Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
Di antara 8,9 juta species yang berkelana di atas bumi ini, kitalah satu-satunya mahluk yang terobsesi dengan waktu. Manusia mengkonstruksi, memberi makna, serta memilah-milah waktu dengan cara dan metode yang begitu obsesif dan membelenggu.
Dengan fanatik kita membedah waktu menjadi tahun, bulan, hari, menit, detik, dan mili detik. Meskipun kita tahu persis bahwa tanpa bantuan dari alat-alat non-biologis, seperti arloji, chronometer, kalendar, dan isotop radioaktif, akan mustahil bagi kita untuk mengetahui pukul berapa saat ini atau berapa menit telah berlalu semenjak saya memulai percakapan ini.
Dengan ambisius kita memproyeksikan waktu menjadi dekade, windu, abad, millennium, hingga maha yuga dan bahkan kalpa (4,5 milyar tahun). Meskipun kita sangat paham bahwa tak ada seorangpun dari kita yang panjang usianya akan melebihi dua abad. Meskipun kita tahu persis bahwa sebagian besar dari kita, termasuk saya dan mungkin beberapa dari kalian, tak akan menjadi Homerus atau Vyasa, yang nama dan karyanya masih dibicarakan 20 abad sesudah mereka sirna.
Dengan jumawa kita membagi waktu menjadi masa lampau, masa kini dan masa depan. Meskipun kita sadar bahwa tidak ada lagi yang bisa kita lakukan untuk mengubah masa lampau dan betapa tidak ada jaminan bahwa besok pagi kita akan terjaga untuk menyambut masa depan.
Sedangkan masa kini sendiri adalah ilusi yang selalu luput dari genggaman dan pikiran. Saat kita sedang membicarakannya, masa kini diam-diam telah menjadi masa lampau.
Obsesi kita tentang waktu mungkin adalah cerminan mimpi sia-sia kita tentang keabadian, sebuah kondisi di mana waktu terbentang tanpa batas atau malah sebuah kondisi di mana waktu tak lagi ada.
Obsesi kita tentang waktu bisa jadi adalah pengakuan diam-diam tentang betapa rapuhnya eksistensi kita, betapa sementaranya kehidupan ini, dan betapa fana-nya segala hal yang kita kenal dan kita cintai.
Obsesi kita tentang waktu pada akhirnya menjadi penjara paradigma yang menempatkan waktu sebagai penanda kejayaan. Paradigma yang percaya bahwa kecepatan adalah keutamaan. Cara berpikir yang mengukur sebuah keberhasilan dari seberapa cepat kita mampu menyelesaikan sesuatu, dan bukannya dari apa yang kita rasakan, apa yang kita alami dan apa yang kita pelajari selama melakukan hal itu.
Karenanya, kita telah mereduksi hidup kita menjadi tak lebih dari himpunan angka dan nomor yang tak saling terhubung, dan bukannya sebuah kontinum perjumpaan yang mencerahkan.
Dalam penjara paradigma ini, jogging di pagi hari dimaknai sebagai pencapaian: 1 jam 15 menit atau 10 kilometer. Ia didefinisikan dengan angka dan nomor, dengan waktu tempuh atau jarak yang dicapai.
Joging di pagi hari itu tidak dimaknai dan tidak dialami sebagai sebuah proses perjumpaan dengan hangatnya kolom-kolom cahaya matahari, rindang pepohonan yang menyegarkan, komposisi lagu yang dinyanyikan burung-burung liar, maupun rasa sakit yang timbul tenggelam pada kedua lutut kita.
Saat ini kita lebih terbiasa untuk terburu-buru untuk sampai dan bukannya pelan-pelan menuju
Waktu—monster ciptaan kita sendiri---kini terus menerus menghantui kita, dengan kebosanan dan kegairahan, kekhawatiran dan kepasrahan, yang berselang-seling tanpa henti tanpa jeda
Mungkin sudah waktunya bagi kita untuk berhenti terobsesi pada waktu, untuk keluar dari penjara paradigma itu, dan ikhlas memeluk ketidakabadian kita. Mungkin sudah waktunya kita berhenti berupaya menaklukkan waktu dan belajar untuk berkelana tanpa panduannya.
Mungkin sesudah itu kita bisa sungguh-sungguh hidup tanpa khawatir tentang apakah kita berjalan terlalu cepat, ataukah terlalu lambat. Tanpa khawatir apakah kita melangkah ke belakang atau ke depan. Karena toh kita sudah hidup dengan sepenuh2nya merasakan, sedalam-dalamnya menghayati. Karena toh kita sudah berhenti mengukur hidup kita dengan angka, nomor dan waktu.
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...