Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
Komunitas Tepi Barat di Festival Tepi Sawah 2018[/caption]
Berbagai kegiatan ditampilkan guna menaik perhatian masyarakat dan menikmati kesenian dari sisi yang berbeda. Jujur saja, saya sendiri berfikir berulang kali untuk hadir ke tempat ini dan memilih menikmayi kopi sambil baca buku di Denpasar, toh rilis dan foto akan datang sendiri, namun itu semua saya buang jauh dan memaksa diri untuk "liburan" ke Pejeng.
Tidak susah mencari tempat acara sebab dekat dengan objek wisata Goa Gajah Museum Gedong Arca dan Tirta Empul. Okay saya ditemani 3 rekan jurnalis dua wanita perkasa dan lelaki tampan mirip ridho roma.
Pada dasarnya, dilihat dari tempatnya saja, event itu sudah sangat “menjual”. Suasananya yang asri, jauh dari asap kendaraan dan tentunya jauh dari kebisingan kota. Pemandangan di tempat ini sangat teramat indah, hamparan sawah dan sunset di atas persawahan pun sangat memanjakan pengunjung untuk berpikir jernih. Mungkin di sini juga bisa terlihat sunrise di sisi timur.
Ada tiga panggung termasuk satu panggung utama yang digunakan pementasan secara bergantian, juga untuk kegiatan workshop, yakni Panggung Uma (outdoor) dan Panggung Kubu (indoor). Saya lupa nama panggung yang lagi satu.
Festival berlatar belakang sawah ini seharusnya didukung penuh oleh pemerintah dan semua pihak, jangan dibiarkan begitu saja sebab mereka ini perlu support penuh karena misi yang mereka jalankan tidak saja hiburan tapi edukasi.
[caption id="attachment_8305" align="aligncenter" width="549"]
Pojok Baca di Festival Tepi Sawah 2018[/caption]
Bagaimana dalam sebuah festival tidak banyak melibatkan plastik, perokok yang kesannya biasa arogan dalam membuang sampah difasilitasi dengan penyediaan asbak portable yang bisa dibawa kemana-mana. Begitupun dengan tempat minuman dan makanannya, ada yang menggunakan bahan sekali pakai, ada juga yang bisa digunakan berulangkali.
Jadi saya sendiri memastikan festival ini bebas dari sampah plastik, tong sampahnya pun telah di sediakan berdasarkan jenis sampahnya. Yang menjadi favorit dalam festival ini adalah workshop vocal yang diisi oleh oenyanyi senior Trie Utami, Workshop menggambar oleh komunita Tepi Barat dan juga Workshop Jurnalisme.
Jadi kesimpulannya adalah festival ini tidak hanya menghibur orang dewasa namun bagaimana mereka ini menyelipkan edukasi serta melibatkan anak-anak dalam menumbuhkan minat bakat mereka.
[caption id="attachment_8306" align="aligncenter" width="552"]
Sanggar Ceraken di Panggung Uma Festival Tepi Sawah 2018[/caption]
Beberapa line up tampil menarik di atas panggung di antaranya Gamelan Ceraken, Genggong Kutus, Nuswantoro Trio, Lagu dan Lenong Betawi, Trie Utami dengan lantunan lagu-lagu pertamanya, dan garapan yang paling terakhir di mana berbagai artis berkolaborasi di dalamnya untuk mengenang Almarhum Chrisye dalam Tribute to Chrisye.
Dan tak banyak sepertinya yang tahu jika festival ini juga dihadiri oleh Haji Lulung untuk menyaksikan langsung pentas Lenong Betawi.
Dan. Meski diselenggarakan berbarengan dengan festival musik terbesar se Asia Tenggara, Festival Tepi Sawah tampaknya berada di kelas atas sebab pengunjung yang datang sebagian besar datang dari wisatawan manca negara. Mereka bisa ngorte (ngobrol), mebalih (menonton) dan melajah (belajar) dalam waktu yang bersamaan atau hampir bersamaan.
Kira-kira begitu, (T)
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...