Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
Cening Liadi[/caption]
Keterlibatannya di project 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah diawali dengan pertemuan saya dengannya lima tahun yang lalu ketika menggarap sebuah festival di Buleleng, kami berinteraksi karena bekerja untuk event kebudayaan. Lalu lima tahun berselang tanpa kabar, saya kembali dipertemukan dengan Bu Cening untuk sebuah pekerjaan kebudayaan pula.
Dari sanalah cerita mengalir, tentang pertemuan awal dan pertemuan kini, lalu yang terjadi selama rentang waktu kami tak bertemu. Semua bagaikan sudah diatur oleh semesta, saat itu saya sedang mencari sosok ibu yang akan saya angkat profilnya menjadi salah satu aktor 11 Ibu, dan Bu Cening sedikit terkejut. Dia merasa belum pantas, belum siap, belum percaya diri, dan belum-belum yang lainnya. Saya rasa hal itu bukanlah bentuk penolakan, namun kerendahhatian.
Lama pula saya ‘merayu’nya agar mau bercerita. Akhirnya beliau bercerita. Soal hidupnya, soal anaknya, soal kecemasannya, soal doa-doanya, soal misi sosial yang dikembangkannya. Saya takjub. Diam-diam Bu Cening menyimpan banyak cerita. Bahkan yang belum pernah saya bayangkan sebelumnya, beliau pernah hidup berjuang sebagai pegawai honor dengan gaji kecil, mengontrak sebuah kamar sempit dan menjalankan hidup dari honor les menari di berbagai tempat. Hujan lebat, terik matahari tidak menghalangi upayanya terus mengajar menari. Bahkan sedang hamil besarpun Bu Cening tetap menari. Hanya untuk bertahan hidup, semua ujian sudah dilaluinya.
Setelah perekonomian semakin stabil, cobaan datang. Teror demi teror dialamatkan padanya. Mulai dari teror sms dari orang tak dikenal yang ingin mengganggu rumah tangganya hingga teror ilmu hitam yang hampir membuatnya kehilangan anak tercinta.
Namun dia tak membalas. Dia meyakini hidup itu indah jika dihadapi dan dijalani. Alih-alih balas dendam, dia mendirikan lembaga untuk berbagi, baik di bidang ekonomi melalui koperasi, maupun di bidang budaya melalui lembaga seni dan sosial untuk perempuan Bali. Dia tetap menari. Baginya menari adalah upaya melatih keseimbangan, kewaspadaan, kejujuran dan keihlasan mengabdi pada sesama dan semesta.
Dia adalah penari kehidupan. Namanya adalah Cening Liadi. (T)
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...