‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
Dalam lontar Kalatattwa, waktu atau Bhatara Kala, diceritakan terlahir dari kama atau nafsu Siwa yang jatuh dan tercecer di bumi, tanpa sempat masuk ke dalam rahim Parwati. Dalam hal ini, kama atau nafsu Siwa tidak masuk dan tercerap ke dalam tanah, tetapi berada di atas permukaan tanah.
Dalam lontar digambarkan, bahwa Bhatara Kala sangat kuat dan beringas, besar, luas dan tanpa batas yang bernafsu memakan segala yang ada di bumi, terutama yang berada di simpang tempat, simpang waktu dan simpang kondisi. Dan semua mahkuk hidup, manusia pastilah pernah ada pada persimpangan-persimpangan itu, yang membuat dirinya goyah dan bimbang. Hanya yang dalam kesadaranlah yang tak boleh dan tak bisa dimangsanya. Hal ini tentu tak aneh, karena yang selalu berada dalam kesadaran, juga berarti telah mampu menguasai nafsu atau kama.
Dalam kondisi "sadar", kama atau nafsu membentuk keinginan, yang menciptakan waktu atau kala yang ada tetapi abstrak. Pikiran adalah raja indria, raja keinginan, maka semakin cerdas pikiran, semakin besar keinginan yang direflesikan oleh pikiran, maka semakin besar, luas, dasyat Bhatara Kala yang siap menerkam. Bhatara Kala yang beringas dan tanpa batas akan tercipta dari nafsu pikiran yang beringas dan tanpa batas pula. Nafsu yang beringas dan tanpa batas, hanya bisa tercipta dari kecerdasan yang beringas dan tanpa batas pula.
Dalam kondsi "tak sadar" pingsan dan tidur, waktu atau kala tak ada. Waktu atau kala juga hilang bagi yang dalam kondisi "sadar" tetapi berada dalam berkesadaran. Yang sadar dalam kesadaran ini konon bisa terhindar dari santapan Bhatara Kala. Ini bisa terjadi hanya jika yang dimaksud dengan berkesadaran itu adalah seseorang yang memang telah mampu mengendalikan raja indria atau pikiran yang diibaratkan sebagai macan, dan racun nafsu-nafsu tubuh yang dikatakan membelit seperti ular. Orang yang seperti ini digambarkan sebagai Siwa atau Parwati atau buddha yang menuntun atau mengendarai macan, dan menjadikan ular sebagai tempat duduk atau hiasan.
Sadar dalam kesadaran sulit untuk dicapai dalam kehidupan di dunia saat ini. Selama hidup di dunia, selama berhubungan dengan orang lain, anak, istri, suami, sanak saudara, teman, lingkungan, rasa sangat sulit untuk mengendalikan indria-indria, sehingga sulit terhidar dari santapan sang waktu atau Bhatara Kala. Tetapi lagi-lagi ada cerita yang seperti ingin memberi alternatif agar bisa lolos dari mangsaan Bhatara Kala. Tentang kondisi dasar, yang tidak sadar. Atau ketidaksadaran dalam kondisi sadar yang membahagiakan.
Dalam cerita Brahma Kumara atau Rare Kumara, dalam lontar Sanghyang Mahajnana, disebutkan bahwa Bhatara Kala juga diperkenankan makan anak yang lahir pada Wuku Wayang, (mungkin wuku tengah yang dianggap juga persimpangan). Sanghyang Kumara/ Rare Kumara putra Dewa Siwa dan Parwati (adik Bhatara Kala) diceritakan juga lahir pada Wuku Wayang, sehingga hendak disantap juga oleh Bhatara Kala, sehingga mencari perlindungan ke ayahnya Dewa Siwa. Dewa Siwa yang melindungi Rare Kumara juga suatu aat berada pada waktu persimpangan, sehingga Bhatara Kala merasa berhak memangsa Dewa Siwa. Dewa Siwa tidak berjeberatan, asal Bhatara Kala bisa menjawab teka-teki yang diberikan Dewa Siwa.
Bhatara Kala bersedia memenuhi syarat yang diajukab Dewa Siwa. Satu demi satu teka-teki disampaikan Dewa Siwa. Dengan segala daya pikir, kecerdasaran dan refrebsi Bhatara Kala berusaha menjawab teka-teki ayahnya, sehingga waktupun berjalan, menjadikan keberadaan Dewa Siwa melewati waktu persimpangan, sehingga Bhatara Kala kehilangan hak untuk memaksa. Bhatara Kala kalah dan masih mengejar Rare Kumara yang masuk bersembunyi ke dalam bambu gender dalam pertunjukan seorang dalang wayang.
Di sana, Bhatara Kala juga kehilangan haknya untuk memangsa Rare Kumara karena telah menikmati esensi dari seni gender dan wayang. Kebebasan Rare Kumara dari terkaman Kala/waktu, karena keasyikan yang diciptakan Dewa Siwa dalam memberi pelajaran dalam bentuk permainan atau bermain teka-teki dan pelarian Rare Kumara pada seni. Belajar sambil bermain dan bersembunyi dari kejaran waktu pada kesenian adalah salah satu alternatif menghindari terkaman Bhatara Kala atau waktu.
Seperti halnya Rare Kumara yang kebetulan lahir di persimpangan wuku, kita juga telah lahir di persimpangan jaman yang disebut kali juga. Mungkin terlalu sulit untuk belajar menjadi Siwa, Parwati atau Buddha, maka, marilah kita mencoba meniru Rare Kumara, yang juga dipuja sebagai Rare Angon yang menyiratkan kegembiraan anak-anak dalam melewati jaman kali ini. Jika kita sadar, tetapi bisa selalu dalam kondisi seperti kegembiraan anak-anak bermain dan berkesenian, pasti kita tak akan diterkam Bhatara Kala, atau paling tidak bisa bertahan melewati jaman kali.
Selamat merayakan waktu dan kemenangan.
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus Dur), dan Susilo Bambang Yudoyonomenon...
SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka yang menghabiskan waktu bertahun-tahun menempuh pend...
DESA Pedawa di Kecamatan banjar, Buleleng, yang dikenal dengan adat dan budaya yang unik kembali menjadi tujuan pengabdian akademik. Pada hari Rabu, 10 Juni 2026, tim Pengabdian k...
Hari itu, Kamis, 11 Juni 2026, para siswa yang tergabung dalam OSIS dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) berkunjung ke Yayasan Bali Baby...
DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen dulu." Di lingkungan peke...
SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan sawah yang hijau. Burung-burung berkicau. Angi...
KOMITMEN dalam menjaga kelestarian lingkungan terus ditunjukkan oleh Fakultas Vokasi Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional). Melalui Program Studi D4 Man...
DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu menebar cahaya sekaligus memberi sihir warna...
DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan pangan yang paling jujur, sebuah warisa...