Senja turun, kunci masuk, sebuah kantung plastik menggantung, kolam yang keruh, mendung yang menggantung, tas punggung, tongkat.
Dan… lalu…?
Jalan menurun, daun-daun
membusuk, lumut melapisi beton, roda berputar -- dan berputar dan berputar,
mesin menderu, jeruk bergelantungan.
Dan… lalu…?
Tenda dibongkar,
kerumunan bubar, keriuhan sepi, senja turun mendung mengantung, raksasa
terpaku, lelaki tua membersihkan sisa keriuhan. Bulu-bulu ayam berhamburan,
benang-benang putus, berserakan, noda darah membekas, ke mana aroma dupa tadi
pagi?
Dan… lalu…?
Beringin
menatap, dahan kering teronggok, sisa doa berserakan. Sapu berisik, obrolan
berbisik, roda melaju, mesin menderu. Dan… lalu…
Keranjang
bercahaya, menyala, bocah beriringan, lampu menyala terpal biru, coklat, oranye
kusam. Bocah memilih permainan, memilah mainan, pakaian, santapan di antara
rumput, kelapa, senja, aroma parfum murahan Abege di gerbang puber. Milisi
tradisi bersiaga, motor berjejer, di mana destar putih tadi pagi? Dan... lalu..
tong belum edan, masih sore, belum ramai.
Roda berputar, mesin
menderu, dua buah benang berwarna putih melingkar di pergelangan tangan kanan,
dipasang dalam dua hari yang berbeda, aku tak berubah, demikian juga mereka, mungkin
juga kalian. Sebuah gelang kuning hitam melingkar di pergelangan kiri.
Senja mulai
turun, serangga petang bersenandung nyaring. Serangga kecil melintas memburu
lampu-lampu yang kian jelas, bersinar. Roda berputar, mendung menggantung,
mesin menderu, dan… lalu… lalu… roda berputar, mesin menderu, senja menurun.
Garis putus-putus
tergurat, menuntun menuju garis berliku tak berjeda, sebuah papan reklame
berdiri, kosong, memuat karat, kosong, siapa di sana kemarin? Ke mana dia
sekarang? Dan.. lalu… roda berputar,jalan bergelombang, mesin menderu, senja
menurun, dan.. lalu…
Sebuah tanda
dipasang, mengalihkan, melarang. Jalur baru harus dilalui, sebuah petunjuk,
hari ini tak ada jalur biasa,tak ada ruas yang sama. Lampu kian jelas datang
dari hadapan, tepat menyasar mata, menusuk. Serangga senja menyusup di antara
benderang dan silau, menusuk, seolah mengingatkan betapa berbahayanya melihat.
Dan lalu… mesin menderu, roda berputar, senja menurun.
Sebuah tugu
memuat kata merdeka berwarna merah dan putih kusam berdebu, menandai, mengingatkan,
menyakinkan bahwa kemerdekaan sudah di genggaman, sudah dirasakan, sudah
dinikmati. Dan… lalu… roda menderu, mesin berputar, senja menurun.
Reklame
berbaris, besar, “ayo ke sungai” mengajak bermain, tidak gratis, tidak, “ayo ke
sungai, bermain,” tidak gratis, tidak. Saku diraba, tak cukup untuk masuk ke
sungai, bermain. Dan… lalu…, mesin menderu, roda berputar, sungai mengalir, seja
menurun.
Sebuah plat nama
dipajang di atas, di bawah sungai mengalir tak peduli nama yang disematkan.
Seoarang lelaki telanjang membasuh air sakral yang dipercikkan pagi tadi, sementara
lelaki lain memuat sebuah jerigen penuh air ke dalam motornya. Plat nama
berdiri, air mengalir, dua pria larut dalam lakunya. Dan.. lalu.. roda
berputar, lampu menyala, mesin menderu, klakson berbunyi melintasi jembatan.
Berkas sinar
kian jelas, kian cepat melintas. Sebuah pick-up putih memuat peralatan,
berjejal, pemandu terselip diataranya. Air mengalir ke hilir tak cukup, tak
cukup aman, tak cukup nyaman, bermain di sungai harus aman, harus nyaman.
Mengalir ke hilir halus mengikuti panduan. Dan.. lalu.., roda berputar, sebuah
pick-up berplat merah dihadapan, menyusuri garis yang enggan terjeda.
Dari depan
seorang perempuan duduk di balik lelaki yang dipercayai untuk membawanya melaju.
Sementara sebuah tangan mungil muncul dari hoodie belang pink, berusaha memeluk
pinggang ibunya yang duduk di belakang sang ayah, pelan berjalan di hadapan, di
belakang sebuah mobil SUV hitam mengkilap. Dan..lalu…, senja menurun, roda
berputar, mesin menderu.
Perempuan muda
duduk di depan gapura, menemani dua perempuan tua yang ada
di hadapannnya, menunggu senja kian gelap, menunggu entah apa yang akan
datang, lalu seorang lelaki duduk termangu di depan gapura yang lainnnya,
memandang senja melintas begitu saja. Dan.lalu..senja turun, semakin turun, roda berputar, semakin kencang, mesin
semakin menderu.
Asap terbang
memotong jalan, menyeruak dari janur sisa-sisa doa yang membekap api.
Asap,doa,terbang,samar,hilang dan api membakar kemudian. Dan…lalu… kerangka
reklame berkarat, pohon perindang terkelupas, roda menderu, mesin berputar.
Merpati
bergerombol, tanpa surat, merenggangkan otot, melemaskan sayap. Berputar di atas
rumah empunya. Gemericik lonceng ditelan deru mesin, laju kendaraan, musik dari
speaker di posko dengan pemuda telanjang dada merayakan harinya. merayakan hari
di mana doa telah dikirim, (mungkin) sampai di langit bingung. Dan..lalu..musik
semakin kencang, tubuh bergoyang, merpati semakin rendah.
Baliho-baliho
caleg menjajakan diri di sepanjang jalan, gambar tampang mereka mendominasi, apa
yang hendak mereka lakukan? Mereka bahkan tidak mengetahuinya. Sebuah pick-up
hitam datang dari depan, memuat dua wanita tua berkebaya putih, berkulit gelap
seperti senja yang kian pekat, berbincang setelah lelah menyiapkan segala
sarana untuk hari yang telah ditunggu. Dan..lalu.. sorang gadis berkebaya
kuning dengan kain hijau, berkulit putih berwajah bulat sebulat kaca mata yang
dikenakannya menempelkan tubuhnya pada seorang lelaki yang hendak memboncengnya.
Si lelaki sumbringah, dan..lalu.. mesin menderu, roda berputar, selamat petang,
kau tak terselamatkan..
Awal malam,
sebuah tanda mengawali sebuah tikungan, motor, mobil, berbaris, pria, wanita,
berjejer, menatap kerlip dikejauhan. Restoran, tukang parkir, Baliho caleg,
logo partai berserakan, menjijikkan. warung gedek dan gerobak berjajar, bakso, mangkok,
es, 5000, sedotan, anak-anak, semak, remang, bangku kayu, spanduk kusam,
pemandanan lampu kota bukan milik mereka. dan...lalu.. sebuah tugu bicara “Good
Bye-thank you-see you” compang-camping. Kalimat untuk penikmat kerlip bukan
untuk pengunjung gerobak bakso.
Jalan
berliku,garis tengah tak putus-putus. Meliuk, menikung, menelikung, sebuah tugu
raksasa di kiri, menanda batas yang tak dipedulikan gagak. Pertanda
meninggalkan kota lalu masuk kota kemudian. Di kanan warung kosong, penjualnya
sedang melanjutkan doa (mungkin) atau beristirahat setelah lelah berdoa sedari
subuh. Dan.. lalu.. Pohon nangka
berkondom kantung plastik, kemana buah durian pergi?
Dan..lalu…
terlewati, mesin berputar,roda menderu, garis putus-putus memberi tanda, menuntun,
saatnya mendahului. Dan..lalu.. mesin menderu, roda berputar,pasar kosong,
bangku teronggok di atas meja, semua sedang di ruang keluarga, melahap isi
pasar, sisa doa.
Kerlip kendaraan
semakin padat, medahului, melintasi, menunggalkan, menghadapi. Melambat,
menyusul, klakson, lampu sign. Warung cepat saji, barisan orang menunggu,
ngantri, sebuah paha, sebuah dada, sebuah sayap berbalut tepung dalam wajan,
minyak mendidih, air membeku, sekepal nasi, sebotol teh, berbaris, menunggu,
menanti, pesanan tiba. Dan… lalu… sisa doa tak laku, mesin menderu, roda
berputar, gelap memekat, cahaya tegas.
Berkelit,
menyelinap, menyusup, berhenti, lampu merah menyala. Menikung, kiri, kanan,
lurus melaju, klakson, teriakan, cekikikan, baliho, markah jalan, dan.. lalu..
ruas mengecil, garis hilang, lampu merenggang, berhenti. Dan.. lalu.. sebuah
kursi menunggu, sebuah meja kosong, sebotol air ditegak.
Sebuah layar
ditatap, ucapan tindih menindih di dinding, tertumpuk, doa, harapan, jualan.
“selamat Galungan & Kuningan”, “selamat Natal”, “Marry Christmas”,
“jokowi”, “prabowo”, “ijin lokasi reklamasi” “susi puji astuti” dan.. lalu…
Gubernur Bali ke mana? Dan.. lalu.. Gubernur Bali ke mana?
Ahhh… selamat hari
raya; Galungan dan Natal 2018.