Malam Minggu bagi “Darah Muda”: Tak Sekadar Pacaran
PERNAHKAH tersirat di pikiran anda apa itu “Malam Minggu”? Dan apa bedanya dengan “Sabtu Malam”? Rasanya hanya beda istilah dengan makna yang sama. Istilah mana yang lebih sering a...
Kehidupannya masa kini adalah titik kulminasi dari seluruh kehidupannya. Perceraiannya dua kali sangat banyak memberinya waktu belajar. Sempat kehilangan hak asuh Kinanti anak tunggalnya sempat membuatnya limbung. Dia juga meninggalkan dunia dokter yang digelutinya.
Ia kini menjadi seniman pelukis, penulis dan penyendiri. Namun Ibu Tini menyadari bahwa kini ia memang lebih nyaman sendiri. Perceraiannya yang kedua mengajarkannya bahwa perceraian adalah sebuah cara mempersiapkan kematian yang damai.
Lalu mengapa Ibu Tini Wahyuni mau menerima tawaran bermain di project 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah ini. “Alasan saya menerima teater ini ada dua. Pertama tujuan yang ditawarkan project teater ini. Sebab tujuannya adalah untuk mendengar, berbagi, dan mengijinkan saya menjadi diri sendiri, maka saya tertarik. Kedua, karena project teater bagi saya adalah sebuah terapi, bagi diri saya dan bagi orang lain yang mengalami kisah mirip seperti saya. Dengan mendengar cerita saya, barangkali orang dapat mengambil pelajaran bermakna tentang hidup, perceraian dan kematian.”
Ia berkata jujur. Ibu Tini Wahyuni adalah seorang dengan kepribadian INTJ (Introversion, Intuition, Thinking and Judgement). Jumlah perbandingan orang dengan INTJ di seluruh populasi di dunia adalah 1-2 persen.
Demikian langkanya kepribadian ini menyebabkan orang dengan INTJ sangat jarang memiliki teman dekat. Kecenderungan seorang dengan INTJ adalah suka menyendiri, berpikir sendiri, menganalisis dan menghakimi. Dia bisa menjadi sangat sinis bagi orang lain. Juga menjadi pemikir yang tidak bisa ditawar.
Ibu Tini mengambil tes untuk mengetahui kepribadian dalam rangka ingin mengetahui apa yang terjadi pada dirinya sehingga ia menghadapi serentetan ‘chaos’ dalam hidupnya. Dia mencari tahu dan meneliti dirinya sendiri. Ketika ia mengambil tes ini, usianya 48 tahun. Apakah terlambat? Tidak.
Dari sana, ia belajar menerima, bahwa menjadi seorang INTJ adalah sebuah kelemahan namun juga kekuatan jika bisa dikelola dengan baik. Ibu Tini bermeditasi dan belajar berdamai dengan diri sendiri. Alhasil, revolusi terbesarnya adalah menjadi diri sendiri dan mulai belajar menerima kehadiran orang lain.
Dia menerima project 11 Ibu 11 Kisah 11 Panggung karena ingin berbagi dengan orang lain dengan cara memberikan versi terbaik dirinya. Ibu Tini Wahyuni adalah sebuah contoh bahwa penerimaan terhadap diri sendiri adalah awal revolusi besar yang akan berlanjut pada revolusi –revolusi besar lainnya. (T)
PERNAHKAH tersirat di pikiran anda apa itu “Malam Minggu”? Dan apa bedanya dengan “Sabtu Malam”? Rasanya hanya beda istilah dengan makna yang sama. Istilah mana yang lebih sering a...
SEBAGAI mahasiswa yang menuntut ilmu di universitas yang bergerak dalam bidang keguruan, tentu “kegiatan mengajar” tidak lagi asing di telinga mereka. Bahkan “kegiatan mengajar” ak...
Bapak/Ibu Guru yang kami cintai, pidato ini saya buka dengan kutipan dari penyair Kahlil Gibran… “Cinta tidak punya hasrat selain mewujudkan maknanya sendiri.” BEGITU bijaknya Ka...
GENERASI yang cerdas dan berakhlak mulia terwujud dari adanya guru yang cerdas dan berkompetensi. Sebuah ungkapan sederhana namun memiliki banyak makna dan usaha. Dewasa ini, guru...
MELIHAT pendidikan Indonesia memasuki milineum ketiga, ketika teknologi digital melahirkan generasi baru (generasi Y), makin kentara paradoks dunia pendidikan, biang kerok stagnasi...
SEBUAH percakapan mengejutkan di ruang kelas: Saya : Anak-anak, kalian punya cita-cita? Ada yang jawab punya, ada yang menjawab tidak. Saya lontarkan pertanyaan ini kepad...
DUNIA ini adalah panggung sandiwara. Tuhan penulis skenario sekaligus sebagai sutradara. Dan kita umat manusia sebagai aktornya. Segala sesuatu yang kita lakukan sudah ada skenari...
POLITIK mungkin sesuatu yang asing bagi saya terutama mengenai politik praktis. Memang sedikit paham, secara garis besar politik didefinisikan sebagai “ilmu mempengaruhi”. Sebagai...
HARI masih pagi. Jarum jam baru menunjukkan pukul 08.30. Namun entah mengapa, matahari bersinar begitu terik. Meski begitu, suasana di Lapangan Umum Desa Bebetin, terlihat riuh. Pu...
MEDIA massa baik itu cetak maupun elektronik setahu saya adalah sebagai “tukang lapor” kepada masyarakat luas terhadap apa yang terjadi pada suatu tempat dan suatu waktu di belahan...