Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
Jalan ke Mandeh, Sumatra Barat, yang dibuat Jokowi[/caption]
Jalan itu tak lama lagi akan selesai seluruhnya dan akan tembus ke kota Padang hingga memudahkan wisatawan mengunjungi Mandeh dari bandara. Tapi yang lebih terpenting adalah penduduk di kawasan Mandeh itu sendiri yang terdiri dari beberapa desa. Sekarang mereka sudah memiliki akses darat untuk ke luar. Harga dji sam soe juga menjadi lebih murah. Tak heran, kalau masyarakat di sana menjadi mengenal Jokowi lebih dari warga Sumatra Barat di daerah lain yang tak terlalu cocok dengan Jokowi karena alasan yang tak saya tahu.
Di kawasan Mandeh itu ada satu kampung bernama Sungai Nyalo, dihuni kira-kira 200 kk saja. Waktu saya tiba, wali nagarinya membawa saya ke pelanta kayu di depan sebuah kedai di tepi laut dekat gelanggang nagari. Kami pun mengobrol di situ dan tahulah saya, pelanta yang sama, juga menjadi tempat duduk Jokowi saat datang ke Sungai Nyalo untuk meresmikan kawasan Mandeh sebagai destinasi wisata . Sebuah pelanta kayu yang diteduhkan dengan atap daun kelapa, diteguhkan dengan sebuah sandaran dari kayu Laban sebesar lengan orang dewasa.
Di situlah, saya pun bercakap-cakap dengan warga sampai sore, seperti halnya Jokowi bercakap-cakap mendengarkan keluhan masyarakat. Bedanya saya merokok, dan tidak pakai pengawal, kecuali kepala dinasa pariwisata kabupaten Pesisir Selatan yang waktu itu menemani saya. Dan sejujurnya, diam-diam saya memang membayangkan andai diri saya seorang presiden kala itu.
Kegiatan budaya yang direncanakan akhir tahun 2018 itu, belum terwujud. Uda An (Andrinof Chaniago) yang sedianya mencarikan duit untuk acara itu, ternyata tak kunjung kongkrit. Kesibukannya selaku komisasris utama BRI tampaknya terlalu menyita waktu, hingga kami pun sudah agak sulit bertemu belakangan. Terakhir saat kami ngopi lagi di tempat nongkrong saya di Kalibata City, kami masih saja dalam tahap pembahasan.
Mungkin itulah beda yang nyata antara Jokowi dengan saya. Jokowi mewujudkan rencana-rencananya dalam empat tahun ini, sementara saya tetap dalam rencana-rencana. Beda lainnya, Jokowi orang yang ngotot, sementara saya orang yang rileks dalam banyak hal. Padahal dalam kehidupan ini memang kita perlu ngotot untuk beberapa hal. Seperti misalnya sikap ngotot Jokowi agar jalan Trans Papua dibangun. Tanpa sikap ngotot, hal itu tentu tak akan tercapai. Sebab menurut laporan khusus Harian Kompas, upaya membangun infrastruktur jalan di Papua sebenarnya sudah dilakukan sejak tahun 1970 di awal orde baru. Tapi karena tak ada pemimpin yang ngotot, jalan itu tak jadi-jadi. Jokowi lain, ia ngotot, jalan pun jadi menembus pedalaman dan perbatasan.
Cukup lama saya di kampung akhir tahun 2017 itu. Di luar dugaan, saya mendadak jadi ‘jubir’ tak resmi Jokowi tanpa pelantikan, tanpa pengangkatan. Orang kampung saya, yang memang tidak memilih Jokowi di pemilu 2014, rupanya melampiaskan semua kesusahan ekonomi mereka pada Jokowi. Terutama petani karet. Harga getah karet murah, menurut mereka itu sejak Jokowi menjadi presiden. Yang lebih mengejutkan ketika kebanyakan orang kampung saya menyangka Jokowi akan mengubah Indonesia jadi negara komunis, Jokowi membenci ulama, dan isu-isu sejenis yang kita tahu merupakan hoax berunsur fitnah yang telah muncul menyerang Jokowi sejak ia maju menjadi capres di pemilu 2014 lalu.
Saya tentu merasa tak nyaman karena kebanyakan orang kampung saya melakukan penilaian terhadap pemimpinnya berdasar hoax. Bukannya alim, hal itu malah akan membuat Sumatra Barat bertambah tampak bodoh. Jadi pelan-pelan saya menjelaskan duduk perkara beberapa topik saat ngobrol di lapau-lapau maupun saat bersama orang kampung di ladang. Saya terangkan, tidak betul Indonesia akan jadi komunis, saya paparkan Jokowi itu orang soleh karena sudah 20 tahun tidak pernah berhenti melakukan puasa Daud atau pun puasa senin-kamis. Mana mungkin orang seperti itu membenci ulama?
Mungkin karena seringnya saya berdiskusi semacam itu dengan orang kampung saya, ada teman berseloroh saya ini orang istana. Lumayan, saya naik status, dari penyair ke orang istana. Percakapan-percakapan di lapau itu mungkin memang membawa hasil. Selama tiga bulan di kampung, saya melihat banyak perkembangan di level wacana terkait Jokowi. Di lapau-lapau, banyak orang yang mulai positif melihat Jokowi. Karena itu sembari bercanda, ketika baru-baru lalu sejumlah kepala daerah di Sumbar menyatakan diri mendukung Jokowi dua periode, saya katakan pada teman-teman saya, itu terjadi karena saya pulang kampung. Hehehe..
Beberapa penjelasan saya mengenai Jokowi itu juga terbukti benarnya dan dilihat sendiri oleh orang Sumbar. Contohnya, waktu Jokowi bertandang ke sate Mak Syukur di Sumatra Barat saat melakukan kunjungan kerja di Padang. Waktu itu Jokowi sedang melakukan puasa sunah Senin – Kamis. Jadi tak makan saat sampai di warung sate Mak Syukur yang terkenal itu. Pejabat dan ulama Sumbar yang sempat mengira Jokowi bukan orang muslim, pasti akan tercengang-cengang. Dan karena media setempat mengabarkan pula kejadian itu, orang kampung saya tahu. Akibatnya, mulai percaya kepada saya. Jadi layaklah, kalau saya mengklaim, Jokowi perlu berterimakasih kepada saya.
Tetapi bukan hanya di Jakarta dan Sumbar saja, hubungan goib antara saya dan Jokowi terjadi. Februari 2018 lalu, Presiden Jokowi berkunjung ke desa Marga Tabanan. Di media, saya lihat fotonya sedang berkumpul bersama petani di sebuah sawah di Desa Kukuh. Setelah saya amat-amati, pematang sawah tempat Jokowi berkumpul itu, adalah pematang yang sama yang dulu saya titi saat masih menjadi warga desa di Marga. Saya jadi tersenyum-senyum sendiri melihat foto itu: memang Jokowi tampaknya sengaja mengikuti titik-titik perjalanan saya.... (T)
Jakarta, Oktober 2018
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...