Malam Minggu bagi “Darah Muda”: Tak Sekadar Pacaran
PERNAHKAH tersirat di pikiran anda apa itu “Malam Minggu”? Dan apa bedanya dengan “Sabtu Malam”? Rasanya hanya beda istilah dengan makna yang sama. Istilah mana yang lebih sering a...
Seorang profesor yang tegas, galak, atau penuh kasih dan toleran? Atau anda telah mendengar kisahnya? Atau melihat perjuangannya? Atau pernah menyangsikannya? Atau pernah menganggapnya biasa-biasa saja?
Jawabannya ada di pentas ke 11 dari projek "Monolog 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah" yang dipentaskan Jumat 21 Desember 2018.
Siapa sesungguhnya seorang ibu yang bergelar profesor ini. Sejenak mari kita letakkan gelar di tempat yang semestinya, karena sebagai ibu, tentulah gelar profesor saja tak cukup. Seorang ibu lebih dari sekadar gelar, atau segala jabatan tertinggi di bidang akademik. Seorang ibu lebih dari itu. Apanya yang lebih? Dari konteks saya sebagai sutradara, beginilah saya memandang Ibu Titik panggilan akrab Prof. Dr. Putu Kerti Nitiasih.
Bagi saya, kalau disebut subyektif, memilih Ibu Titik menjadi aktor di panggung 11 ibu ini adalah subyektif, namun tidak subyektif tanpa pertimbangan. Ibu Titik adalah ibu di semua aspek kehidupan, dia ibu di keluarganya, ibu di fakultas, ibu di beberapa lembaga sosial, ibu bagi beberapa teman dekatnya, ibu bagi beberapa anak asuhnya, dan ibu bagi anak didiknya tentu saja.
Dengan jabatan beliau sebagai dekan di kampus, jangan tanya kesibukan beliau. Hampir tak ada lubang lowong di kalendernya. Tidak itu saja, ibu juga aktif dimana-mana, selain komunitas akademik, tentu komunitas sosial, komunitas keluarga, komunitas budaya. Semua perlu sentuhannya. Dan seolah mengijinkan semua kepadatan itu memasuki jadwalnya, ibu mengatur dengan teliti semua yang perlu mendapat perhatiannya. Saya kadang takjub dan heran sekaligus pada usahanya mengatur semua aspek hidupnya dengan seimbang. Setiap saya berkesempatan mendampinginya, ibu selalu terjaga mengatur semua urusannya, sampai detail-detail sekalipun tak luput.
Pernah dalam suatu waktu, saat saya sedang berbicara soal akademik dengan beliau, beliau menjeda percakapan dan mengangkat telpon untuk memesan banten purnama, menyiapkan semua perlengkapan yang sudah dia catat dengan detail. Pernah juga saat berbicang serius soal akademik di kantor, telepon berdering, dan ketika diangkat, ternyata ada pipa bocor di rumahnya dan segera harus dicarikan tukang dan alat.
Ada lagi kali lain, ketika akan berangkat ke suatu tempat, ibu harus membeli oleh-oleh untuk keluarganya di tempat itu dan semua sudah tercatat dengan detail. Saya juga sering berkesempatan bepergian ke luar negeri bersama ibu, dimana ibu selalu menyiapkan kopernya jauh jauh hari, dengan cermat dan teliti, kotak-kotak peralatan rapi, dari kotak mandi, make-up, kotak obat-obatan, dan yang lebih mengejutkan lagi, kotak obat-obatan itu menyerupai bilik-bilik kamar hotel. Semua bilik itu memiliki takaran obat yang sesuai.
Jadi setiap bilik itu dibuka, itu berarti takarannya sudah sesuai, tinggal diminum saja. Ibu menghitung setiap waktunya yang berharga. Sebab dalam perjalanan jauh, memilah memilih obat tentulah membutuhkan waktu dari membuka, mengingat dosis, dan sebagainya, jadi bilik-bilik obat itu adalah solusi. Pernah juga di tahun 2012, pengalaman pertama saya bersama Ibu ke luar negeri, ketika kami ke Australia, saya berada satu kamar dengan ibu. Saat itu saya masuk kamar dengan leluasa. Kami berbincang sejenak, lalu siap-siap beristirahat. Saya langsung siap-siap tidur. Namun ibu, mencari sudut hening, dan menyalakan dupa. Berdoa.
Saya malu. Segera saya ikut berdoa. Saya masih jet lag. Ke Australia, bawa lupa bawa dupa, dan ikut-ikutan berdoa di belakang Ibu. Perjalanan saya berikutnya kemanapun bersama Ibu, akan selalu hampir sama, pasti diajaknya saya berdoa sebelum pergi dan setiba dari berpergian.
Akhirnya setelah dari Australia, sepanjang ingatan saya, saya bepergian kemana saja bersama Ibu, ke Belanda, Prancis, Malaysia, China, Thailand, hingga India dan Bhutan. Kami sudah bersama ke 8 negara berbeda. Kebanyakan untuk tujuan program akademik dan budaya. Saya selalu satu kamar dengan Ibu.

Bagi saya pelajaran utama saya dengan ibu adalah, beliau selalu mengingatkan saya berdoa. Saya jarang sekali dilihat berdoa, kalau diajak baru mau. Mungkin cara saya berdoa berbeda. Saya berdoa dalam hening dan diam. Mungkin juga saya belum tahu cara berdoa yang baik. Namun bersama Ibu, saya selalu diingatkan kembali berdoa. Onya, sudah berdoa? Biasanya saya nyengir, belum Bu. Hehhe. Sini, kata Ibu. Lalu saya menurut.
Bagi saya, Ibu adalah pembimbing saya dalam banyak hal. Dalam hal apa saja, bisa. Tentu saya juga mengkritisi ibu kalau ibu salah, misalnya saya kadang memprotes ibu kalau sedang bicara di rapat, kalimatnya salah, misalnya ibu berkata, Saya sudah meng”ini”kan. Saya bertanya, apa maksud Ibu dengan kata meng”ini”kan. Tidak jelas. Katakan saja apa maksud sesungguhnya. Begitu saya “menasihati” Ibu. Dan Ibu menerima. Ibu mau berubah dan belajar.
Saya hormat pada keputusannya mau belajar dari siapa saja. Apalagi dalam konteks project ini, saya mendekati Ibu karena bagi saya ibu mampu dan bisa. Beliau awalnya juga menyangsikan dirinya sendiri, apakah bisa, mampu? Ternyata bisa dan mampu. Naskah saya garap perlahan. Saya mendengar beliau bercerita, dari A sampai Z bahkan Z plus plus. Ada yang off the record, namun lebih banyak on the record. Saya kagum. Kok bisa ya. Seorang ibu yang dikenal dengan ketegasan, ketangguhan, ketanganbesian, juga bisa rapuh dan menangis.
Ibu juga manusia, ibu juga perempuan biasa. Ada titik terlemah yang dia akui selalu hadir, saat rapuh dan saat tak tahu harus mengadu kemana. Kini Ibu selalu tahu caranya. Berdoa dan berusaha. Berdoa lagi dan berusaha lagi. Terus menerus. Itulah yang menyebabkan hidupnya seimbang dan tak pernah goyah lagi. Menu hidup ibu adalah keikhlasan tanpa batas. (T)
PERNAHKAH tersirat di pikiran anda apa itu “Malam Minggu”? Dan apa bedanya dengan “Sabtu Malam”? Rasanya hanya beda istilah dengan makna yang sama. Istilah mana yang lebih sering a...
SEBAGAI mahasiswa yang menuntut ilmu di universitas yang bergerak dalam bidang keguruan, tentu “kegiatan mengajar” tidak lagi asing di telinga mereka. Bahkan “kegiatan mengajar” ak...
Bapak/Ibu Guru yang kami cintai, pidato ini saya buka dengan kutipan dari penyair Kahlil Gibran… “Cinta tidak punya hasrat selain mewujudkan maknanya sendiri.” BEGITU bijaknya Ka...
GENERASI yang cerdas dan berakhlak mulia terwujud dari adanya guru yang cerdas dan berkompetensi. Sebuah ungkapan sederhana namun memiliki banyak makna dan usaha. Dewasa ini, guru...
MELIHAT pendidikan Indonesia memasuki milineum ketiga, ketika teknologi digital melahirkan generasi baru (generasi Y), makin kentara paradoks dunia pendidikan, biang kerok stagnasi...
SEBUAH percakapan mengejutkan di ruang kelas: Saya : Anak-anak, kalian punya cita-cita? Ada yang jawab punya, ada yang menjawab tidak. Saya lontarkan pertanyaan ini kepad...
DUNIA ini adalah panggung sandiwara. Tuhan penulis skenario sekaligus sebagai sutradara. Dan kita umat manusia sebagai aktornya. Segala sesuatu yang kita lakukan sudah ada skenari...
POLITIK mungkin sesuatu yang asing bagi saya terutama mengenai politik praktis. Memang sedikit paham, secara garis besar politik didefinisikan sebagai “ilmu mempengaruhi”. Sebagai...
HARI masih pagi. Jarum jam baru menunjukkan pukul 08.30. Namun entah mengapa, matahari bersinar begitu terik. Meski begitu, suasana di Lapangan Umum Desa Bebetin, terlihat riuh. Pu...
MEDIA massa baik itu cetak maupun elektronik setahu saya adalah sebagai “tukang lapor” kepada masyarakat luas terhadap apa yang terjadi pada suatu tempat dan suatu waktu di belahan...