Ada tiga alasan mengapa kita harus membaca buku “Jais Darga Namaku”.
Pertama, Jais menjadi
eksemplar dari perempuan Indonesia yang
bisa meloloskan dirinya dari lingkungan asalnya dan menjadi manusia yang lain
(manusia dunia). Kedua, agar kita lebih mengetahui dunia perdagangan seni kita.
Ketiga, kita, khususnya di Indonesia punya permasalahan sulit keluar dari
lingkungan asal usulnya.
“Sementara si ‘aku’ di buku ini
melawan itu semua, dalam pengertian yang baik.”
Demikian antara lain kata penyair
dan pemerhati seni budaya Nirwan Dewanto dalam acara bincang buku “Jais Darga
Namaku” (penerbit KPG, 2018) dalam program Pustaka Bentara di Bentara Budaya
Bali (BBB) Kamis (27/12).
Buku ini merupakan sebuah
autobiografi (as told to), mengungkapkan
sosok serta pergulatan hidup Jais Hadiana Dargawidjaja, seorang art dealer perempuan pertama di
Indonesia dengan segala ambisinya.
Buku yang ditulis oleh sastrawan
Ahda Imran ini mengetengahkan latar belakang kehidupan keluarga menak Sunda,
dunia anak muda Kota Bandung 1970-an, hingga bisnis seni rupa di Paris, London,
Amsterdam, New York, Singapura, dan Hongkong.
Kisah yang dihadirkan bukan
saja seputar sosok Jais Darga, tapi juga pergulatan hidup seorang perempuan,
seorang anak, seorang istri dan ibu. Berbaur dengan ambisi dan pergulatannya
dalam dunia bisnis, dan berlapisan kisah
lainnya.
Selain dibahas Nirwan
Dewanto, buku itu juga dibahas Ahda Imran yang menulis buku itu. Pada acara
yang bekerja sama dengan penerbit KPG ini, bukan saja diungkap perihal proses
kreatif penulisan buku “Jais Darga Namaku”, juga menguraikan pencapaian
susastranya, dipandu oleh Putu Fajar Arcana.
“Buku ini mengungkapkan pada
saya aspek-aspek mendalam jual beli seni oleh satu-satunya art dealer di Indonesia yang merintis karirnya dari bawah hingga
memasuki balai lelang di kota-kota besar di Eropa dan New York. Dan hanya satu
orang (Jais Darga) yang mampu memasuki balai-balai lelang sebesar itu,” kata
Nirwan Dewanto.
Kata Nirwan Dewanto, bila
kita tidak mengenal atau mengesampingkan pribadi Jais, maka kita bisa membaca
buku ini sebagai sebuah roman atau novel.
Sementara itu, sang penulis
buku ini, Ahda Imran, berbagi pengalaman dan proses penulisan buku setebal 500
halaman yang dikerjakannya selama lebih dari 3 tahun.
“Selama proses penulisan buku ini Teh Jais menyerahkan sepenuhnya
konstruksi, termasuk gaya penulisan buku ini sehingga saya memiliki keleluasaan
sebagai penulis. Dalam penulisan autobiografi atau biografi, saya ingin
menekankan pada subjek penulisan bahwa saya tidak menulis untuk konstruksi
citraan dia, maka saya meminta kepada Teh
Jais untuk membuka seluruh dirinya. Saya ingin mendapatkan chemistry dalam kehidupan dia termasuk pada hal-hal yang sangat
mendetail,” kata Ahda Imran.
Ahda juga sempat melakukan
meriset tempat-tempat di Paris selama 2 minggu, termasuk ke Amsterdam tempat
Jais pernah tinggal dulu. Bahkan bersama
Jais berkesempatan bertemu dan mewawancarai Enrico Navarra, salah seorang
kolektor besar yang mengoleksi karya-karya Basquiat tentang kondisi art market di Eropa pada masa 90-an, dimana
kala itu Jais Darga menjadi pembeli karya seni di Paris.
“Saya tidak berpretensi
menampilkan Jais Darga secara faktual. Buku ini adalah pengalaman saya melihat
Jais Darga. Jadi setiap orang mungkin punya pengalaman dan perspektif yang
berbeda tentang Jais,” papar Ahda Imran.
Pada kesempatan tersebut,
hadir pula seniman dan budayawan yang juga sahabat Jais Darga, antara lain
pemilik ARMA Museum, Anak Agung Rai, Putu Wirata Dwikora, Wayan Juniartha, Putu
Suasta, Pino Confessa, Hartanto. Mereka turut berbagi kisah perjumpaan serta
persahabatan dengan Jais selama puluhan tahun.
Selain itu hadir pula
kritikus Prof. Dr. Nyoman Darma Putra, M.Litt, penyair dan penulis seni budaya
Adi Wicaksono, dramawan Abu Bakar, seniman Made Kaek, Made Supena, Made
Sumadiyasa, Wayan Jengki Sunarta, Oka Rusmini, Arif Bagus Prasetya, juga Mas
Ruscitadewi dan lain-lain.
“Saya tidak akan sampai pada
pencapaian saat ini tanpa sahabat-sahabat saya. Saya memulai karir di Bandung
dan Jakarta, tapi saya merasa tumbuh dan paling genah di Bali, karena saya selalu dibantu oleh sahabat-sahabat
saya. Untuk generasi muda pesan saya satu, kita harus percaya diri. Kita tidak
boleh rendah diri, kita harus berani dan kita harus bisa. Tidak ada halangan,
baik bahasa, suku, agama. Kita harus selalu melangkah dan tidak ada kata tidak
bisa, kecuali takdir. Bali adalah rumah saya, ” ujar Jais Darga.
Bincang buku ini dimaknai
pula pembacaan puisi dan pertunjukan musik akustik. (R/T)