‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
Keadaan air meti (surut) saat saya menginjakkan kaki pertama kali di Kampung Ambumi. Terdapat jembatan kayu panjang dari daratan menuju teluk sebagai tempat bersandar perahu-perahu warga. (foto: I Ngurah Suryawan)[/caption]
Benar saja, memasuki jalan kampung yang sudah dibeton melalui program PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) Mandiri 2011, ada 3 papan pengumuman di pertigaan jalan kampung. Papan pengumuman pertama terletak di sebelah kanan jalan yaitu penggunaan dana program PNPM Mandiri untuk pembuatan jalan dan bak penampung air profil tank. Berhadapan dengannya adalah papan pengumuman tentang kawasan Teluk Cenderawasih yang bertuliskan.“Papan Informasi Zonasi Taman Nasional Teluk Cenderawasih”. Di dalam papan pengumuman itu tertuliskan kegiatan yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih. Sementara satu papan lainnya adalah pengumuman tentang nama program PNPM 2011 yaitu dinding penahan tanah yang mulai dilaksanakan pembangunannya pada 16 Mei 2011.
Kampung lainnya yang berada di daerah Teluk Wondama yang menjadi bagian dari Distrik Kuri Wamesa adalah: Kampung Dusner, Kampung Muandaresi, Kampung Simiei, Kampung Nanimori, dan Kampung Yerinusi. Kepala Distrik Kuri Wamesa adalah Yance Samberi yang berasal dari Kampung Ambumi sendiri. Kampung Ambumi bertetangga dengan Kampung Yerinusi dan hanya dibatasi oleh jembatan dan sungai yang mereka sebut dengan Sungai Ambumi.
Saat saya datang, masyarakat kedua kampung sedang menyelesaikan pengurukan jembatan yang memecah Sungai Ambumi hasil bantuan dari Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Teluk Wondama. Kedua kampung ini sebelumnya menjadi satu dengan nama Kampung Ambumi. Namun pada tahun 2004, Kampung Yerinusi memisahkan diri karena jumlah penduduk yang sudah padat dan bantuan-bantuan pembangunan sering sedikit bisa dirasakan karena begitu banyaknya warga. Dari perjalanan sejarah, kedua kampung memiliki keterkaitan dan hubungan saudara diantara warga masyarakatnya.
Ambumi sendiri berasal dari kata Ambum yang berarti kolam atau telaga dalam Bahasa Waruri yang berarti perahu berkumpul atau tempat berkumpul. Penduduk Ambumi dikenal sebagai Suku Waruri yang merupakan salah satu sub suku dari suku besar Kuri Wamesa. Penduduk yang mendiami Kampung Ambumi memiliki marga yang sangat heterogen karena berasal dari berbagai kampung di daerah Teluk Wondama dan dari luar Teluk Wondama seperti dari daerah Rasiei, Dusner, Nabire , Biak, Waropen, Ransiki, pulau Yop, dan bahkan dari Merauke.
Masyarakat di sekitar muara Kali Wosimi menyebut dirinya sebagai Suku Waruri dengan berbahasa Waruri (Ambumi). Waruri adalah Bahasa Waruri (Ambumi) yang berarti sebuah perahu yang menjadi tempat tumpangan banyak orang. Perahu yang bernama Waruri itulah kini yang menjadi Kampung Ambumi dan Kampung Yerinusi dimana berbagai marga-marga berkumpul menjadi satu dan berkomunitas membentuk kampung. Perahu dipakai sebagai simbol untuk mempersatukan berbagai marga-marga yang ada dan menetap di Kampung Ambumi dan Kampung Yerinusi.
Orang Waruri dikenal oleh orang Wondama/Wandamen (di daratan Kabupaten Teluk Wondama) adalah orang yang mendiami muara Kali Wosimi. Orang Wondama/Wandamen menyebut orang Waruri sebagai Waropa (Bahasa Wondama) atau mereka sering menyebutnya dengan Waropa Aniosebaba (Waropa kampung besar di muara Kali Wosimi). Sementara orang Wondama/Wandamen disebut oleh orang Waruri dengan Oimao dalam Bahasa Waruri/Ambumi. Sementara marga-marga yang terdapat di Kampung Ambumi secara umum adalah: Mariai yang berarti dari muara, Samberi, Kiri, Imburi, Bokwai, Dimawi, Wopairi, Wakomuni, Wursano, Siweroni, Yoweni, Warami, Karubui, Mambor, Maniagasi, Kaikatui, Urio, Runaki, Enuap, Marani, Ayomi, Sanggemi, Ramar dan Gebze.
[caption id="attachment_8513" align="aligncenter" width="579"]
Kawasan pesisir Kampung Ambumi saat air pasang. Perahu-perahu warga parkir berjejer menjadi alat transportasi satu-satunya yang menghubungkan mereka dengan Kota Wasior (foto: I Ngurah Suryawan)[/caption]
Kampung Ambumi sendiri terletak di bagian ujung dari Teluk Wondama berbatasan dengan Distrik Naikere dengan kampung-kampung di pedalaman lainnya. Kampung Ambumi sebelah Utara berbatasan dengan Kampung Manimori, Selatan: Kampung Wombo, Timur: Kampung Rasiei, Barat: Kali/Sungai Naramasa. Selatan/Timur: Kali/Sungai Wosimi. Jumlah penduduk yang mendiami Kampung Ambumi sebanyak kurang lebih 70 KK dan dikenal dengan Suku Waruri termasuk di dalamnya adalah warga di Kampung Yerinusi.
Suku Waruri merupakan bagian kecil dari Suku Wondama yang mendiami muara Kali Wosimi yang merupakan bagian dari Taman Nasional Teluk Cenderawasih. Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Waruri yang merupakan merupakan dialek dari Bahasa Waropen yang sering disebut dengan Waropen Ambun daerah Waropen bawah di Urfai berbatasan dengan Membramo dan Nabire. Bahasa Waruri berbeda dengann bahasa Wandamen (Wondama). Suku Waruri juga menggunakan bahasa Wandamen apabila mereka bertemu dengan seseorang yang menggunakan bahasa tersebut. Namun penutur bahasa Wandamen tidak dapat berbicara bahasa Waruri.
SELANJUTNYA BACA:
[caption id="attachment_8514" align="aligncenter" width="587"]
Muara Kali Wosimi yang menjadi tempat sentral bagi warga Ambumi. Kali Wosimi ini juga menjadi salah satu kawasan penting Taman Nasional Teluk Cenderawasih di Teluk Wondama (foto: I Ngurah Suryawan)[/caption]
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus Dur), dan Susilo Bambang Yudoyonomenon...
SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka yang menghabiskan waktu bertahun-tahun menempuh pend...
DESA Pedawa di Kecamatan banjar, Buleleng, yang dikenal dengan adat dan budaya yang unik kembali menjadi tujuan pengabdian akademik. Pada hari Rabu, 10 Juni 2026, tim Pengabdian k...
Hari itu, Kamis, 11 Juni 2026, para siswa yang tergabung dalam OSIS dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) berkunjung ke Yayasan Bali Baby...
DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen dulu." Di lingkungan peke...
SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan sawah yang hijau. Burung-burung berkicau. Angi...
KOMITMEN dalam menjaga kelestarian lingkungan terus ditunjukkan oleh Fakultas Vokasi Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional). Melalui Program Studi D4 Man...
DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu menebar cahaya sekaligus memberi sihir warna...
DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan pangan yang paling jujur, sebuah warisa...