Untuk Perbaiki Bali, “Ngiring Sareng-sareng Dados Balian”
“Ngiring je sareng-sareng dados Balian,” kata teman saya minggu lalu, saat ngopi di bawah rindang pohon bambu, siang di belakang rumahnya. Mimih, ucap saya spontan. “Kenapa harus...
Jackson Segars (tengah) di Rumah Sang Karsa (foto: Sonia)[/caption]
Alur dialog seperti tak fokus, namun hampir semua bicara soal hubungan-hubungan antarmanusia dan antarkeluarga. Tentang hubungan Yu-Na dan Ken, hubungan sang nenek dan kakek, hubungan yang abadi, dan hubungan yang mungkin tiba-tiba putus akibat takdir semisal kematian.
Dari dialog-dialog yang kadang penuh bisik atau pertengkaran keluarga, film ini memang sepertinya bicara soal keabadian dan ketiadaan yang mungkin tiba-tiba. Tentang ini, keabadian dan ketiadaan, diuraikan dengan penuh simbol pada adegan-adegan jenaka antara si penghobi foto yang bernama Ken dan kakek dari kekasihnya.
Melalui kesunyian seorang lelaki tua yang mengidap dementia, yang dalam film ini dimainkan sangat meyakinkan oleh aktornya (Ken Takemoto), kita disuguhi humor yang hadir begitu alami. Di hari jelang kematiannya sang lelaki tua melihat foto dirinya bukan dirinya karena tidak seperti dirinya.
Dia bertanya pada kekasih cucunya apakah dia berpikir foto itu dirinya. Ken, sang kekasih cucunya itu lalu berinisiatif untuk mengambil foto baru lelaki tua lalu mencoba menangkap momen pose dengan berbagai kemungkinan.
Salah satunya ia mengharap pose lelaki tua itu tersenyum namun sulit baginya. Ken menganjurkan lelaki tua membayangkan sesuatu yang bahagia, namun tak berhasil. Akhirnya ia menyarankan lelaki tua berkata cheese untuk membentuk senyum. Namun sulit bagi lelaki tua mengucapkan cheese. Lalu dia melempar usul untuk mengucap kimchi. Ken setuju, “Ya katakan kimchi,” katanya.
Awalnya lelaki tua mengatakan kimchi dengan kurang bergairah. Flat kimchi. Namun Ken menyuruhnya menahan kata kimchi agar lebih terbentuk senyum yang natural. Setelah beberapa kali, terdapat momen ketika lelaki tua bisa mengucapkan kimchi sesuai harapan namun Ken justru melewatkannya.
Bagi Ken persoalannya bukan lagi soal foto semata namun momen lelaki tua menikmati kata kimchi, sebuah kesadaran segar bagi ingatan yang rapuh. Film ini berakhir ketika foto lelaki tua yang bersanding dengan foto istrinya dicabut. Menunjukkan sang lelaki tua sudah meninggal.
Pertanyaan saya, foto manakah yang dipakai di pemakaman? Foto yang lelaki tua merasa bukan dirinya atau foto pose dengan kata kimchinya.
Sutradara Jackson di usai menonton di Rumah Sang Karsa mengatakan bahwa sesungguhnya foto dengan pose terbaik versi kata kimchi tak pernah ada. Ken hanya mengambil momen itu dengan hatinya. Sebab apalah arti sebuah foto lagi jika tak ada hatinya. Dan bagi Ken sebagai fotografer, momen itu cukuplah disimpannya dalam hati saja, itu membuat lelaki tua abadi di sana. (T)
“Ngiring je sareng-sareng dados Balian,” kata teman saya minggu lalu, saat ngopi di bawah rindang pohon bambu, siang di belakang rumahnya. Mimih, ucap saya spontan. “Kenapa harus...
TAHUN 1920-an sampai tahun 1950-an bisa dikatakan masa gemilang intelektualitas Buleleng, Bali Utara. Pada masa tersebut intelektual Buleleng bermunculan dan menerbitkan berbagai j...
MENJADI berbeda bukanlah suatu kesalahan karena itu merupakan anugrah dari Tuhan. Manusia diciptakan berbeda-beda oleh Yang Kuasa. Ketika seorang anak berbeda dari orang di sekitar...
Cerpen: Yusna Safitri BINTANG, pantai, dan kamu: tiga hal kesukaanku. Kencangnya angin malam tak membuatku malas untuk beranjak dari tempat tidurku. “22.30 WITA” “Pantai yuk,” aja...
Judul: Montase (Kumpulan Puisi) # Penulis: Wayan Jengki Sunarta # Penerbit: Pustaka Ekspresi # Tahun: 2016 # ISBN: 978-602-7610-73-6 PUISI bisa jadi apapun, apapun bisa jadi puisi....
DI KAMAR BLUES MASIH MENGALUN Dulu kita tak pernah percaya cinta "Cinta taik kucing!" katamu sambil mengacungkan botol bir ke langit memaki dia yang telah pergi Kini pun kita ta...
SEJUJURNYA, saya tidak tiba-tiba pandai menulis. Dari jalur genetik, tidak satu pun di antara kedua orang tua memiliki profesi penulis. Ayah seorang guru olah raga yang menjadi per...
BERKARYA hingga akhir hayat. Hal itulah yang dilakukan perupa Tedja Suminar. Perupa yang banyak memberikan pengaruh bagi ranah seni rupa di Bali dan Jawa Timur itu, tetap berkarya...
MARILAH kita tonton proses Pilkada sebagai sebuah seni pertunjukan drama. Kita mulai dari prosesi pendaftaran pasangan calon kepala daerah ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) 21-23 Sept...
Apakah aksara bisa dipentaskan? Naskah teater untuk generasi masakini berhadapan langsung dengan aplikasi bahasa digital maupun teknologi media. Ini memiliki kemungkinan efek balik...