Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Menunggu kawa di Kedai Kawa Daun[/caption]
Kurang-lebih seperti itu cerita penjual mie ayam. Usai membayar, kami salaman kenceng. Saya menuju kedai kopi kawa. Di meja kayu, saya sempatkan ngobrol dengan Iyut Fitra. Penguasa Payakumbuh ini bercerita panjang tentang Komunitas Intro dan Payakumbuh secara umum setelah saya pancing dengan satu pertanyaan, “Siapa anak-anak muda ini (panitia)?” jawaban pertama adalah anak muda Payakumbuh yang ingin terlibat dalam festival ini. Di satu kesimpulan disebutkan bahwa Komunitas Intro adalah rumah bagi semua anak muda Payakumbuh.
Tiga hari bersinggungan dengan panitia, saya merasakan kerja-kerja anak muda yang cepat dan teratur. Profesional. Dan yang paling penting bagi saya adalah, mereka memanusiakan para peserta, hangat dan menyenangkan. Kumpulan orang-orang dalam kegiatan nonprofit yang kerja-kerjanya rapi dan cepat hanya bisa dilakukan ketika mereka sudah terbiasa bekerja bersama; saling mamahami satu sama lain; dan yang paling penting adalah peran pemimpinnya.
Saya pikir semua itu adalah modal sosial. Modal seperti ini tidak bisa diuangkan, karena saking berharganya, sehingga disela ngobrol dengan Iyut, saya berseloroh, “Aku yakin jika Da Iyut nyaleg, pasti lolos, bahkan tanpa duit.” Iyut pun tertawa. Betapa dahsyatnya Iyut bisa menggerakkan Payakumbuh dengan banyak komunitas yang disusupinya.
Siang sebelumnya, saya ngobrol dengan Aan Mansyur, bertanya tentang festival sastra Makassar yang sudah berlangsung di tahun kedelapan. Festival sastra itu dipenuhi panitia yang professional dalam bekerja. Tim yang sangat solid. Mau bekerja militan. Mendatangkan para sastrawan flamboyan, bisa bekerja sama dengan hotel, penerbit raksasa, katering, desainer dan pekerja panggung, yang semua didapatkan dengan kerja gotong royong.
Ratusan relawan mendaftar di enam bulan sebelum acara, mereka di masing-masing bidang diberikan workshop yang berkaitan dengan kerja-kerja yang akan dikerjakannya. Dahsyatnya, di saat acara berlangsung para audiens yang memenuhi benteng Rotterdam khidmat menyimak para sastrawan membacakan karya sastranya. Bagaimana festival besar itu bisa dilaksanakan dengan lancar dan rapi? Satu hal utama adalah sumber daya manusianya.
Ada hal yang sempat saya dengar, bagaimana Festival Literasi Payakumbuh dan Makassar International Literary Festival berjalan dengan baik, yaitu: Nekat. Saya pun menerjemahkan kata nekat bukan sebagai kerja ngawur, tetapi ketetapan hati yang kuat untuk menyelesaikan tugas sebaik-baiknya. Dan Festival Literasi Payakumbuh, meskipun baru pertama kali, patut diapresiasi. Serangkaian acara bergizi cukup menyegarkan, apalagi sastrawan generasi terkini mendapatkan porsi besar di dalamnya. (T)
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...