli aku ditelepon dramawan Putu Satria Kusuma. “Ole, Yudane sedang di Singaraja, tolong temani dia. Aku lagi di Denpasar,” kata Putu tentu dengan gaya bicara yan...
KITA bangsa yang pendek ingatan. Apa boleh buat. Sampai tingkat tertentu, dalam berkomunikasi pun tak ketinggalan kita memilih cara-cara ringkas. Bahkan jika itu harus dengan menyi...
KALAU sedang rikuh, kalau sedang tak kuat menahan pusing karena televisi terus saja menayangkan cerita-cerita seram, maka marilah kita mencoba mengingat satu sosok: Ibu. Kita akan...
Cerpen: I Putu Supartika TIDAK ada yang tahu sejak kapan pura kecil di tengah sawah itu berdiri. Yang pasti orang-orang di sekitar pura tahu pura itu sudah ada sejak kelahiran mere...
HIRUK-PIKUK perhelatan akbar sepakbola yang begitu menyedot antusiasme dunia dalam sebulan terakhir usai sudah. Piala Eropa (Euro) dan Copa America Centenario 2016 berakhir dengan...
PERNAH jadi trend sebuah berita bahwa ada sekolah di Kabupaten Gianyar yang hanya punya satu orang siswa kelas VI. Banyak kalangan berpendapat, dan tidak sedikit menyoroti bahwa in...
PESTA Kesenian Bali (PKB) ke-38 tahun 2016 berakhir. Banyak pentas seni lewat begitu saja, tapi banyak juga meninggalkan bekas dan kesan di hati sejumlah orang. Para seniman, terut...
WANITA itu terlihat pasrah. Matanya terpejam. Seolah bersiap melepaskan ruh dari raganya yang telah mati. Bagian bawah tubuhnya mengelupas, menjelma serpihan-serpihan tembaga. Itul...