17 Agustus 2016, Belum Semua Anak Indonesia Merdeka
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Penyalin lontar ini, saya hampir yakin, punya kesengajaan menipu pembeli (mungkin Pusdok mengupah atau membeli) lontar ini. Pada halaman pertama, kalimat pertama berbunyi sebagai berikut: "Buddha-gama". Kalimat selanjutnya tidak ada hubungan dengan judulnya, malah yang disalin selanjutnya, menjadi isi lontar ini, adalah 'Usada Wong Beling'.
Silahkan lontar bisa dilihat dan baca di link ini:
https://archive.org/stream/buddha-gama/buddha-gama-400ppi#page/n0
Lontar-lontar lain yang sangat-sangat berpotensi memunculkan konflik adalah beberapa lontar yang merupakan babad, prasasti, atau lontar yang disebut prasasti atau babad, tapi isinya adalah karya baru yang sangat meragukan. Tidak disertai keterangan apapun kalau babad, purana, atau yang disebut prasasti tersebut sumber dan tahun penulisannya. Penulisan ini memang terkesan ada kesengajaan menyamarkan isi lontar agar terkesan kuno.
Pembaca awam umumnya berasumsi, bahkan banyak percaya begitu saja, bahwa apa yang ada di lontar berasal dari ratusan tahun silam. Bagi kalangan awam lontar adalah sesuatu yang kuno. Padahal tidak sepenuhnya benar. Banyak lontar berjudul babad, purana, dan prasasti, muncul di tahun 1950-an, 1960-an, 1970-an, bahkan penulisan babad keluarga tertentu ada yang ditulis ulang tahun 1990-an yang tak lain revisi lontar sebelumnya, atau rangkuman lontar ditambahi data efigrafi hasil penelitian sarjana Belanda, dimasukkan dalam lontar tersebut, sehingga terkesan kuno dari segi bahasa dan juga isi.
Secara pribadi saya belajar banyak dari lontar-lontar koleksi Pusat Dokumentasi, tapi pesan saya: Jangan 100% mempercayai isi lontar-lontar tersebut, sebaiknya baca tuntas, lalu carikan lontar pembanding, setidaknya bisa dicek koleksi Gedung Kirtya atau tepat lainnya.
Ada beberapa yang sangat bermutu baik di Pusat Dokumentasi Bali, contohnya adalah lontar-lontar koleksi Gedung Kirtya yang kini tersimpan di Pusat Dokumentasi Bali (dulu kabarnya dipinjam dan belum dikembalikan ke Gedung Kirtya sampai kini) dan lontar-lontar tua lainnya, serta salinan para tokoh penulis yang sangat bisa dipertanggungjawabkan isinya, terlihat dari kolofon dan penulisannya yang konsisten menggunakan 'pasang pageh', disertai keterangan babonnya.
Secara umum saya bisa katakan 10% lontar dan atau salinan lontar serta transkrip lontar koleksi di Pusat Dokumentasi Bali meragukan, 90% bisa kita jadikan bagian pembelajaran yang berarti dan penting, sekalipun harus tetap dibandingkan dengan lontar sejenis dari tempat lain.
Apa yang perlu dikerjakan? Apa solusinya?
Koleksi lontar di Pusat Dokumentasi Bali sebaiknya dikurasi ulang, agar koleksi yang ada mempunyai kejelasan asal dan proses penyalinan, serta ditambahkan lontar bersumber dari lontar kuno (salinan lontar), karya baru atau buku, disebutkan dengan jelas siapa yang menjadi penyedian/pedagang/penulis lontar itu secara singkat.
Kerja ini adalah kerja detektif melacak kembali dari mana lontar-lontar itu diperoleh dan siapa yang menjadi penyalinnya, untuk kejelasan data naskah. Walaupun beberapa lontar ada keterangan penyalinan, pada kolofonnya, tapi tidak semua masyarakat bisa memahaminya.
Bagi para peneliti dan mahasiswa yang memakai acuan lontar-lontar atau transkrip di Pusat Dokumentasi Bali, sebaiknya melakukan perbandingan dengan lontar-lontar atau transkrip yang disediakan di Gedung Kirtya atau perpustakaan lainnya.
Ketidaktersediaan informasi terkait asal-usul lontar, ketidakberesan kuratorial, ketiadaan sinkronisasi kembali judul dan isi, serta tiadanya pengecekan isi di masa awal pengumpulan lontar sebagai tambahan koleksi Pusat Dokumentasi Bali, berpotensi menyesatkan pembacanya (yang umumnya krama Bali). Mahasiswa atau peneliti yang kurang peka atau tidak melakukan cross-checking isi, jika memakai lontar-lontar tersebut, berpotensi menyebarkan ketidakvalidan isi lontar-lontar yang isinya kurang meyakinkan tersebut.
*Catatan Harian, Sugi Lanus, 21 Agustus 2018.
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Semalam di tengah gempita dentuman suara sound sistem, saya mengkhayal dibayar 150 juta untuk mengajar 34 jam per minggu, wah pasti kaki saya tidak akan pernah pegal saat berdiri d...
KETIKA mengantar seorang teman untuk membeli sepatu sebagai keperluan bekerja di sebuah instansi pemerintah, kami sempat terlibat obrolan singkat yang pada intinya alas kaki tidak...
BANGKUNG mepalu adaang di Buleleng, jeg pasti rame! Asal gratisss! Iya, babi betina saling sruduk digelar di Buleleng, pasti ramai penontonnya. Apalagi Slank pentas gratisan. Kutik...
MENJELANG Hari Galungan biasanya banyak warga adat menggelar karya gede di Pura. Karya Gede di sebuah Pura merupakan hari yang ditunggu-tunggu warga. Di situ banyak orang akan mema...
ADA semacam mitos yang tampaknya bisa menghantui keluarga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Buleleng dalam Pilkada, Februari 2017. Yakni, kenyataan bahwa sejak era refor...
AKU adalah ruh sebuah negeri. Negeri nun jauh di sana. Tubuhku bersandar pada pegunungan yang berbaris rapi. Di hadapan mataku terhampar laut utara yang begitu tenang. Mungkin kare...
HALO, kawan sebangsa dan setanah air, sudah makan apa hari ini? Tahu? Tempe? Semoga Tuhan selalu memudahkan rejeki kita, agar tahu dan tempe selalu dapat terbeli. Tahu dan tempe m...
KISAH percintaan memang tak pernah habis jika dibicarakan. Virus-virus cinta dapat tumbuh di mana saja dan kapan saja. Tak seorangpun bisa menduga hal tersebut. Salah satu ajang ya...
I dan Ni oleh banyak orang dianggap title “wong jaba” padahal ini adalah honorific yang generic. I dan Ni adalah honorific. I semacam Mr dan Ni semacam Ms. I dan Ni bukan hanya di...