Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
Tim balaganjur dari Kelusa di Festival Payangan 2018[/caption]
Festival Payangan ini menyasar seluruh Iapisan masyarakat di Kecamatan Payangan untuk berpartisifasi secara aktif mensukseskan Festival Payangan tahun 2018. Festival Payangan dilaksanakan mulai tanggal 28 Oktober sampai dengan 2 Nopember 2018 dengan mengambil tempat di Catus Pata Bencingah Agung Payangan. Semarak kegiatan Festival Payangan diramaikan denngan beberapa kegiatan, diantaranya : Parade Baleganjur, Gong Kebyar, Bondres, Sendratari, dan Drama.
Khusus untuk Parade Baleganjur diikuti oleh 9 Desa di Kecamatan Payangan, yang menarik perhatian baleganjur duta Desa Kelusa yang diwakili oleh Sekaa Gong Teruna Tirta Madya, Desa Pakraman Yehtengah. Mengangkat tema "Banyu Ranu" yang menceritakan ekspetasi air yang merupakan pemantik kehidupan. llmu sains menyatakan bahwa tanah adalah media, dan air adalah sumber kehidupan. Media mana yang terdapat air, di sana pula kehidupan dapat balangsung.
Seirama dengan hal tersebut, penata tabuh dan gerak I Kadek Angga Supandi Artha, S, Sn mencoba mengangkat kearifan lokal banjar Yeh Tengah dalam garapan musik baleganjur. Kebergantungan masyarakat Yeh Tengah terbadap sumber-sumber air yang ada membuat kehidupan masyarakat setempat menjadi makmur. segala sesuatu dipirantikan oleh air mulai dari keseharian hingga keupacaraan.
Oleh sebab itu, timbulah hubungan antara manusia dengan alam seperti dalam tri Hita Karana agar terciptanya keharmonisan. Semua hal tersebut berusaha ditransformasikan atar dasar pemikiran dalam bentuk komposisi baleganjur yang dikombinasikan dengan gerak, bermaksud untuk memersuasi masyarakat agar menjaga lingkungan sekitar.
Festival Payangan tahun 2018 bagaikan spirit semangat kepemudaan di Kecamatan Payangan. Seperti yang disampaikan oleh Ir. Soekarno pada jaman perjuangan mencapai kemerdekaan yaitu "Seribu orang tua bisa bermimpi, satu orang pemuda bisa mengubah dunia".
Maka itu mari kita sebagai generasi muda menjaga kelangsungan hidup sesama manusia, manusia dengan lingkungan dan hubungan manusia dengan Tuhan. Karena hal tersebutlah yang akan menciptakan keharmonisan dalam hidup. (T)
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...