Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
Sebagian warga Kampung Ambumi dan Yerinusi yang melakukan kegiatan penanaman pohon mangrove di muara Kali Wosimi. (foto: I Ngurah Suryawan)[/caption]
Beberapa anak muda dan kelompok masyarakat lainnya yang bergabung dalam penanaman mangrove, berkumpul di rumah Kepala Kampung Ambumi. Secara kebetulan yang menjadi koordinator dari penanaman mangrove itu adalah anak tertua dari Kepala Kampung Ambumi yang bekerja sebagai tenaga PPL (Petugas Penyuluh Lapangan) di kampungnya sendiri. Melalui hubungan saudara dengan seorang staf Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat, maka ia ditugaskan untuk menjadi koordinator penanaman pohon mangrove di kawasan Kampung Ambumi yang merupakan bagian dari kawasan Teluk Cenderawasih.
Sepanjang perjalanan menuju muara Kali Wosimi, saya melihat perbukitan yang dipenuhi dengan kebun-kebun masyarakat dari Kampung Ambumi dan Kampung Yerinusi. Ternyata betul saja, di samping Kali Wosimi yang terbentang dari Kampung Ambumi terdapat dusun-dusun sagu dan kebun-kebun masyarakat. Beberapa masyarakat kami jumpai tengah mendayung perahu mereka yang ukurannya kecil-kecil untuk menuju ke kebun atau dusun sagu. Kepemilikan kebun-kebun tersebut sesuai dengan hak-hak ulayat masing-masing marga, sehingga masing-masing marga dan seluruh anggota memiliki kebun di sepanjang muara Kali Wosimi. Terdapat juga wilayah pemakaman masyarakat yang juga terletak di sepanjang muara Kali Wosimi.
BACA JUGA:
Saat hari menjelang siang, kurang lebih pukul 11.00, kami diberitahu agar bersiap untuk menuju muara Kali Wosimi melakukan penanaman pohon mangrove. Sebelumnya, beberapa anak muda keluar dari rumah panggung yang bersebelahan dengan rumah kepala kampung. Mereka telah dijamu oleh anak kepala kampung dengan makan mie instan dan nasi sebelum melakukan penanaman mangrove. Jumlah mereka cukup banyak kurang lebih 8 orang dengan menggunakan satu perahu besar dilengkapi dengan bekal air minum, biskuit, dan saguer (minuman lokal dari air kelapa yang diawetkan).
[caption id="attachment_8518" align="aligncenter" width="559"]
Penanaman pohon mangrove saat air laut meti (surut). (foto: I Ngurah Suryawan)[/caption]
Sesampainya di muara Kali Wosimi, air sudah meti (surut). Pohon-pohon mangrove yang sebelumnya telah dibuang tampak jelas terlihat ketika air meti. Saat itu kami kurang lebih berjumlah 30-an orang terdiri dari anak-anak muda dan warga Kampung Ambumi dan Yerinusi. Ada yang menggunakan perahu Waruri milik kepala Kampung Ambumi dan ada juga dengan perahu sendiri menuju muara Kali Wosimi dan bergabung untuk menanam mangrove.
Langkah yang pertama dilakukan adalah mengukur penanaman pohon mangrove. Beberapa warga mencari ranting-ranting di daratan sebagai penyangga pohon mangrove yang masih kecil. Saat itu target dari penanaman mangrove adalah sepanjang pinggiran muara Kali Wosimi. Namun untuk hari pertama ini, jumlah pohon mangrove yang dibawa tidak begitu banyak. Mereka memperkirakan bisa menyelesaikan penanaman mangrove di seluruh pinggiran muara Kali Wosimi selama seminggu.
[caption id="attachment_8519" align="aligncenter" width="578"]
Penanaman pohon mangrove saat air laut meti (surut). (foto: I Ngurah Suryawan)[/caption]
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...