Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
Tapi aku membaca dan menyukainya. Dia menceritakan sekolahnya dan menurutku sekolah itu agak berbeda dari sekolahku.
Nama sekolahnya adalah TS, kepanjangannya Terbaik Sunopa. Masing-masing kelas ada sebutannya, sebutan kelas satu adalah Untuk Pemula, kelas dua sebutannya Naik Tingkat, kelas tiga sebutannya Jangan Menyerah, kelas empat sebutannya Dalam Perjalanan, kelas lima sebutannya Hampir Sampai, dan kelas enam diberi nama Tingkat Tertinggi.
Menurutku menamakan kelas seperti itu ide yang menarik. Tapi di sekolah itu ada sebuah peraturan, kalau ada murid yang tidak bawa bekal diberi hukuman berlutut di halaman sampai jam istirahat, dan menurutku peraturan itu sangat bodoh.
Bagian favoritku di cerita itu, selain bagian dia menghadapi kepala sekolahnya, adalah ketika mamanya bilang “Setiap orang harus berani bicara, dan dia tidak boleh takut hanya karena dia anak-anak”. Mamanya juga bilang “Orang dewasa juga melakukan kesalahan. Jadi anak-anak juga harus mengingatkan”.
Bagian itu bagian favoritku karena aku setuju dengan kata-kata mamanya.
Oya, dia juga menghadapi ibu temannya, dia orang yang sangat berani! Aku tidak akan berani melakukan itu. Aku juga merasa kasian kepada dia karena dia sering diejek di sekolahnya, temannya suka menyembunyikan peralatannya.
Ada temannya yang bernama Lingko yang pernah menarik kursinya ketika dia mau duduk. Dan aku juga pernah digituin juga pas kelas dua, tapi aku diemin saja dan ikut ketawa karena aku pikir hal itu tidak terlalu berbahaya, tapi aku sadar kemudian itu berbahaya ketika bunda dan guruku berbicara bahwa itu sangat berbahaya.
Dia juga punya teman bernama Birnas, dia pernah mengangkat rok sekolah Naya tinggi-tinggi sampai celana dalamnya keliatan oleh anak-anak lain, dan yang melihatnya tertawa. Kasian Naya, aku akan merasa sangat malu kalau ada orang yang melakukan itu padaku. Nakal sekali temannya itu.
Di cerita “Hukuman Dari Mama” ada bagian ketika temennya yang bernama Bose menjambak rambut Naya dan anak-anak yang lain berrorak dan berteriak “Ayo Bose! Jangan dikasih ampun!” “Ayo Bose…..!!” dan bagian itu sangat menyedihkan aku merasa bersalah kepada Naya.
Tapi Naya melawan balik dan menggigit tangan Bose, aku merasa bangga padanya karena dia tidak mengalah, tapi akhirnya dia dapat hukuman dari mamanya, hukuman mamanya adalah untuk membuat cerpen,
Cerpennya ternyata sangat kreatif dan aku suka cerpennya itu. Cerpennya menceritakan tentang sebuah monster, Monster Tembok! Bagus dah pokoknya. Ada juga salah satu ceritanya menceritakan pengalaman membolosnya. Dia ke perpustakaan dengan ibunya dan dia mendeskripsikan perpustakaan itu seperti apa, dan mendengarkan deskripsi itu, aku ingin sekali ke perpustakaan itu.
Kapan-kapan aku ingin bertemu dengan Abinaya dan menjadi sahabat dekatnya. (T)
Singaraja, 14 Desember 2018
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...