“Jesus Bless You” – Tentang Saya dan Agama
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
Antara lain, kata "De bes ruet nyalanang hidup, biasang gen". Atau, "Hidup slow mati mekelo, de be ngurus ape, biasaang gen". Atau, "Biaso gen jo hidup di Bali".
Kata-kata seperti itu sering diucapkan pemuda, mahasiswa, bahkan politikus.
Seketika saya ingat sebuah lirik lagu yang dipaksakan sekali untuk dijadikan lagu, lagu dengan intonasi nada dari awal begitu-begitu saja. Sampai saat ini saya belum menemukan makna dari lirik yang dibangun, entah tujuannya menghibur atau memang ada unsur lainnya.
Jika maksudnya menghibur ya boleh-boleh saja. Tapi bukankah sebuah karya seharusnya lebih bisa membangkitkan semangat hidup, bukan malah membuat lemah tak berdaya.
Kata-kata bahasa Bali yang disebutkan di atas, di satu sisi memang bisa membuat kita tenang. Bahwa hidup memang biasa-biasa saja, tapi perlu pusing yang bisa bikin stress dan stroke. Namun mungkin saja sudut pandang saya yang masih keliru, atau justru lurus-lurus saja untuk memandang sebuah lagu semacam itu. Entahlah. Karena saya pikir lirik itu bisa saja melemahkan semangat, membuat hidup jadi tak bergairah.
Justru hal semacam itu membuat saya berpikir dan menggelitik otak, bahwa hal semacam itulah yang bisa viral dengan mudah di media sosial. Padahal bagi saya, kata-kata itu bisa mendoktrin otak kita untuk menjadi malas dan tak punya cita-cita.
Biasanya kata-kata itu hanya untuk mereka yang tak bisa lagi menjawab pertanyaan susah, malas menjalani kehidupan, tak ingin menjadi beda, mengikuti arus dan mencari aman. Terkadang kata itu mengalahkan semangat-semangat orang yang ingin memberikan nasehat, memberikan kesadaran, atau member pelajaran dengan benar.
Bagaimana jika semua orang berpola pikir seperti itu, masihkah ada rasa kepedulian, rasa sosial dan sikap sebagai orang yang bekerja keras? Terlebih politikus yang berbicara seperti itu, bagaikan toxic meracuni, agar masyarakatnya tetap mendapatkan hal biasa, lalu politikus melancarkan aksi strategi politiknya agar tetap menjadi keturunan cendana, ningrat dan konglomerat.
"De bes ruet” itu bisa diartikan sebagai cara untuk membuat malas untuk mencari suatu yang baru
"Hidup Slow mati mekelo” bisa jadi juga ungkapan yang bisa membuat malas agar tidak ingin mengurusi rutinitas di luar hal yang biasa dilakukan.
"Biaso gen jo” mungkin saja kata itu akan membuatmu tidak akan pernah menjadi luar biasa. Seterusnya akan biasa-biasa.
Prihal hidup memang biasa tapi yang harus didapatkan adalah hal-hal yang luar biasa, jika sekedar hidup kutu loncat juga hidup. Kita manusia yang dibekali akal, dan nurani sudah sepatutnya melakukan hal yang mampu membuat hidup berarti, menciptakan sejarah-sejarah kecil kelak agar nama abadi.
Cara berpikir “biaso gen jo” akan membuat kita tak peduli terhadap lingkungan, kemanusian apalagi untuk menjadi yang berbeda. Kita terlalu sering ikut-ikutan jaman.
Jadi, lawanlah pembatas kemampuanmu, kita tercipta untuk melakukan hal luar biasa, bukan biasa-biasa saja.
Setelah membaca ini semoga berkenan menyadari peran mahluk cerdas yang bernama manusia untuk tetap menjadi manusia yang manusiawi menjaga kewarasan rasionalis dalam berpikir bahwa kita sedang dibodohi dan dijangkiti berbagai penyakit yang membuat kita tidak mempedulikan apa-apa dan lebih mementingkan diri sendiri terlebih yang terjadi di lingkungan kita.
Jangan pernah takut untuk menjadi berbeda, dicap aneh oleh sekitarmu, bahkan diasingkan, jadilah orang yang merdeka dengan jalanmu sendiri. (T)
Lahir 16 Juni 1998. Hidup dan besar di pulau Bali yang konon katanya pulau surga, tetapi ia hanyalah anak biasa saja.
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
ADA semacam protes di media sosial, kenapa wayang wong, sebagai kesenian klasik adiluhung yang baru saja ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda, justru dipe...
SEPAK bola kampung kini hanya fosil ingatan. Mungkin karena kampung selalu dirundung revolusi yang dialirkan zaman. Sawah-sawah, bahkan kebun yang dulu menjadi arena laga sepak bol...
KINI sudah masuk tahun ajaran baru. Sejumlah kampus sudah bersiap-siap menghadapi mahasiswa baru. Tentu, semua tahu, hari-hari pertama mahasiswa baru disibukkan dengan orientasi ka...
BEGITU puluhan penari memasuki panggung di depan Tugu Singa Ambara Raja, sore menjelang senja di Singaraja terasa lebih berwarna dari biasanya. Warna-warna itu bukan hanya memancar...
Judul Buku: Sayap Anjing (Kumpulan Cerpen) # Penulis: Triyanto Triwikromo #Halaman: 144 pages # Penerbit: Buku Kompas # Tahun: 2003 # ISBN: 9797090914 (ISBN13: 9789797090913) /...
BULELENG Festival (Bulfest) dibuka 2 Agustus ini dan akan berlangsung 6 Agustus 2016. Ini Bulfest keempatkali sejak digelar pertamakali, Agustus 2013. Di Bali, Bulfest memiliki gem...
Ini pengalaman ketika saya mengajar di sebuah sekolah dasar di Alor, NTT, sebagai guru dalam program SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal). SEPERTI b...
MISI belum tuntas! Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan terus bikin kegiatan. Setelah terlaksananya acara Festival Puisi Bangkalan, 20-21 Mei 2016, kini tengah bersiap-siap mengge...
SIAPA saja yang suka memuji dan mengagung-agungkan Bali, pasti bertemu subak. Mereka yang berniat mengikuti alur jejak watak manusia Bali, seyogyanya juga mengakrabi subak. Bagaima...